Solilokui Sepeda - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Solilokui Sepeda

    Dibaca : 932 kali

    Judul: Solilokui Sepeda

    Penulis: Purwanto Setiadi

    Tahun Terbit: 2018

    Penerbit: Buring Printing

    Tebal: xxvi + 164

    ISBN:


    Perkenalanku dengan Purwanto Setiadi (Pur) – penulis buku ini terjadi pada tahun 1983. Saat itu kami kuliah di UNS Solo. Kami beda fakusltas. Saya di Fakultas Pertanian, Pur di Fakultas Ekonomi. Kami kost di tempat yang sama. Kamar Pur di depan kamar saya. Pur adalah seorang pendiam. Ia tak sering nongkrong bersama anak kost lain saat tiada kuliah. Ia lebih sering berada di dalam kamar atau di depan kamar membaca buku. Pur adalah seorang yang suka musik dan suka main gitar. Beberapa sore dalam seminggu ia melantunkan instrumen klasik dari gitarnya. Di dalam kamar kost.

    Karena kamarnya persis di depan kamar saya, maka saya selalu bisa memperhatikannya. Terutama kegemarannya membaca buku. (Saya juga gemar membaca buku tapi saat itu tak kuat membeli buku). Kulihat kamarnya penuh buku. Maka suatu hari saya beranikan diri untuk masuk ke kamarnya dan meminjam buku. Saya meminjam “Menulis Dalam Air” yang didalamnya saya dapat informasi bahwa Rosehan Anwar terkejut akan keislaman di Jawa. Saya juga meminjam “Mushashi” yang saat itu masih terbit berjilid. Tentu buku-buku lain pun saya pinjam darinya. Pur memang seorang kutu buku yang sekaligus gila membeli buku. Uang sakunya sering terkuras untuk belanja buku.

    Ketika kudengar ia memutuskan untuk bersepeda ke kantor saya tidak terlalu terkejut. Ia pasti menikmati kesendiriannya di atas sepeda di tengah kebisingan Ibu Kota. Tentu ia mendapatkan setidaknya satu setengah sampai dua jam per hari untuk bermenung di atas sepedanya, seperti dulu kebiasannya mendekam di kamar kostnya. Bukankah menyelinap dengan sepeda diantara kemacetan jauh lebih sehat secara psikologis dariapda emosi karena macet dan terpenjara di sebuah kotak bermesin?

    Saat saya melihat ia menerbitkan buku tentang sepeda, saya langsung tertarik. Maka saya memesannya supaya saya mendapatkan sebuah bukunya. “Mohon disertakan tanda-tangannya ya,” demikian permintaan saya. Dan Pur mengabulkannya.

    Saya sudah menduga bahwa buku ini dilengkapi dengan kutipan-kutipan untuk mengujarkan pendapat-pendapat para pesepeda, pejuang sepeda dan contoh-contoh kota yang ramah pesepeda. Bukankah ia seorang pembaca ulung? Benar saja. Di buku ini kudapati berbagai informasi dari buku, jurnal, blog dan jenis penerbitan lainnya yang bersinggungan dengan per-sepeda-an. Sepeda ternyata bisa menjadi sarana gerakan sosial seperti halnya yang terjadi di Palestina dan di Jerman.

    Buku ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama adalah tentang mengapa Pur kembali bersepeda. Bahkan memutuskan untuk meninggalkan kotak penjara (istilah yang dipakai oleh Pur untuk menyebut mobil). Ia mengungkapkan berbagai manfaat bersepeda selayaknya seorang pemuda yang jatuh cinta kepada gadis pujaannya.

    Bagian kedua buku ini berkisah tentang sepeda sebagai alat transportasi. Ia mengujarkan bahwa sesungguhnya sepeda bukanlah sekedar alat rekreasi atau hobi. Sepeda seharusnya kembali kepada fitrahnya, yaitu sebagai alat transportasi. Bukankah beberapa kota sudah menunjukkan bahwa menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama banyak gunanya?

    Bagian ketiga adalah pengungkapan pengalaman Pur bersepeda ke kantor. Memilih sepeda sebagai alat transportasi ke kantor di Jakarta adalah keputusan yang gila. Sebab Jakarta memang tidak nyaman kepada pesepeda. Bahkan bisa dikatakan Jakarta arogan kepada para pesepeda. Ancaman kecelakaan dari para pemotor dan pemobil begitu nyata. Namun Pur meyakinkan bahwa bersepeda di tengah belantara Jakarta adalah sebuah kenikmatan.

    Bagian keempat membuktikan bahwa Pur juga bisa menikmati sepeda. Ia membagikan pengalamannya melakukan touring ke berbagai tempat. Pengalamannya bersepeda di Taman Nasional Meru Betiri adalah salah satunya. Sebagai pesepeda Pur juga membagikan pengalamannya mengurus sepedanya. Ia berbagi tentang bagaimana menangani sadel yang kurang nyaman dan bagaimana memindah gigi saat menanjak layaknya seorang yang telah akrab dengan sepeda.

    Nikmatilah perjalananmu dengan sepeda Pur. Jangan lupa sesekali berhenti untuk ngopi, seperti engkau berhenti membaca dan memainkan instrumen klasik melalui gitarmu saat dikau masih di “El-Torro” tempat kos kita.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.