Bumi Mutiara Hitam yang Mulai Bersinar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Daeng

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bumi Mutiara Hitam yang Mulai Bersinar

    Setelah 22 tahun silam, tepatnya tanggal 1 Desember 2018, Bumi mutiara hitam kembali berduka dengan kasus penembakan yang dilakukan oleh kelompok kriminal

    Dibaca : 1.728 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setelah 22 tahun silam,  tepatnya tanggal 1 Desember 2018, Bumi mutiara hitam kembali berduka dengan kasus penembakan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dilakukan terhadap 31 warga sipil pekerja PT Istika karya yang sedang melakukan pembangunan trans Papua.

    Kejadian tersebut menyita perhatian masyarakat luas khususnya Bpk. Esau Baab, STH., selaku Ketua Dewan Adat dan Ketua FKUB Kabupaten Supiori yang mengecam aksi brutal yang dilakukan oleh KKB. Banyak Toga dan Tomas yang mengecam aksi tersebut, dan mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan upaya untuk memisahkan diri dari NKRI.

    Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Papua merupakan bagian dari kedaulatan NKRI sejak mendeklarasikan diri pada tanggal 28 Oktober 1908 pada saat sumpah pemuda di Jakarta yang diwakili oleh Johannes Leimena perwakilan dari organisasi Jong Ambon, karena adanya keinginan kuat untuk merdeka dari penjajahan Belanda, kemudian diperkuat oleh Kongres Malino 1946 yang dihadiri Frans Kaisiepo selaku delegasi dari Papua mendukung wilayah Papua diintegrasikan ke dalam Negara Indonesia Timur (NIT).

    Hal senada disampaikan oleh Ramses Ohee (tokoh pejuang Pepera 1969) Iya mengatakan bahwa Papua merupakan bagian dari wilayah NKRI yang terbentang dari Sabang sampai dengan Merauke dan NKRI merupakan anugerah buat tanah Papua.

    Ramses juga menjelaskan pada Pepera (penentu pendapat rakyat) 69 Ada sekitar seribu lebih tokoh adat Papua dari pantai, lembah, dan gunung turut dalam Pepera 69 itu, hasil dari pepera tersebut menegaskan keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI adalah final, kemudian hasilnya dibawa ke PBB untuk selanjutnya disahkan, artinya kita sudah final bergabung dengan NKRI.

    Adanya aksi teror dan aksi brutal yang dilakukan oleh KKB terhadap masyarakat Nduga merupakan upaya makar terhadap NKRI, kehadiran mereka sebenarnya ditentang oleh seluruh masyarakat Papua. Mereka mengatakan bahwa kehadiran KKB sangat meresahkan roda kehidupan mereka, dengan banyak berita bohong tentang Papua dan mengatas namakan amanat penderitaan rakyat Papua. Sesungguhnya Papua sedang bergeliat maju dengan perhatian dari pemerintah Republik Indonesia.

    Pembangunan infrastruktur sudah mulai menjadi perhatian pemerintah pusat seperti pembangunan jalan transpapua, jembatan Holtekam, bandara Sentani setingkat Bandara Internasional dan pemerataan harga. Putra daerah Papua mulai banyak yang maju dan berprestasi membanggakan Papua. Sudah ada beberapa menteri yang diangkat dari Papua.

    Sebut saja Yohana Yembise, Fredi Numberi, Hans Jacobus Wospakrik, Septinus George Saa, Boaz Salosa, Oktovianus Maniani, Pitus Bonai dan masih banyak tokoh berpretasi lain yang membanggakan berasal dari Papua. Hal ini membuktikan bahwa orang Papua tidak menjadi kaum marginal dalam Indonesia. Namun sama-sama sebagai anak bangsa yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

    Kami berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh Saudari Veronica Koman tentang kondisi Papua merupakan berita yang tidak tepat yang dapat mencederai kehidupan berbangsa dan bernegara. Pernyaatan verinonica adalah bentuk “Pesimisme” dalam upaya pembangunan Papua dan merupakan hal yang kontra produktif dengan semangat yang tengah gencar di gaung oleh pemerintah Indonesia dalam membangun Papua.

    http://www.kilasnews.com/2019/01/14/bumi-mutiara-hitam-yang-mulai-bersinar/

    Ikuti tulisan menarik Daeng lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.