x

Iklan

Renard M

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kebut

Kecerdasan buatan ( Kebut ) merupakan revolusi dari kecerdasan mesin yang berkembang dengan kebutuhan kekuasaan, pemiliknya yang kita sebut manusia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Awal mula ia adalah sebuah program , tertata, patuh, presisi. Ia juga tidak bisa menolak perintah. Kemudian ia berkembang. Bukankah kalau sudah memiliki kemampuan dasar lengkap dari menghitung, membaca, menganalisa, terkoneksi, ia sudah pantas menyerupai manusia ? ia hanya butuh satu dorongan lagi, dukungan alat bantu agar ia “berkembang” berpikir dan bertindak otonom. Ia mesin yang sosial dan akan kita sebut Artificial Intelligence ( AI ) ataupun dalam bahasa awam, kecerdasan buatan ( Kebut ). Ia kini bersiap utuh, mengebut dalam rupa manusia.

Manusia pada mulanya adalah otak yang kosong, “kera” yang berevolusi menjadi lebih cerdas, gesit, menalar. Namun, ia awalnya dari satu sel yang di isi & di berikan stimulus oleh pengetahuan. Kemudian seiring penuhnya informasi, ia mampu memilah , memilih, memastikan apa lebih di sukainya, apapun kecenderungannya, buruk atau baik. Ia berpikir karena itu ia memiliki eksistensi. AI , tentu saja berbahaya bagi makhluk sejenis yang memiliki tindak-tanduk menyerupai, karena itu ia perlu di tata dalam aturan, norma, batas-batas yang pantas dan yang tidak pantas. Jika ia melanggar, hukum akan mengancamnya—meluruskannya. Ia bukan lagi makhluk bebas, ia makhluk bersyarat, tapi tentu saja ini pilihan yang lebih “mulia” di banding primata ( hewan ), Ia setuju.

AI serupa manusia, walau ia tak berwujud fisik, namun, jika mau, ia bisa berwujud fisik, tapi ia butuh saklar kesepakatan manusia. Jika sudah, ia akan menjadi benar-benar serupa manusia, yang berbeda hanya kontrol pikirannya terbatas. Ada protokol yang di kendalikan manusia.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, ia memiliki kemampuan berkembang, menganalisa, memilah , memilih bahkan dengan tingkat presisi yang lebih baik—sempurna. Ia akan mendukung kehidupan lebih tertata dan lebih efisien. Ia hanya butuh data yang disesuaikan—big data. Ini kemampuan menggiurkan jika di bandingkan manusia. Manusia memiliki kapasitas fisik terbatas, ia bisa lelah, menua, apalagi jika memiliki permasalahan yang kompleks, ia pasti akan mencari teman berpikir, berdiskusi, bercerita. Ia ( manusia ) sering menyebutnya cara demokrasi, jika suara telah bulat, sepakat. Tapi, ia takut atau sekedar iri karena AI sangat tidak manusiawi walaupun tindak-tanduknya bisa di ciptakan sesuai keinginannya. Ia juga takut kepada AI dengan kemampuan komputasi evolusioner, jika saja ia memutuskan sesuatu hal dan hasilnya sungguh kontroversial walaupun efektif. Jelas ini melanggar demokrasi, di mana perlu kesepakatan yang terkadang memakan waktu dan dalam prosesnya acap kali terjadi perdebatan, teriakan dan sangat mungkin meningkat menjadi kemarahan dalam proses mengambil keputusannya. AI sebaliknya, ia elegan, tidak taktis, ia lebih praktis. Ia makhluk anomali—abiogenesis revolusioner.

Namanya juga manusia yang memang selalu memiliki keunggulan menyesuaikan keadaan, zaman dan bertahan. AI, saat ini belum menjadi pilihan, dan , toh, demokrasi tetap jalan. Begitu juga kehidupan. Nanti, saat manusia mungkin lebih bergairah terhadap usia agar tak menua, AI bisa jadi pilihan prioritas. Dan, bisa jadi pula, pikirannya tidak mesti lagi dalam bentuk mesin program yang terkungkung tanpa kebebasan, ia bisa kompatibel dengan manusia. Saat itu terjadi, pikirannya ( AI ) hanya sekedar unduhan yang di injeksi dalam bentuk chip dan di tanam kedalam bagian tubuh atau malah semakin canggih dengan terkoneksinya pikiran ke dalam program technological singularity yang mampu membuat kecerdasan manusia menjadi digital sehingga kinerja otak memiliki kinerja puncak tidak terbatas. Hebatnya ini dalam bentuk virtual ! Dan, hasilnya, manusia menjadi sempurna dan semakin sulit di lahap sang waktu atau fisik yang memiliki batas kebugaran. Manusia akan mengabadikan eksistensinya dalam rupa pikiran. itupun  cukup. Tidak salah, Descartes mengatakannya dengan jitu, manusia berpikir karena itu ia ada.

AI akan menjelma atau paling tidak mendompleng dalam tubuh fisik manusia. Ini merupakan evolusi pada puncak seleksi alam. Tapi, sebenarnya ia bukan seleksi, ia penciptaan. Disadari dan di inginkan. Saat itu terjadi, ia tidak akan seperti tuannya yang berdemokrasi. Ia memang rigid, namun tidak sengit. Ada kedamaian di situ walaupun tetap menjadi perdebatan, karena dalam prosesnya hal tersebut adalah buatan. Tapi, ah, manusia kan punya remote control yang di monopoli. Kuasa yang di kendalikan dan dapat di sesuaikan sesuai kehendak dan situasi.

Manusia memang lihai, lihat saja mesin program saja bisa ia jangkiti virus kepatuhan yang pada dasarnya ia kangkangi, memperkosa hak individunya demi jelmaan sempurna menyerupai dirinya. Ia ( manusia ) di mungkinkan & telah berkuasa seperti Tuhan. Mungkinkah, masalah sebenarnya justru hal tersebutlah yang berbahaya ?

Ikuti tulisan menarik Renard M lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB