x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 12 Mei 2019 21:36 WIB

Buzzer, Aktor atau Mesin Politik?

Dalam konteks pembentukan opini mengenai isu tertentu, peran buzzer tampaknya akan terus diperlukan oleh para politikus. Mereka bermain di balik layar mendukung aktor-aktor politik, yang menjadi klien mereka, dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Ketika internet dan media sosial memperoleh peran di pentas politik, orang-orang yang meramaikan percakapan di media ini bukan hanya politikus—orang yang sejatinya memang terjun ke gelanggang. Para politikus masa kini memerlukan orang-orang yang bekerja untuk mereka dengan tugas khusus: meramaikan pembicaraan mengenai isu tertentu di media sosial.

Tentu saja, media sosial bukanlah wahana yang terpisah secara eksklusif dari dunia nyata. Kenyataannya, seringkali media sosial merupakan cerminan dunia nyata—dan sebaliknya, apa yang terjadi di media sosial berakibat di dunia nyata. Lantaran itulah, keriuhan percakapan yang berlangsung di media sosial juga berdampak di dunia nyata. Begitu pun sebaliknya. Di sinilah buzzer bekerja dan berfungsi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam pemilihan presiden, dan sepertinya masih berlanjut hingga kini, pertarungan narasi yang dibangun di media sosial tidak lepas dari peran dan kontribusi para buzzer, yang sebagian di antaranya bekerja sebagai profesional. Mereka bekerja mengkreasi isu agar menjadi bola salju yang menggelinding di arena media sosial, serta dibicarakan dan disebarluaskan secara viral.

Laman-laman media massa online juga tidak lepas sebagai lahan garapan para buzzer. Ruang komentar pembaca menjadi arena para buzzer melontarkan pendapat, kritik, hingga caci maki. Pembaca awam tidak cukup mudah untuk memastikan apakah komentar tertentu berasal dari real netizen ataukah buzzer. Bahkan bisa jadi, komentar-komentar itu keluar dari ‘mulut’ mesin yang dikendalikan oleh buzzer. Tak heran bila sederet komentar bernada serupa bisa keluar untuk mengomentari berita di media online.

Sepanjang berita itu terkait langsung ataupun tidak langsung dengan kepentingan pemakai jasanya, buzzer akan bekerja memberi komentarnya. Buzzer akan melakukan apapun agar kepentingan kliennya terjaga, termasuk mengeluarkan komentar menyerang yang keras dan kasar. Para politikus maupun pihak lain yang berkepentingan terhadap situasi politik dan arah politik tertentu sangat mengandalkan buzzer dalam menjadikan sebuah isu tetap dibicarakan.

Para buzzer, sebagaimana ditugasi oleh kliennya, berusaha memengaruhi persepsi publik terhadap isu tertentu. Dengan memobardiri medsos dan kolom komentar di media online, mereka berusaha memengaruhi opini publik sehingga terbentuk sebuah persepsi mengenai isu tersebut. Apakah penggiringan opini itu ke arah yang benar atau sebaliknya, yang penting ialah tercapainya tujuan.

Dalam pembentukan opini, terungkapnya kebenaran faktual boleh jadi bukan tujuan utama. Bahkan, kebenaran faktual bisa menjadi kabur dan tidak dipercayai lagi oleh masyarakat, khususnya netizen, ketika banjir opini yang berlawanan menyapu kebenaran faktual itu. Buzzer yang bersedia melakkukan apapun keinginan klien akan menjalankan fungsinya untuk menghalau kebenaran faktual itu dengan membombardir dunia virtual dengan opini yang mengingkari kebenaran itu atau mengaburkannya.

Masyarakat akan mudah terombang-ombing dan kemudian tersapu oleh opini senada yang datang bertubi-tubi. Sementara itu, kebenaran faktual yang tidak ditopang oleh kemampuan bermain narasi akan terseok-seok ketika berusaha berdiri tegak.

Dalam konteks pembentukan opini mengenai isu tertentu, peran buzzer tampaknya akan terus diperlukan oleh para politikus. Di pentas politik yang ingar-bingar oleh pertarungan narasi, buzzer lebih merupakan mesin politik ketimbang sebagai aktor politik. Mereka bermain di balik layar mendukung aktor-aktor politik, yang menjadi klien mereka, dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Mungkinkah suatu ketika para buzzer menjadi aktor politik yang memainkan agendanya sendiri? >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB