Diaspora Restaurants Populerkan Masakan Indonesia

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Wonderful Indonesia mengundang 100 diaspora chef dan restoran yang berada di luar negeri, untuk mengikuti Wonderful Indonesia Gastronomy Forum pada tanggal

Pertama kalinya Wonderful Indonesia mengundang 100 diaspora chef dan restoran yang berada di luar negeri, untuk mengikuti Wonderful Indonesia Gastronomy Forum pada tanggal 22 – 23 November 2018, Aryaduta Hotel, Jakarta Pusat. Bertujuan mempopulerkan masakan Indonesia ke lidah masyarakat dunia.

Presiden Republik Indonesia, Jokowi, pernah mengatakan bahwa diplomasi terbaik di dunia secara sosial budaya maupun ekonomi adalah melalui kuliner. Ditambah penjelasan Vita Datau Messakh, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata RI, yang membenarkan strategi tersebut sudah dibuktikan oleh beberapa negara di Asia.

Ketika orang menikmati kuliner, mereka akan bertanya dari mana makanan tersebut dan hal ini akan mengundang rasa ingin untuk mengenal lebih jauh dengan berkunjung ke Indonesia.

Namun, mempromosikan kuliner Indonesia tidah semudah men-jentik-an jari tangan. Bisa dikatakan para pengusaha restoran dan chef yang berada di luar negeri, masih berjalan sendiri di garis front line. Tantangan yang dihadapi di setiap negara pun berbeda, terutama soal bahan-bahan makanan. Chef William Wongso saja membawa bumbu rendang dari tanah air, jika memasak di luar negeri—kencur, daun salam, dan kemiri yang sulit ditemukan di luar negeri. Dan masalah tidak seputar bumbu-bumbu masakan saja, tapi kekhawatiran pelaku kuliner terhadap selera orang asing, terutama orang putih yang tidak menyukai rasa pedas.

Kekhawatiran maupun ketakutan tersebut membuat kita tersadarkan, mengapa wasabi dan masakan Thailand lebih diterima di luar negeri daripada kuliner Indonesia. Permasalahan juga menyangkut, manajemen, hospitality, dukungan pemerintah, dan banyak lagi. Mengenai dukungan pemerintah, salah satu dari 130 co-branding partners yang dibentuk untuk mempromosikan kuliner Indonesia: produk santan olahan kelapa yang awalnya banyak digunakan Diaspora Restaurant. Mendapatkan persaingan dari produk santan asal Thailand yang mendapatkan dukungan pemerintahnya terhadap local product, sehingga harga jual lebih murah 50% dibandingkan harga jual produk santan dari Indonesia.

Maka, Wonderful Indonesia Gastronomy Forum membagi 6 sesi setiap harinya untuk membahas dan mengetahui kebutuhan para Diaspora—sesi pada hari kedua: We will thrive, Spices and ingredients management, Attracting and retaining specialist talents, Business matching, Investment and export finance for Indonesian restaurateur, dan Future of Indonesian restaurant in global market place.

Pada sesi pertama, Chef Agus Hermawan, Ron Gastrobar, Belanda, Chef Widjono Purnomo, Yono’s Indonesia Fine Dining, USA, Nina Hanafi, Djakarta Bali, Peranmsic, David Tjoe, Ubud, Australia, dan Alicia, Sendok Garpu, Australia membagikan pengalaman dalam menjalankan usaha kulinernya, serta motivasi.

Menurut keenam narasumber di atas, menjalankan usaha kuliner bukan sekadar menyajikan makanan enak, hal pertama: kita harus cinta dengan masakan kita. Cinta pun perlu dirawat secara baik. Lalu, bagaimana caranya?

Nina Hanafi bilang pelaku kuliner harus konsisten, inovatif, mengulik makanan, dan perlu adanya marketing communication untuk membantu promosi dan penjualan. Chef Agus Hermawan mengatakan, “Makanan enak harus satu paket dengan ambience restoran, hospitality, dan story behind the food. David Tjoe menambahkan, ia kerap menekankan pada stafnya bahwa restoran milik bersama, sehingga restoran dapat berkembang.

“Kita pun sesama pelaku kuliner harus berpegangan tangan dalam mempopulerkan masakan Indonesia,” ujar David Tjoe penuh semangat.

 

Pengalaman Chef Agus Hermawan dan Rustono Tempeh

 

Secara terpisah, berbicara di luar sesi dengan Chef Agus Hermawan, Ambassador of The Indonesian Cuisine dan Rustono “The King of Tempe”. Ada hal menarik dari pembicaraan mereka yang bisa menjadi kesimpulan dari 6 rangkaian sesi dan langkah dasar mempopulerkan masakan Indonesia.

Menariknya lagi, profesi awal Chef Agus Hermawan ialah akuntan, sedangkan Rustono saat memulai usahanya, dia tidak tahu sama sekali cara membuat tempe. Mulanya, mereka tidak ahli, tapi sekarang mereka menjadi ahli di bidangnya.

Chef Agus Hermawan mengaku, sebelum memasak, dia harus tahu filosofi dan karakter makanannya. Seperti halnya berkenalan dengan wanita cantik, seseorang perlu melakukan penjajakan untuk dijadikan pasangannya. Baginya mengenal bahan dan bumbu masukan itu wajib, sehingga keseimbangan rasa itu ada dan pemasak jadi mampu berinovasi. Hal tersebut merupakan langkah pertama. Cinta itu datang dari proses. Tak ada koneksi, tidak ada cinta dan proses. Tidak saja terkoneksi pada makanan, melainkan hubungan dengan para tamu restoran.

Ambience yang nyaman dan menyenangkan, ditambah bercengkerama dengan tamu-tamu restoran merupakan nilai plus. Suasana restoran harus hidup! Di Ron Gastrobar, tempatnya bekerja, semua kalangan bisa datang dan mencicipi masakan Indonesia. Sebab, selain harga yang tidak mahal, rasa masakan yang otentik, dan suasana yang fun dan tidak formilmembuat pengunjung datang dan datang kembali ke restorannya. Agar masakan Indonesia kental dalam ingatan foodies di Belanda, Chef Agus memberikan nama menu makanan menggunakan Bahasa Indonesia dan menyediakan sambal bar (5 macam) yang menunya diganti setiap 2 minggu sekali dan pengunjung resto bisa memakan sepuasnya.

Memang orang Belanda banyak yang menyukai makanan pedas, perihal ini tidak menjadi tantangan di negeri Belanda. Namun, akan menjadi tantangan buat masyarakat Chicago dan lainnya yang belum terbiasa dengan rasa pedas. Untuk pengenalan memang perlu penyesuian bumbu.

Pada menu sambal Ron Gastrobar menyediakan sambal dengan rasa tingkat kepedasan yang berbeda: sedikit pedas, pedas biasa/normal, dan sangat pedas. Pun Chef Agus akan bercerita, misalnya makanan Menado itu pedas, kalau tidak pedas itu bukan masakan Menado. Telling the story itu penting.

Serupa dengan Rustono, malah selama 5 tahun mengalami penolakan saat menjual tempe. Bagi Rustono, kekuatan impian dan story adalah penting. Uniknya, pada era serba modern dan menetap di negara maju, Rustono tidak menjual produk tempenya melalui social media, melainkan door to door dan mouth to mouth.

Sebelum usaha tempenya memiliki 900 distributor di Jepang, dia mengalami penolakan yang justru meneguhkan hati dan pikirannya. Dia tidak peduli siapa pembeli tempenya, entah itu Ibu rumah tangga, anak kost, ataupun restoran besar. Juga membeli peta dan berkata, “Suatu hari tempe saya bakal dikenal di Tokyo, Hokkaido, dan kota-kota lain di Jepang. Setelah itu tempe harus mendunia!”

Kekuatan impian yang membawanya pada tujuan dan target jangka panjang. Sedikit demi sedikit, hasil penjualan terkumpul, kemudian dia membangun lantai 2 di gudang yang disewanya yang terletak di pegunungan. Saat itu musim dingin minus 10 derajat dan seseorang melihat Rustono berdiri di atap gudang. Orang itu bertanya, “Mengapa dia berdiri di atas atap saat orang lain sedang menghangatkan tubuh di depan pemanas?”

“Saya sedang membangun impian,” jawab Rustono.

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya. Esoknya, orang itu datang kembali dan melihat Rustono mengerjakan hal sama. Lalu Rustono turun dan berjabat tangan dengan orang itu yang ternyata seorang jurnalis yang ingin mem-publish-kan ceritanya.

Kisah Rustono yang sedang membangun impian dimuat satu halaman penuh oleh koran terkenal di Jepang. Setelah dipublikasikan, cerita Rustono tersebar di seluruh penjuru Jepang dan dia menjadi popoler. Otomatis pembaca penasaran dengan apa yang dijualnya, yaitu TEMPE. Dari peristiwa itu, Rustono sadar, dalam bisnis bukan produk yang dijual, tapi story-nya.

“Orang senang dengan story, bukan produk,” sekali lagi Rustono menegaskan. Story dan hubungan antar manusia adalah dua hal yang memelihara usaha tempenya, cintanya.

Chef Agus dan Rustono pun sepakat, uang bukan segalanya, menjalankan bisnis kuliner tidak bisa hanya memikirkan dari segi keuntungan bisnis saja. “Kalau sudah cinta, uang tidak masalah!”

Terus menerus memikirkan masalah juga tidak menemukan jalan keluar, solusi yang harus dipikirkan. Kemudian goals dan plans.

Sekali lagi kami bertanya, bagaimana mempopulerkan makanan Indonesia? Dari Chef Agus dan Rustono serta beberapa peserta yang hadirnya, jawabannya sama:

  1. Punya impian kuliner Indonesia bakal mendunia. Titik tidak ada koma.
  2. Terus bercerita
  3. Eksplor masakan dan memasaknya dengan bahagia

Lalu, apa yang dimaksud dengan makanan enak itu? Adalah makanan yang mengental dalam ingatan. Dan makanan enak itu satu paket dengan apa yang dikatakan Chef Agus dan Rustono.

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sari Novita

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sawit adalah Kita, Begitukah?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua