5 Fakta Menarik dari Film Nikah Yuk yang Harus Diketahui - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Minggu, 9 Februari 2020 17:19 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Menarik dari Film Nikah Yuk yang Harus Diketahui

    Dibaca : 376 kali

    Arya (Marcell Darwin) yang terus menerus dipaksa untuk segera menikah oleh orang tuanya, lama-lama merasa jenuh. Arya yang berprofesi sebagai seorang fotografer, masih ingin terus mengembangkan kemampuan fotografinya, apalagi ia baru saja menggelar pameran tunggalnya. Arya memang sudah memiliki kekasih, yaitu Neyna (Aliyah Faizah) tapi masih belum ingin untuk melangsungkan pernikahan. 

    Secara diam-diam, kedua orang tua Arya pun menyusun strategi agar sang anak dijodohkan saja. Namun, tak disangka malahan Arya bertemu dengan Lia (Yuki Kato) yang berprofesi sebagai komikus muda. Lambat laun karena intensitas keduanya untuk bertemu dan juga sama-sama pergi ke Jepang, membuat Arya dan Lia pun memiliki rasa yang sama. 

    Namun, Arya sudah memiliki kekasih di Indonesia yang juga diminta untuk segera menikah oleh kedua belah pihak keluarga. Di sisi lain, Arya pun tak bisa membiarkan Lia diambil oleh orang lain. Lalu, akan seperti apakah kelanjutan kehidupan Arya? Akankah ia tetap bersama Neyna atau malah bersama Lia untuk menggelar pernikahan? 

    Disamping sinopsis ceritanya yang begitu menarik, terdapat lima fakta menarik juga lho dari film Nikah Yuk ini. Apa saja ya? Berikut ini penjelasannya:

    1. Adaptasi dari kisah pribadi sang sutradara

    Adhe Dharmastriya sang sutradara mengungkapkan, bahwa film Nikah Yuk terinspirasi dari kisahnya bersama tim penulis yang selalu ditanyakan kapan menikah saat perayaan lebaran. Akibat pertanyaan ‘lucu’ yang sering dilontarkan, membuatnya bersama tim produksi Nikah Yuk mengambil cerita tentang ‘terlambat menikah’ yang akrab di Indonesia.

    2. Yuki Kato yang enjoy menjadi komikus muda

    Berperan menjadi seorang komikus muda adalah kali pertama Yuki Kato memerankannya. Ia merasa sangat enjoy untuk bergelut dengan sementara pada profesi sebagai komikus, meskipun sedikit menguras energi. Melalui karakter Lia yang  periang, enerjik, meledak-ledak, dan aktif, Yuki menganggap sifat Lia tersebut sangat jauh dengan dirinya. Lia pun harus dibiasakan untuk selalu menggerakkan tangannya untuk dapat menghasilkan karya, yang akhirnya bisa mengantarkannya ke Jepang.

    3. Proses syuting di Jepang

    Sampai harus bergerak ke negeri sakura, Jepang para tim produksi memang ingin mendapatkan kesan real lewat film Nikah Yuk. Mengingat para komikus dan manga kibaltnya adalah ke Jepang, maka diputuskan untuk menggarap film Nikah Yuk di negeri sakura tersebut. Syuting dilaksanakan ketika musim semi dan harus begelut dengan cuaca yang dingin di malam hari.

    4. Diperankan oleh aktor dan aktris kenamaan

    Bersama dengan Yuki Kato, Marcell Darwin terpilih menjadi sosok Arya yang ambisius akan karirnya. Keduanya pun diketahui telah banyak berperan dalam film, sinetron ataupun reality show, sehingga tidak diragukan lagi akan akting keduanya. Bahkan, Yuki Kato yang memiliki paras ke Jepang-Jepangan karena sang ayah berasal dari negeri sakura tersebut pun semakin mendukung proses pembuatan film Nikah Yuk.

    5. Penulis naskah baru pertama kali menulis naskah film

    Andri Cahyadi yang dipercaya sebagai penulis naskah film Nikah Yuk, ternyata baru pertama kali turut andil dalam proses pembuatan film sebagai penulis naskah. Ia dipercaya untuk membuat sebuah cerita yang ramah dengan masyarakat Indonesia, perihal pernikahan. Lewat naskahnya yang sudah dijadikan film, berarti kemampuan dari Andri Cahyadi sudah tidak diragukan lagi bukan kedepannya? 

    Nah bagi yang sudah tidak sabar menyaksikan kebolehan Yuki Kato dan Marcell Darwin, jangan lupa untuk menyaksikan pada tanggal 6 Februari 2020 di bioskop ya!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 448 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin