Standar Etika, Kapabilitas dan Kapasitas yang Rendah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Peristiwa di Istora Senayan sekali lagi membuktikan kapasitas dan kapabilitas Jokowi memang rendah, Akibantya, dalam 4 tahun terakhir Indonesia memburuk.

 

Capres nomor urut 01 Jokowi tampak sangat menikmati saat dia mengucapkan kata bocor. Begitu antusiasnya mantan tukang mebel asal Solo ini, hingga dia terus mengulang-ulang kata ‘bocor’ hingga 12 kali. Bukan itu saja, repetisi  itu dilakukan dengan tempo yang makin lama makin cepat dan nada kian tinggi. Ditingkahi dengan sorak-sorai yang kian membahana, Jokowi yang diberi gelar Cak Jancuk  oleh para pendukungnya di Jawa Timur, memang makin semangat mengucapkan kata bocor tadi.

Cak Jancuk memang tidak menyebut nama saat mengulang-ulang kata itu di hadapan sejumlah alumni SMA se-Jakarta yang mendukungnya di Istora Senayan, Jakarta, Ahad, (10/2). Tapi siapa pun pasti mahfum, bahwa dia tengah menyerang Prabowo Subianto, rivalnya dalam perebutan kursi Presiden 2019. Ada aroma olok-olok yang menyengat dari adegan tadi. Juga, ada roman kepuasan penuh di wajah si pelaku.

Seperti diketahui, sebelumnya Prabowo menyatakan 25% anggaran pemerintah bocor. Hal itu antara lain disebabkan oleh maraknya mark up yang dilakukan segelintir orang. Dengan APBN sekitar Rp2.000 triliun, potensi kehilangannya mencapai Rp500 triliun.

Membaca adegan di Istora Senayan tersebut wajar saja jika publik jadi kian prihatin. Pasalnya, kualitas Capres yang juga petahana ternyata cuma sampai di situ saja. Mengolok-olok lawan dengan wajah dilumuri rasa puas yang total jelas menunjukkan mutu yang bersangkutan. Tidak ada substansi yang bisa dia sodorkan sebagai antitesa dari tesis yang diajukan lawan. Langkah paling jauh yang bisa Cak Jancuk lakukan hanya bertanya, “datanya dari mana?”

Saya jadi ingat ucapan ekonom senior Rizal Ramli. Menurut Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, para pendukung Jokowi ini hanya memiliki tiga hal sebagai Standard Operating Procedure (SOP). Pertama, modal utamanya ngotot. Kedua kalau ngototnya selesai mereka minta mana datanya, faktanya. Giliran sudah dikasih data, mereka bilang itu hoax. Terakhir, sudah laporkan saja.

Kacang lupa kulit

Melihat apa yang dilakukan Presiden yang lebih memilih lari ke pasar tradisional untuk ngulik soal tempe ketimbang menemui ratusan guru honorer yang demo dan nginap beberapa malam di depan Istana itu, apa yang dikatakan Rizal Ramli menemukan pembenaran. Di Istora Senayan, si Capres petahana memulai dengan mengolok-olok sebelum minta data.

Cak  Jancuk juga tidak peduli, bahwa lawan yang diolok-olok itu adalah orang yang telah sangat  berjasa membawanya dari kota kecil Solo. Orang itu pula yang mencalonkan dan membiayai dia maju ke Pilgub DKI. Sampai di sini saja, orang dengan gampang bisa mengatakan, bahwa Kepala Negara yang sering absen di forum internasional itu tipe ‘kacang lupa kulit’.

Tapi, kita tidak ingin bicara soal kacang dan kulit. Kembali soal kebocoran anggaran yang diolok-olok tadi. Faktanya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo tidak membantah adanya kebocoran anggaran negara. Namun dia menolak jika dikatakan jumlahnya mencapai 25%.

Saya kira soal anggaran bocor ada di mana-mana ya, tapi tidak mungkin kalau sampai sebesar itu," ujar anak buah Presiden yang pernah berjanji akan menyetop impor produk pertanian saat kampanye 2014 silam, di Jakarta, Senin (11/2).

Pengakuan senada juga datang dari Wapres Jusuf Kalla. Dia tidak menampik adanya kebocoran anggaran pemerintah seperti yang diungkapkan Prabowo. Kebocoran ini di antaranya ditandai dengan penangkapan aparat pemerintah terkait kasus korupsi yang marak belakangan. Kalau tidak bocor, lanjut Kalla, kenapa banyak aparat pemerintah yang ditangkap?

Perihal kebocoran anggaran juga diamini Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih. dia mendapat informasi bahwa pengelolaan keuangan daerah selama ini bukannya membaik, tetapi justru memburuk. Korupsi kebocoran keuangan (di pemerintah daerah) bisa mencapai 20%-40%. 

Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Alexander Marwata, membenarkan besaran nilai itu. Angkanya muncul dari perkiraan berdasar nilai kerugian negara yang terungkap dalam proses persidangan selama ini. Lembaga antirasuah tersebut menyatakan, pengelolaan keuangan pemerintah daerah belum sepenuhnya efektif dan efisien. Aparat penegak hukum masih menemukan adanya kebocoran anggaran yang disebabkan oleh korupsi.   

Jadi, soal bocornya anggaran seperti yang dipaparkan Prabowo sejatinya bukanlah isapan jempol belaka. Kejahatan korupsi benar-benar ada dan menggurita di negeri ini. Dari rezim ke rezim korupsi selalu ada dan tumbuh subur. Di era Jokowi, juara korupsi adalah kader-kader dari PFIP dan Golkar, dua parpol pengusung utamanya di kabinet dan parlemen.

Dengan demikian, jelas amat tidak bijak jika Cak Jancuk justru mengolok-olok orang yang memperingatkan bahaya bocornya anggaran. Sebagai Capres petahana, tentu dia paham dan tahu persis, bahwa korupsi memang ada di setiap era. Apa ruginya mengakui kebenaran peringatan orang lain, bahkan walau yang bersangkutan adalah sang rival? Gengsi?

Ini adalah standar etika dan sikap yang dibutuhkan seorang negarawan. Kalau perkara dasar ini saja sudah tidak punya, apa yang bisa diharapkan dari orang seperti ini? Jika dipaksakan menjadi pemimpin, apalagi Presiden, rakyat sudah merasakan akibatnya dalam empat tahun terakhir. Atmosfir Indonesia dipenuhi dengan pencitraan dan janji-janji yang tak direalisasi.

Indonesia adalah negara besar dengan seabrek persoalan yang juga besar. Butuh pemimpin dengan kapabilitas dan kapasitas mumpuni. Pemimpin yang punya visi jauh ke depan dengan gagasan-gagasan besar, out the box, dan mampu mendeliver janji-janjinya. Bukan pemimpin yang sibuk dengan hal-hal remeh, pencitraan dan pembohongan, atau sibuk menyenangkan pihak asing dan aseng.

Sampai di sini makin benderang, bahwa kapabilitas dan kapasitas orang yang pernah berjanji akan mempersulit masuknya investasi asing saat debat Pilpres 2014 silam itu, memang cuma sampai di situ. Ibarat mobil ferari, kapasitas dan kapabilitasnya baru sampai pada level  pengemudi bajaj. Meminjam kalimat wartawan senior Asyari Usman, kapasitas dan kapabilitas Cak Jancuk memang tidak sampai. Jokowi telah gagal.

Jakarta, 12 Februari 2019

Edy Mulyadi, wartawan senior

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
edy mulyadi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler