#SeninCoaching: Tepuk Tangan Dunia atau Legasi, Meninggal dalam Cahaya? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ayu melakukan reinventing terus-menerus

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 7 Oktober 2019 06:43 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • #SeninCoaching: Tepuk Tangan Dunia atau Legasi, Meninggal dalam Cahaya?

    Dibaca : 256 kali

    #Leadership Growth: Self-Reinvention, Create New Identity

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach 

    “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” ― Alvin Toffler.

    Hujan yang menyiram Paris pada hari-hari di Januari dingin sekali. Suhu selama bulan itu berkisar antara 3 sampai 7 derajat Celsius. Kendati tidak ada salju, rasanya semua orang pada hari-hari itu memerlukan kehangatan, untuk badan dan hati. Pada 27 Januari 2018, saat udara dingin memagut kota, kehangatan kita temukan di Auditorium de Radio France.

    Malam itu, bersama Orchestre phillharmonique de Radio France dan Directeur musical Mikko Franck, pianis Alice Sara Ott menyajikan karya Ludwig van Beethoven piano concerto No. 3. Alice Sara Ott, campuran Jepang – Jerman, memasuki panggung mengenakan long dress hitam dengan punggung terbuka dan tanpa alas kaki alias nyeker.

    Performance Alice yang sangat ekspresif dalam menampilkan daya pikat karya Beethoven tersebut sungguh menghangatkan hati banyak orang, di tengah cuaca yang dingin di luar gedung. Begitu Piano concerto No.3 selesai, para penonton bertepuk tangan membahana dan panjang. Ketika Alice masuk ke ruang jeda di sisi pangung, tepuk tangan masih riuh.

    Alice pun ke panggung lagi dan menyudahi pertunjukan total sekitar satu jam tersebut dengan Fur Elise (nama populer Bagatelle in A minor, WoO 59, piano solo karya Ludwig van Beethoven, sekitar 1810). Lalu tepuk tangan lagi…

    Setelah Alice didampingi konduktor dan seluruh awak masuk ke sisi panggung, baru para penonton beranjak dari tempat duduk, mulai mengenakan kembali jaket masing-masing sebelum keluar. Selanjutnya adalah gelap, dingin dan sepi….

    Alice Sara Ott belakangan ini sampai 2020 menjadi pianis klasik “most in-demand”. Tampil bersama orkestra kelas dunia, seperti London Symphony Orchestra, Orchestre Philharmonique de Radio France, hr-Sinfonieorchester, WDR Sinfonieorchester Köln, Royal Philharmonic Orchestra. Para konduktor yang bermitra dengannya deretan nama masyhur, diantaranya, Gustavo Dudamel, Pablo Heras-Casado, Sir Antonio Pappano, Andrés Orozco-Estrada, Yuri Temirkanov, Sakari Oramo, Myung-Whun Chung, Hannu Lintu …

    Dengan tetap menghormati kehebatan prestasi Alice Sara Ott --yang demikian elagan menyatukan energi batin dan ketrampilan teknisnya bermain piano pada setiap penampilannya--,  menyimak pertunjukan bersama Orchestre phillharmonique de Radio France 27 Januari itu, ada yang membuat gundah. Tepuk tangan panjang yang kemudian disusul sepi dan gelap, serta udara yang dingin, mengingatkan perjalanan hidup manusia.

    Tepuk tangan meriah atas sebuah prestasi seseorang yang sudah berlatih tekun bertahun-tahun merupakan hal sah dan layak kita hormati.

    Hanya perlu ingat: Siapa pun yang mendapatkan tepuk tangan dan sorak-sorai dalam bidang masing-masing, di dunia musik, film, teater atau di kancah politik dan ekonomi (misalnya berupa award dari kreditor dan antek-anteknya), pada akhirnya akan menemui gelap, sendirian, dan dingin juga, yaitu kematian.

    Situasi menjadi tidak sehat ketika orang ngotot untuk mendapatkan tepuk tangan di dunia, bahkan dengan pelbagai cara yang diindikasikan menjauh dari keadaban.

    Misalnya, membayar nilai tertentu untuk memperoleh award dan penghargaan-penghargaan. Anda barangkali juga tahu, kegiatan semacam itu ada event organizer-nya. Di kancah politik, para politisi “merangkul mesra” media untuk itu.

    Artinya, mereka memburu tepuk tangan transaksional, bukan pujian berdasarkan upaya yang panjang membangun prestasi. Mereka telah menipu diri sendiri dan mengelabui publik. Anda tentunya tahu perilaku mengejar syahwat dunia tersebut.

    Lantas, apa artinya semua award dan tepuk tangan semacam itu saat tiba waktunya gelap dan dingin kematian merengkuh mereka?

    Barangkali itu yang oleh para ulama, pendeta, dan guru spiritual disebut sebagai kematian tanpa cahaya. Tidak ada legasi yang dapat dibanggakan.

    Sedangkan para pemimpin sejati dan berjiwa kesatria di dunia bisnis, nonprofit, dan pemerintahan, lazimnya mementingkan kontribusi untuk perubahan positif para pemangku kepentingan, agar dunia ini menjadi lebih indah. Mereka memilih kepentingan-kepentingan jangka panjang kebaikan umat manusia.

    Berbagai resources –waktu, pikiran, dan daya upaya lainnya– mereka kerahkan untuk itu. Mereka memiliki life purpose yang mementingkan kemaslahatan bersama. Bagi golongan ini, profit, tepuk tangan dan award mereka anggap hanya efek, bukan tujuan.

    Di dunia bisnis, perusahaan-perusahaan yang life purpose-nya memberikan kontribusi bagi kemanusiaan, umumnya berumur panjang, sustainable. Produk dan jasa mereka bisa berkembang/berganti, untuk merangkul pasar yang juga berubah sangat dinamis. Cara pengelolaan organisasi dan strategi mereka juga menyesuaikan dengan tantangan. Tapi yang disebut sebagai core ideology umumnya mereka pertahankan, jadi sumber inspirasi sampai hari ini.

    Mereka menjalani proses yang oleh Alvin Toffler disebut, “learn, unlearn, and relearn.” Para pemimpin dan eksekutifnya terbuka hati dan pikirannya untuk terus mengembangkan diri, melakukan self-reinvention, umumnya didampingi coach atau lebih dari satu coaches.

    Hewlett-Packard, Virgin Group (Richard Branson), Microsoft, 3M, Hyatt, LG, adalah sebagian contoh dari perusahaan yang berorientasi jangka panjang, berani melakukan reinventing untuk memberikan positive impact bagi peradaban.

    Menurut David Packard, co-founder HP, “Profit is not the proper end and aim of management – it is what makes all of the proper ends and aims possible.”

    Alasan keberadaan HP di dunia adalah memberikan kontribusi untuk kemajuan dan kesejahteraan manusia. Ia konsisten sampai akhir hayat. Makamnya tanpa batu nisan yang gagah, hanya penanda sederhana bertuliskan “David Packard 1912 – 1996”. Tapi ia mewariskan US$ 4.3 milyar (billion) untuk kegiatan sosial (antara lain sudah berwujud perguruan tinggi, museum, dan kegiatan edukasi lainnya).

    Barangkali itu yang disebut meninggal dalam cahaya, memperoleh pujian lebih hebat justru setelah wafat, lebih dari sekedar tepuk tangan dunia.

    Bagaimana dengan Anda? Untuk memberikan kontribusi dan perubahan positif bagi kehidupan tidak harus menunggu sekaya David Packard atau para pengusaha besar lainnya. Setiap kita memiliki peluang sukses, bekerja profesional dan menghasilkan dampak positif, jika bersungguh-sungguh terus melakukan self-reinvention dan berlapang dada memberikan resources masing-masing (dana, pikiran, tenaga, dan waktu) untuk kehidupan bersama yang lebih baik. Termasuk di lingkungan kerja Anda.

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)    

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.