Sengatan terhadap Bu Risma - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung ke kantor redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, Senin 8 Juli 2019. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 6 Februari 2020 14:51 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Sengatan terhadap Bu Risma

    Ketika lebih sering pujian yang terungkap ke hadapan khalayak, kecaman dalam bahasa yang aneh itu jadi terasa seperti anomali yang mengagetkan. Tulisan kecaman itu tidak ubahnya setrum yang mengejutkan. Memang dapat dimengerti bila kata-kata vulgar itu terasa menyakitkan karena dianggap melampaui batas. Namun, seandainya postingan yang membuat Bu Risma lapor polisi itu dilihat dari sisi lain, mungkin ada hikmah kebaikan di dalamnya.

    Dibaca : 2.007 kali

    Sungguh tidak mudah bagi pejabat publik untuk tidak 'baper' manakala mendengar atau membaca kritik pedas yang sanggup memerahkan telinga. Apa lagi jika kritik itu sudah berbau personal dengan diksi yang tidak lumrah pula. Jika kritik itu datang dari sesama politikus, mungkin akan lebih mudah bagi pejabat publik untuk membalas kritikan itu. Jagat politik memang tidak bersih dari saling kritik, saling kecam, bahkan juga saling merendahkan dan para politikus menganggapnya lumrah.

    Tapi jika kritik, kecaman, atau bahkan hinaan berasal dari masyarakat, perlukah diladeni dengan melapor ke pihak berwajib? Masyarakat kita memang bermacam-macam. Ada yang mengaku sudah melek media, ada yang dianggap baru setengah mengerti cara kerja media dan dampaknya, ada pula yang tidak peduli dengan soal-soal itu dan tetap gas pol dengan bahasa ungkap yang mungkin bikin merah telinga. Pejabat publik memang dihadapkan pada risiko dikritik, dikecam, dan dihina oleh rakyat--dari yang halus hingga yang vulgar.
     
    Jika kritik 'keterlaluan' dari rakyat itu ditanggapi, kesannya jadi kurang siap menjadi pejabat publik--begitu kira-kira kandungan editorial Koran Tempo. Maksudnya barangkali ya, biarlah rakyat ngomong begitu dan bersabarlah, sebab rakyat itu memang terdiri dari manusia dengan beraneka ragam watak, tingkat pengetahuan, maupun pengalaman: ada yang sudah dewasa, ada yang gemar mengkritik, ada yang suka mencela melulu, tapi banyak juga yang senang memuja dan memuji pejabat publik favoritnya.
     
    Nah, dalam konteks Bu Risma yang Walikota Surabaya, kesediaannya untuk memaafkan pelaku kritik pedas berdiksi aneh itu dipuji oleh sebagian masyarakat--memang seyogyanya seperti itulah sikap pemimpin kepada rakyatnya: memaafkan, dan dilanjutkan dengan mencabut laporan. Rakyat yang menghina sudah menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf.
     
    Selama ini Bu Risma memang sering dipuji, jadi mungkin saja Bu Risma kaget membaca kecaman di media sosial itu. Mungkin Bu Risma sempat berpikir: "Lho, kok ada ya orang ngritik saya seperti ini, pakai bahasa vulgar pula."
     
    Ketika lebih sering pujian yang terungkap ke hadapan khalayak, kecaman dalam bahasa yang aneh itu jadi terasa seperti anomali yang mengagetkan. Tulisan kecaman itu tidak ubahnya setrum yang mengejutkan ketika orang yang dikritik tengah tenang menunaikan tugasnya tanpa ada gangguan ombak dari sekitarnya. Semua hal dirasa sudah berjalan mulus, eh tiba-tiba ada yang menyengat. Memang dapat dimengerti bila kata-kata vulgar itu terasa menyakitkan karena dianggap melampaui batas.
     
    Namun, seandainya postingan yang membuat Bu Risma lapor polisi itu dilihat dari sisi lain, mungkin ada hikmah kebaikan di dalamnya. Katakanlah ini semacam sengatan yang dikirim dari langit kepada Bu Risma agar tetap ingat bahwa betapapun telah banyak hal yang ia kerjakan dipuji orang, tetap saja tidak akan sempurna. Bila sisi kebaikan ini yang dilihat, Bu Risma mungkin bisa berkata lebih rileks: "Biar saja orang berkata seperti itu, setiap manusia sudah ada yang mengurus." Dengan begitu, Bu Risma berpotensi naik jenjang sebagai manusia yang dipuji oleh penghuni langit. Sebagai pemimpin bagi rakyatnya yang beraneka rupa, dari yang senang memuji hingga yang gemar memaki, Bu Risma juga naik jenjang. Sebab, Bu Risma sesungguhnya tidak lagi membutuhkan pujian dan tidak peduli dengan cacian. Wallahu 'alam. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.