Menanti Hidayah di Negeri Seribu Satu Masalah - Analisa - www.indonesiana.id
x

Hidayah

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 16 Januari 2020 10:00 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menanti Hidayah di Negeri Seribu Satu Masalah

    Dibaca : 850 kali

    Apapun masalahnya, isunya, segenap elite partai politik, para pemimpin negeri, hingga rakyat biasa, sudah terbiasa membangun budaya kisruh dan berseteru yang bahkan diapungkan melalui berbagai media massa, medsos, dan medion, serta saluran televisi. 

    Rasanya, di negeri ini menjadi tak ada bedanya antara elite partai politik, pemimpin negeri, dan rakyat biasa dalam berbagai hal, juga tak terlihat lagi wibawa dan kharisma tentang status pendidikan mereka. Sebab, dengan semua kondisi yang ada, kisruh dan perseteruan yang tak pernah ada ujung redanya, semakin nampak tak ada perbedaan golongan yang terdidik dan yang tak terdidik. 

    Semua sama-sama menjadi terlihat tak cerdas, tak beretika, tak berbudi pekerti, tak santun, tak berempati, tak bersimpati, tak kuat analisis, tak sanggup menahan emosi, tak rendah hati, tak legowo, tak kreatif, tak inovatif, tak sosial, hingga nampak tak pernah ada bekas siraman rohani sebagai masyarakat yang menganut agama, dan tak-tak lainnya. 

    Namun, sadarkah, bahwa kondisi yang "tak-tak" ini bukan karena mengalir begitu saja? Semua kondisi "tak-tak" ini memang ada "tangan" yang mencipta skenario, ada "tangan" yang menjadi sutradara, dan ada obyek ""aktornya".

    Dalam kondisi serba bermasalah karena memang dicipta oleh mereka, para elite partai politik, pemimpin negeri, hingga rakyat biasa yang sudah tak lagi memiliki rasa malu dan ewuh pekewuh, masalah terus dicipta dan suasana terus digoreng.

    Setali tiga uang, pemimpin bangsa yang diharapkan dapat menjadi teladan, dapat menjadi penengah, sekaligus menjadi tokoh penyelesai semua masalah, justru asyik dan sibuk sendiri menjalankan programnya demi mencatatkan sejarah "tentang apa pun" yang harus lahir di era kepemimpinannya. 

    Main tabrak, main ambil keputusan, tak peduli rakyat berteriak tak setuju, terpenting mumpung sedang menjabat dan punya SIM hak perogratif. Tak mau peduli dengan apa yang terjadi di tengah rakyat yang terus berkecamuk, kisruh dan berseteru. 

    Bahkan menciptakan bencana dengan menaikkan berbagai iuran yang menyangkut hajat hidup dan membebani rakyat, menciptakan bencana pelemahan KPK, menciptakan bencana uang rakyat dihamburkan untuk gaji-gaji kelompok mereka, menciptakan masalah BUMN, menciptkan masalah KPU, Bawaslu, hingga bencana banjir yang asli datang dari-Nya, juga dibiarkan menjadi bencana kisruh rakyat. 

    Semakin ke sini, antara elite partai politik, para pemimpin negeri, hingga rakyat biasa, semakin berjalan beriringan menuju lorong kemunduran akal sehat dan degradasi moral, yang semakin melemahkan mental dan karakter bangsa. 

    Bila ditelisik, seharusnya, manusia-manusia Indonesia yang terdidik, pernah mengenyam bangku sekolah dan kuliah, memiliki gelar pendidikan, baik itu para elite partai politik, para pemimpin bangsa, hingga rakyat biasa, seharusnya menjadi manusia-manusia terdepan yang dapat dijadikan panutan. 

    Sayang, manusia-manusia terdidik yang kini ada di bagian elite partai politik, di dalam gerbong pemimpin bangsa, dan di ranah rakyat biasa, justru memanfaatkan kecerdasan intelektualnya, memanfaatkan kekuatan analisisnya, kekuatan sosialnya, dan memanfaatkan kekuatan pengendalian emosionalnya, untuk kepentingan diri, kelompok, dan golongan dengan memanfaatkan "rakyat tak terdidik" menjadi obyek "gorengan permainan" mereka, dan mereka pun terlihat semakin jauh dari "siraman rohani". 

    Coba tengok, lalu bayangkan, menyoal seribu satu masalah itu, misalnya khusus di sektor korupsi, hingga  banyak media massa yang sampai membuat klasemen Liga Korupsi dan menjadi viral. 

    Klasemennya kira-kira sebagai berikut: 1. Jiwasraya: 13.7 Triliun 2. Asabri: 10 Triliun 3. Bank Century: 8 Triliun 4. Pelindo II: 6 Triliun 5. Kota Waringin Timur: 5.8 Triliun 6. BLBI: 4.5 Triliun 7. E-KTP: 2.3 Triliun 8. Hambalang: 700 Miliar dan atas klasemen sementara tersebut, nitizen menganggap Jiwasraya belum tersaingi. 

    Luar biasa. Itu uang siapa? Siapa yang makan? Atas kondisi ini, barangkali, bila selama ini rakyat Indonesia sering menonton sinetron di televisi bertajuk "hidayah", akan banyak yang mengucap, kapan para elite partai politik, para pemimpin bangsa, hingga rakyat biasa, yang terus memanfaatkan situasi, kondisi, keadaan, kesempatan, dan berbagai hal demi kepentingan mereka sendiri. 

    Meski rakyat sangat tahu bagaimana sepak terjang mereka, tetapi mereka juga sudah tak ada urat malu. Jadi, kapan mereka didatangi hidayah? Atau kapan mereka menjemput hidayah? Atau kapan mereka terkena hidayah? Atau kapan mereka dapat hidayah? 

    Semoga hidayah (bimbingan, petunjuk Tuhan) segera hadir kepada mereka, agar negeri yang kini terus diserbu seribu masalah karena ulah mereka menjadi reda, kondusif. 

    Anak/siswa yang bandel/nakal, selain karena gen anak/siswa bersangkutan, akar masalah/penyebabnya tentu karena pendidikan orangtua, sekolah (baca:guru) dan lingkungan. Jadi, sebabnya tidak berdiri sendiri.

    Bila bangsa dan negara ini dianalogikan dengan hal tersebut, maka anak/siswa sama dengan rakyat, maka orangtua, guru dan lingkungan adalah para pemimpin bangsa. 

    Bila ada gen rakyat yang sudah membawa masalah dari lahir, maka tugas pemimpin bangsa lah yang wajib mendidiknya. Namun apa, sumbangsih pemimpin bangsa (baca: elite partai politik dan pemimpin negeri) ini dengan semua seribu satu masalah di NKRI? 

    Terus sibuk dengan dunianya sendiri. Terus menciptakan sejarahnya sendiri, demi buku yang kelak dibaca anak cucu.

    Di mana kerendahan hati itu?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.