Peringati Hardiknas, SMA Negeri 1 Atambua Gelar Karya P5 dan Pentas Seni

Kamis, 2 Mei 2024 20:14 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2024 dengan tema yang diusung “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”, SMA Negeri 1 Atambua menggelar Karya P5 dan Pentas Seni. Silivester Kiik (2024)

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2024 dengan tema Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar, SMA Negeri 1 Atambua menggelar Karya P5 dan Pentas Seni, Rabu 02 Mei 2024. Gelar karya ini dihadiri oleh Korwas SMA/SMK Kabupaten Belu, komite sekolah, kepala sekolah, para guru, orang tua siswa, tamu undangan, dan siswa SMA Negeri 1 Atambua.

Florina I.M. Taelake, S.Pd, selaku Korwas SMA/SMK Kabupaten Belu dalam sambutannya mengatakan, P5 adalah proses perubahan karakter siswa dalam projek yang dihasilkan berupa karya, dan kegiatan P5 dalam implementasi Kurikulum Merdeka mendukung para guru untuk terus berinovasi dan berkarya. Selain itu kegiatan ini menjadi agenda tahunan untuk terus mengembangkan kreativitas siswa sebagai bekal dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Kepala SMA Negeri 1 Atambua, Dominikus Seran Bria, S.Pd., menyampaikan terimakasihnya kepada berbagai pihak yang telah hadir dan mendukung hasil karya para siswa. Hasil karya tersebut merupakan sebuah kekuatan, motivasi, dan implementasi para siswa dari hasil belajar P5 yang diusung oleh sekolah dalam menunjang Kurikulum Merdeka.

Kegiatan P5 yang diusung oleh sekolah terdiri dari Kearifan Lokal, Gaya Hidup Berkelanjutan (Pengurangan dan Pengolahan Sampah), Suara Demokrasi, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Bhinneka Tunggal Ika, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI.

Dua tema yang digelar oleh SMA Negeri 1 Atambua dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024 yakni Kearifan Lokal dan Gaya Hidup Berkelanjutan (Pengurangan dan Pengolahan Sampah). Setiap kelas memamerkan hasil karya yang berkearifan lokal seperti makanan lokal, media belajar dari limbah kertas, plastik, ecobrick, slogan pengurangan sampah, kerajinan tangan yang diolah dari barang-barang bekas, dan produk lainnya. Selain itu, seni yang ditampilkan berupa tarian likurai, vokal group, tari kreasi, dan lain sebagainya.

Hildegardis Uduk, S.Pd selaku Koordinator Pelaksana P5, dalam wawancaranya mengatakan bahwa kegiatan P5 harus berkelanjutan. Sebab tema-tema yang telah dikembangkan oleh sekolah harus berlanjut sampai dengan tahapan gelar karya seperti hari ini kita menyaksikan bersama.

“Kegiatan ini ke depannya akan digelar secara rutin dengan menghadirkan berbagai tokoh di Kabupaten Belu dan orang tua siswa dengan jumlah yang banyak untuk menyaksikan karya siswa-siswi kita. Semoga ke depan semuanya berjalan lebih lancar dan tentunya dukungan dari berbagai pihak agar semua yang telah dirancang dapat dinikmati hasilnya dengan rasa bahagia dan membanggakan,” tegasnya.      

Sedangkan Bapak Siprianus Mau Pelu selaku orang tua menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Sebab kegiatan-kegiatan seperti ini dapat memotivasi anak-anak kami untuk selalu berinovasi secara kreatif. “Kami selaku orang tua merasa bangga melihat anak-anak tampil dengan bagus dan karya mereka luar biasa,” ujarnya.  

Menurut Joice sapaan akrab Anike Joice Meko, salah satu siswa kelas X.8 dalam wawancara mengaku sangat senang dan juga ada sedihnya dengan kegiatan ini. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai persiapan dan penampilan yang masih kurang menyenangkan. Tetapi kami merasa senang karena karya-karya kami sudah menjadi sebuah inspirasi untuk terus belajar dan berkarya.

“Saya sangat senang, tetapi ada sedihnya juga. Persiapan kami kurang maksimal karena kegiatan ini pertama buat kami. Semoga ke depannya kegiatan ini dapat memberi kami dorongan dalam hal belajar dan berkarya lewat kegiatan-kegiatan P5.

Turut menyumbangkan acara yang memukau gemuruh para penonton dan tamu undangan adalah aksi drama dengan tema “Bandung Lautan Api” oleh kelas XI Alam 1. Drama yang ditampilkan membuka pemikiran kita untuk mengenang kembali peristiwa “Bandung Lautan Api” yang menjadi simbol perjuangan dan pengorbanan kemerdekaan Indonesia.         

*Kontributor Indonesiana – Silivester Kiik, SMA Negeri 1 Atambua

Bagikan Artikel Ini
img-content
Silivester Kiik

Penulis Indonesiana.id, Guru, Penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, dan Pengurus FTBM Kabupaten Belu. Tinggal di Kota Perbatasan RI-Timor Leste (Atambua).

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler