Tiga Poin Penting Rekomendasi Indonesia Retirement Outlook

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa yang dihasilkan dari #1 Indonesia Retirement Outlook (IRO) 2018? Inilah 3 poin penting rekomendasinya

Semua orang tidak ada yang menyangkal. Bahwa program pensiun penting. Bahwa menyiapkan dana pensiun untuk masa pesniun yang sejahtera pun penting.

 

Diskursus pentingnya mengoptimalkan industi dana pensiun di Indonesia sebagai urat nadi kesejahteraan masa pensiun dan pendanaan jangka panjang tercermin dalam penyelenggaraan Seminar Internasionl #1 Indonesia Retirement Outlook (IRO) pada 24-25 Oktober 2018 di Hotel Bidakara Jakarta. Dengan menghadurkan 19 pembicara yang kompeten dan di depan 300 peserta, IRO 2018 yang digagas oleh Perkumpulan DPLK (PDPLK) dan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) serta difasilitasai DSS Consulting ini mengambil tema "Revitalisasi Program Pensiun sebagai Indikator Kemajuan Negara dan Alternatif Pendanaan Jangka Panjang".

 

Dengan mempertimbangkan, UU No. 11/1992 tentang Dana Pensiun yang telah melebihi seperempat abad, aturan ini perlu disempurkan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman di era milenial. Apalagi menyongsong era Revolusi Industri 4.0/ Belum lagi, tingkat inklusi keuangan dana pensiun di Indonesia yang tergolong masih sangat rendah, hanya 4,6% (OJK, Des 2016) dari sekitar 50 juta pekerja formal dan 70 juta pekerja informal di Indonesia. Hasil riset pun menunjukkan bahwa 70% orang Indonesia mengalami masalah keuangan di masa pensiun. Realitas itulah yang menjadi alasan perlunya upaya revitalisasi program pensiun di Indonesia. Agar dana pensiun mampu menjadi alternative pendanaan jangka panjang untuk pembangunan nasioanl, di samping dapat memastikan kualitas dan kesejahteraan pekerja di masa pensiun, di masa tidak bekerja lagi.

 

Apa yang terjadi di Seminar Internasional #1 Indonesia Retirement Oulook (IRO) 2018?

Fiona E. Stewart (Lead, Financial Sector – World Bank) dalam pemaparannya menyebutkan bahwa industri dana pensiun seharusnya dapat lebih maju dari sekarang. Oleh karena itu, beberapa hal yang harus menjadi perhatian antara lain: 1) perlu adanya pemikiran yang holistik tentang dana pension; produk pensiun yang ada seharusnya tidak didasari atas “persaingan” tapi “pemenuhan manfaat kelayakan hidup di masa pensiun”, 2) perlu adanya terobosan  yang inovatif untuk menjangkau sektor informal, khususnya dalam pemanfaatan akses teknologi, 3) perluanya regulasi atau aturan yang mendukung investasi jangka panjang, 4) mampu membuat instrumen investasi untuk memenuhi kebutuhan dana pensiun, dan 5) memastikan berjalannya tata kelola dan pengawasan yang kuat di industri dana pensiun.

 

Di sisi lain, Hariyadi Sukamdani (Ketua Umum APINDO) menyatakan perlunya Industri Dana Pensiun untuk bersiap menghadapi masa depan, dana pensiun harus lebih banyak berinvestasi dalam teknologi keuangan(financial technology/fintech) untuk lebih memudahkan peserta dalam mengelola dan memantau dana pensiun mereka. Karena akses teknologi ini akan membuat dana pensiun menjadi lebih menarik di mata peserta. APINDO pun sangat berkomitmen terhadap industri dana pensiun. Namun APINDO tetap memandang perlu adanya harmonisasi dan sinkronisasid itataran regulasi atau payung hukum dan teknis pelaksanaan Program Jaminan Pensiun dengan pengaturan tentang Pesangon, JHT dan DPLK serta DPPK, sehingga terintegrasi semua. Oleh karena itu, APINDO memiliki komitmen untuk 1) mendorong perkembangan industri dana pensiunyang saat ini relatif kecil (Rp. 266 triliun, 11,7% dari total dana IKNB dan 1,85% terhadap PDB). Hal ini dapat dilakukan lebih efektif bila harmonisasi regulasi Dana Pensiun dengan Pesangon dan Jaminan Hari Tua telah dilakukan dan 2) pemanfaatan bonus demografi yang akan terjadi sekitar tahun 2035 untuk meningkatakan jumlah peserta dari Dana Pensiun. Program sosialisasi dan promosi tentang Dana Pensiun harus dilakuan dengan baik, khususnya menggarap kepesertaan Dana Pensiun dari kaum millenial.

 

Lalu, apa yang dihasilkan Seminar Internasional #1 Indonesia Retirement Oulook (IRO) 2018?

Steven Tanner selalu Ketua Komite Pengarah IRO 2018 dalam kata penutupnya merekomendasikan 3 poin penting dalam #1 Indonesia Retirement Outlook (IRO) 2018 adalah sebagai berikut:

1. Industri dana pensiun jangan terlalu banyak mengeluh. Seluruh pemangku kepentingan cukup melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing. Apa artinya potensi besar dan dana pensiun bisa menjadi alternatif pendanaan jangka panjang apabila hanya bertumpu pada masalah bukan solusi. Maka ke depan, setiap pemangku kepentingan di industri dana pensiun perlu mengambil peran lebih akatif dan lebih besar untuk memajukan dana pensiun.

2. Industri dana pensiun perlu bekerja lebih keras, khususnya dalam edukasi dan sosialisasi tentang akan pentingnya program dana pensiun bagi masyarakat dan pekerja di Indonesia. Dana pensiun sebagai program untuk menyiapkan hari tua yang sejahtera bukan hanya penting, namun harus bisa dan mudah dimiliki oleh seluruh kalangan yang berminat. Kemudahan akes kepesertaan patut menjadi perhatian industri dana pensiun.

3. Perlu adanya revitalisasi dana pensiun dalam berbagai sektor, termasuk untuk melakukan revisi terhadap regulasi dana pensiun yang saat ini mungkin sudah kurang relevan dan membutuhkan penyesuaian sesuai dengan dinamika di era milenial. Penyelenggara dana pensiun, pemberi kerja, dan pekerja harus menjadikan dana pensiun sebagai “iktikad baik” untuk menjadi solusi masa pensiun bagi banyak orang, dengan tetap didorong oleh regulasi yang kompetitif dan memadai. Dana pensiun, pastinya mampu menjadi alternatif pendanaan jangka panjang sebagai indikator kemajuan negara, di samping mampu menyejahterakan pekerja di masa pensiun ketika saatnya tiba.

 

Sebagai ajang seminar internasional terbesar dan paling komprehensif pertama kali di Indonesia, IRO 2018 diharpakan mampu memberi kontribusi demi tercapainya pertumbuhan industri dana pensiun yang lebih baik lagi di masa mendatang. Agar dana pensiun di Indonesia, mampu menemukan skema yang lebih pas di tengah dinamika zaman di samping mampu menjawab ekspektasi pekerja dan masyarakat Indonesia … #IRO2018 #YukSiapkanPensiun

Bagikan Artikel Ini
img-content
mintardjo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler