x

Iklan

Supryadin Advocasi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 November 2019 18:44 WIB

Paradoks Sukmawati dalam Menyampaikan Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad Saw Dengan Perjuangan Ir Soekarno

Kelalaian pernyataan Sukmawati Soekarnoputri membuat keberatan umat beragama islam dalam menyampaikan sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw dan Ir Soekarno, ini sangat pertentangan dalam berhidupan beragama dan menjadi perbincangan sehingga sukmawati dilaporkan di Kapolda Metro Jaya atas dugaan penistaan Nabi Muhammad Saw.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menarik ditelusuri pernyataan sukmawati dalam sejarah perjuangan nasib Muhammad dan perjuangan Soekarno. Menjadi perbincangan masyarakat Indonesia terutama masyarakat yang beragama islam.

Pernyataan sukmawati sangat kontroversi dalam memperbandingkan perjuangan nabi Muhammad Saw dan Ir Soekarno ini membuat umat yang beragama islam keberatan. Pernyataan yang kontroversi ini bukan satu kali saja, melainkan sudah kedua kalinya dalam menyampaikan di kegiatan-kegiatan publik.

Seperti pernyataan Sukmawati pada saat itu dalam membacakan puisi ‘‘Ibu Indonesia’’dalam acara 29 tahun Anne Avante Berkarya di Indonesia Fashion Week yang sangat kontroversi. Dan narasi isi puisinya berjudul Ibu Indonesia yaitu;

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Aku tak tau Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik cadar ilmu

Gerai tekukan rambutnya suci

Suci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptaanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angina laut

Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi ibu Indonesia

Aku tak tau syariat islam

Yang kutahu suara kidung ibu Indonesi, sangat elok

Lebih merdu dari alunan azan mu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

 Semurni irama puja kepada illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun

Lelahan demi lelehan damar mengalun

Canting menggores ayat-ayat alam surgawi

Pandanglah ibu Indonesia

Saat padanngan mu semakin pudar

Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa

beradab ini cinta dan hormat kepada ibu

Indonesia dan kaumnya

 

Puisi ini sangat menarik dan sensitif sekali tapi membutuhkan interpretasi yang kuat, apalagi interpretasi yang berbeda-beda sehingga menimbulkan kontroversi seperti mengenai azan dan cadar. Ini membuat sukmawati dilaporkan oleh umat beragama islam karena mengandung penistaan agama.

Selain itu, nama Sukmawati menjadi perbincangan lagi ketika membandingkan perjuangan Nabi Muhammad dengan Soekarno yang disampaikan pada hari senin 11 November 2019 dalam kegiatan forum bertema, Bangkitkan Nasionalisme, Bersama Kita Tangkal Radikalisme, dan Berantas Terorisme.

Dalam video yang beredar bahwa Sukmawati juga membandingkan kita suci Al Quran dan pancasila, ia mengatakan perbandingan seperti itu bukan berasal dari dirinya melainkan informasi yang didapatkan ketika seorang ingin direkrut dalam kelompok radikalisme.

Sehingga Sukmawati dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh warga bernama Ratih Puspa Nusanti yang merupakan salah satu anggota Koordinator Bela Islam (Korlabi) karena dianggap menista Nabi Muhammad Saw karena membandingkan dengan Soekarno. Ini membuat Sukmawati dianggap melanggar pasal 156 KUHP, Tempo Com.

Jika membicarakan sejarah perjuangan Nabi Muhammad sangat luar biasa dalam membawa perubahan dan kemajuan ajaran agama islam dari jaman kebodohan menuju jaman kepintaran dengan mengibarkan benderah Lailahaillalah.

Soekarno sebagai tokoh kebangsaan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajahan kolonialisme dan imperalisme untuk kemaslahatan kehiduapan rakyat Indonesia. Dan Soekarno sebagai seorang tokoh Nasionalis dan juga Islamis bahkan sangat mengimani dan mematuhi ajaran-ajaran sariat islam dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menghindari larangannya.

Ketika menyaksikan penyampaian dari Sukmawati sangat tidak berniat menistakan Nabi Muhammad SAW. Putri dari soekarno hanya membandingkan Muhammad dengan ayahnya itu dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sukmawati mengaku bercerita tentang sejarah awal abad ke-10 dimana nasionalisme mulai berkembang di tanah air.

Dalam melihat persoalan ini bahwa kita harus menganalisis secara seksama mengenai dampak negatif dan positif dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Berbicara dampak negatif dimana narasi memperbandingkan sangat tidak cocok dengan perkembangan jaman. Apalagi umat beragama Islam yang mayoritas di Indonesia yang mengakui perjuangan sang revolusioner sejati Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita bisa menikmati hasil perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam membawa kemajuan untuk umat islam diseluruh dunia.

Sedangkan dampak positifnya bahwa mengadakan suatu diskusi yang ilmiah sangat memberikan tranformasi ilmu pengetahuan dalam mengembangkan pemahaman mengenai sejarah.

 Bahwa ada perjuangan tokoh nasionalis bernama Soekarno di Indonesia dalam memerdekakan negara Indonesia. Hasil perjuangan Ir Soekarno kita bisa membebaskan diri dari penjajahan kolonialisme dan imperalisme pada saat itu.

Karena memang sejarah sangat mendidik kita bersikap kritis dan bertindak bijaksana dalam melihat situasi dan kondisi sekarang. Sangat penting sekali kita membangun persatuan dalam kehidupan bernegara.

Tujuan kita bagaimana mewujudkan ketertibaan umum dalam masyarakat sosial, supaya kehidupan bernegara bisa dijalankan sesuai dasar negara dan cita-cita negara Indonesia. Karena kita berada dalam negara kesatuan republik Indonesia.

Artinya persatuan sangat penting sekali, bukan saling mengkerdilkan satu dengan lain supaya kehidupan bisa damai dan nyaman. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Supryadin Advocasi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler