Batik : Identitas dan Simbol Nasionalisme - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Batik khas Papua. ANTARA FOTO/Dian Kandipi

Enggitya Santa Wahyu Parastika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 hari lalu

3 hari lalu
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Batik : Identitas dan Simbol Nasionalisme

    Dibaca : 157 kali

    Batik : Identitas dan Simbol Nasionalisme

    Oleh : Enggitya Santa FP UB

     

    Batik merupakan identitas bangsa Indonesia. Hal tersebut didukung oleh adanya kebijakan UNESCO (Educational Scientific and Cultural Organisation) yang menetapkan bahwa Batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Adanya peresmian kebijakan dari UNESCO akhirnya ditetapkan juga bahwa setiap tanggal 2 Oktober adalah peringatan Hari Batik Nasional.

    Hal tersebut merupakan hal yang membanggakan bagi bangsa Indonesia. Penetapan Hari Batik Nasional merupakan wujud upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia bukan hanya ke ranah internasional tapi juga mengangkat kebanggaan di rumah sendiri kepada rakyat Indonesia untuk lebih menghargai warisan budaya leluhur.

    Batik sebagai simbol jiwa dan identitas bangsa Indonesia. Eksistensi batik saat ini sungguh luar biasa. Kalau dulunya batik hanya dipakai oleh para orang tua pada suku tertentu saja, seperti suku Jawa dan dalam acara tertentu pula misalnya, pada pesta hajatan atau kawinan. Namun untuk saat ini batik sudah tidak mengenal batasan kalangan atau suku, batik dapat dipakai di mana saja dan kapan saja oleh siapa saja.

    Pada era ini banyak bermunculan batik modis dengan berbagai model dan variasi. Bukan hanya dalam bentuk kemeja tapi juga ada batik kaos dan model lainya yang cocok dipakai setiap hari. Bukan hanya itu, motif batik juga sangat serasi dipadukan dengan pakaian modern lainya yang memberikan kesan mewah dan gaya tersendiri.

    Dan untuk wilayah Kabupaten Gresik Jawa Timur memiliki batik khas yaitu yang terdiri dari beberapa motif, salah satu motif yang terkenal adalah batik motif Loh Bandeng. Motif-motif Batik Gresik memiliki nilai filosofi yang mencerminkan ciri khas Gresik. Misalnya, motif Loh Bandeng atau ikan bandeng yang merupakan ikan khas Gresik. Karena di Gresik mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani tambak ikan bandeng. Tidak hanya itu juga, bahkan tiap tahun tepatnya 2 hari sebelum hari raya Idul Fitri masyarakat Gresik memiliki budaya khas yaitu mengadakan festival pasar bandeng.

    Motif Loh Bandeng memiliki makna baik secara eksplist maupun implisit. Secara eksplisit motif batik ini mengandung pesan yang menunjukkan bahwa daerah Kabupaten Gresik mempunyai produk unggulan ikan bandeng. Secara implisit design motif batik ini mengandung pesan-pesan dalam tatananya antara lain tatanan bentuk ikan yang rapat hampir tanpa celah dimaksudkan agar semangat kebersamaan dan persatuan tetap dijadikan kekuatan utama dalam mencapai tujuan mulia.

    Keberagaman ukuran bentuk dan warna, serta gerak ikan yang dinamis mengandung pesan agar segala perbedaan dapat dilihat sebagai wujud kebebasan berekspresi dalam berdemokrasi yang melahirkan keindahan, kesempurnaan dalam berbangsa. Wujud ikan tanpa kepala dimaksudkan untuk pesan agar dalam menjaga keutuhan dalam kebersamaan hendaknya tidak memaksakan pandangan dan pemikiran demi kepentingan pribadi saja, tetapi harus juga mengutamakan kepentingan umum dan hak asasi.

    Terdapat juga motif yang lain yaitu motif Rusa Bawean, motif Bakau, dan lain sebagainya. Rusa Bawean merupakan fauna identitas Gresik, yang juga menjadi hewan kebanggaan warga Gresik. Motif lainnya berupa motif Sekar Pudak, Betoyo Guci, Mahkota Giri Kedaton, dan lain sebagainya.

    Upaya yang dilakukan pemerintah untuk melestarikan batik dari daerah satu hingga daerah yang lain, antara lain, dengan mewajibkan pelajar dan pegawai  memakai batik pada hari-hari tertentu. Dalam dunia Pendidikan tentu hal tersebut merupakan aturan yang sangat bagus untuk dijalankan dalam melestarikan batik karena dengan aturan tersebut sama halnya dengan memberikan edukasi dan rasa bangga menggunakan baik sejak dini.

    Selain aturan yang berlaku, justu di beberapa daerah di Indonesia juga melakukan pemilihan duta batik daerah asal tempat tinggal. Bahkan pada beberapa tahun terakhir ada upaya dari komunitas pecinta batik untuk membuat program Duta Batik pada setiap daerah di Indonesia. Dalam program ini tingkat partisipasi pemuda Indonesia untuk mengikuti program tersebut sangat luar biasa.

    Selain adanya program tersebut untuk pemuda Indonesia, ada juga program yang dijalankan oleh pemerintah untuk melestarikan batik, banyak Istansi pemerintah dan swasta yang mewajibkan kepada para pegawainya untuk memakai batik pada hari-hari tertentu apalagi dikalangan anak sekolah batik merupakan seragam wajib yang harus dikenakan seminggu sekali.

    Ada rasa bangga tersendiri saat memakai batik dan hal tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Apalagi sebagai bangsa yang besar, kita harus menghargai kebudayaan kita sendiri. Terutama bagi kaum muda sebagai generasi penerus yang akan memegang dan mengelolah warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Nasionalisme takan cukup hanya dengan kata-kata, nasionalisme dapat dibuktikan dengan perbuatan dan aksi nyata, dimulai dari sesuatu yang sederhana mari bersama sama kita jaga dan lestarikan batik sebagai pakaian resmi milik Indonesia yang menjadi kebanggaan dunia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.