x

Iklan


Bergabung Sejak: 1 Januari 1970

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Agitasi Senyum Jelang Pilpres 2019

Medsos kian memanas. Pilihan kita berbeda. Jangan lupa tetap senyum jelang pilpres

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

2 minggu jelang pilpres 2019 itu situasi yang sulit untuk “senyum”.

Susah tersenyum, Karena pilpres, otot makin menguat. Argumen kian sentimen. Saling menuding, saling membenci. Bisa jadi, pilpres bukan lagi demokrasi. Tapi agitasi. Penuh hasutan, semarak hujatan.  Senyum pun terkontaminasi.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Senyum jelang pilpres. Hampir lenyap.

Gara-gara beda pilihan kok bikin sulit tersenyum. Gara-gara gak sama, kenapa gak boleh beda. Tersenyumlah dulu. Karena piplres itu bukan pilihan rasional. Tapi pilihan emosional. Sangat subjektif dan personal. Jangan lupakan senyum karena hendak “memaksa” lawan politik. Mantapkan pilihan jelang piplres. Tanpa perlu dipengaruhi siapapun apalagi ingin mempengaruhi siapapun. Senyum jelang pilpres.

 

Senyum jelang pilpres. Harus tetap ada.

Jangan biarkan, senyum hilang dari diri kita. Hari ini ataupun esok, bahkan semenit pun jangan tidak tersenyum. Karena senyum itu, pekerjaan paling sederhana yang dampaknya luar biasa. Kadang, senyum itu satu-satunya yang mampu mengubah segalanya menjadi lebih indah.

 

Saat bermain handphone saja, kita bisa tersenyum sendiri. Saat bertemu orang yang tidak dikenal saja bisa tersenyum simpul. Apalagi bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Tersenyumlah jelang pilpres.

 

Senyum jelang pilpres. Gak ada hubungannya dengan medsos yang memanas. Gak ada hubungannya dengan cinta atau benci kepada capres pilihan. Karena senyum justru “mendinginkan” hati yang kian gelisah; pikiran yang kian egois; hidup yang kian menggeliat.

 

Senyum. Senyum jelang pilpres.

Senyum itu hal sederhana yang paling banyak dimiliki orang. Senyum bisa dimiliki siapapun. Tapi sayang, masih banyak orang yang sulit berbagi senyum untuk orang lain. Kita tidak diminta berbagi uang, bukan berbagi harta. Apalagi berbagi pangkat dan kekuasaan.  Pasti kita tidak mau. Kita hanya diminta berbagi senyum, dengan ikhlas dan tulus.

Lagi-lagi sayang, SENYUMAN justru hal yang paling banyak kita punya tapi sulit dibagi.

 

Kita dan siapapun boleh beda bahasa, beda pilihan.

Bahasa cinta dalam politik itu beda. Bahasa beda dalam pilpres pun berbeda. Tafsir tentang presiden impian pun berbeda. Apalagi cara memajukan negara ini pun sangat berbeda. Ada orang yang sibuk bilangnya sukses. Ada orang yang sukses tapi tidak sibuk. Itu semua karena bahasanya beda-beda. Sudut pandang beda, cara berproses beda. Pasti hasilnya beda.

 

Tapi semua orang yang "tersenyum", pasti berada dalam bahasa yang sama. Bahasa senyuman, ada pada setiap kita.

 

Hanya karena jelang pilpres.

Bila ada senyum di antara teman-teman kita yang hilang. Sungguh sangat disayangkan. Senyum itu gak bayar. Bahkan senyum itu sedekah lagi berkah. Mengapa karena urusan pilpres yang cuma lima tahunan, senyum menjadi lenyap? Kenapa?

 

Manusia itu sering lupa, senyum itu perbuatan paling mudah yang bisa kita lakukan. Atas alasan apapaun dan untuk siapapun. Maka tersenyumlah jelang pilpres. Bertahanlah untuk tetap tersenyum....

 

Jelang pilpres, gak usah terlalu serius. Santai saja sambil tetap tersenyum. Tinggal tunggu saatnya, coblos saja pilihan kita. Tidak usah banyak koar-koar. Apalagi membenci, menghujat dan menghasut satu sama lainnya.

 

Ingatlah, gak ada orang yang bisa bertahan hidup tanpa senyuman. Dan yang paling penting. Jangan pernah menyesali apapun, yang pernah membuat kita tersenyum. Karena senyum itu indah dan ibadah yang berkah.

 

Senyum jelang pilpres.

Sangat lumrah. Kita kecewa, iri atau benci. Bahkan kita gak suka pada apa yang dikerjakan dan dimiliki orang lain. Lumrah sekali. Tapi di saat yang sama, basuhilah hati dengan senyuman.

 

SENYUM itu niat baik; ikhtiar baik. Karena senyum gak bisa dibeli. Senyum gak bisa dipinjam. Senyum gak bisa dicuri. Bahkan senyum pun gak bisa dicaci-maki. Karena senyum, segalanya menjadi indah dan mudah.

 

Jelang pilpres, hal yang ada dan tersisa pada diri kita. Dan bisa diberikan ke orang lain. Jawabnya tinggal "senyuman". Maka tetaplah tersenyum. Agar semuanya bisa menjadi lebih baik.

 

Sederhana saja. Lemparkan senyum kepada mereka yang memancing amarah. Taburkan senyum kepada mereka yang membenci. Dan rangkullah mereka yang berbeda dengan seyuman.

 

Karena senyum itu gak hanya terpancar dari bibir semata. Tapi juga merekah di dalam hati. Maka sembuhkan semua penyakit hati dengan senyum.

 

Kelang Pilpres. Tersenyumlah saat memulai, tersenyumlah saat mengakhiri ... insya Allah semuanya ada dalam scenario Allah. Salam senyuman nan ciamikk … #TGS #SenyumJelangPilpres

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB