Sejarah Modern Awal Asia Tenggara - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 14 Februari 2020 09:29 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

    Dibaca : 2.456 kali

    Resensi ini telah tayang di Harian Suara Merdeka dengan judul "Sikap Toleran Pelaut Hebat." (Suara Merdeka, tanggal 2 Februari 2020).

     

    Judul: Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

    Penulis: Anthony Reid

    Tahun Terbit: 2019 (cetakan kedua)

    Penerbit: LP3ES                                                                                                        

    Tebal: xxiv + 398

    ISBN: 979-3330-05-3

     

    Ada tiga hal menarik yang saya dapat dari buku “Sejarah Modern Awal Asia Tenggara” karya Anthony Reid ini. Pertama, bahwa penghuni Asia Tenggara adalah para pelaut hebat, bahkan sebelum pelaut China, India dan Eropa memasuki wilayah ini. Kedua adalah adanya produk niaga yang sangat eksotik di wilayah ini; yakni rempah-rempah, khususnya pala dan lada. Ketiga adalah sikap tolerannya orang Asia Tenggara sehingga wilayah ini menyerap berbagai kebudayaan dari berbagai sumber.

    Ketiga faktor ini menjadi pembentuk Asia Tenggara menjadi seperti sekarang ini. Seandainya orang-orang yang meninggali kawasan Asia Tenggara bukanlah orang-orang yang pandai melaut, maka pala dan rempah-rempah lain di wilayah ini tak akan terekspose ke kebudayaan dunia yang lebih dulu berkembang. Meski dihuni para pelaut, namun jika tidak memiliki porduk eksotik, maka kawasan ini juga tidak akan menjadi ramai. Sedangkan faktor terakhir, yaitu sifat toleran terhadap hal-hal baru mempunyai dua mata pisau. Satu sisi membuat Asia Tenggara menjadi wilayah yang disukai oleh para pedagang, namun di sisi lain menimbulkan kondisi dimana Asia Tenggara menjadi ajang pertarungan budaya-budaya besar.

     

    Pelayar-pelayar Hebat

    Collin Brown dalam bukunya “A Short History of Indonesia” mengatakan bahwa bangsa yang menghuni Nusantara telah melakukan perdagangan ke dunia luar sejak abad pertama. Para pedagang inilah yang mengantarkan beras dan rempah-rempah ke negeri-negeri di barat dan di utara. Mereka juga yang mengambil unsur-unsur kebudayaan dari tempat-tempat (India dan China) yang dikunjunginya, kemudian mencangkokkan dalam budaya di Nusantara. Dua unsur utama kebudayaan yang diambil adalah agama (Hindu dan Budha) dan tata kelola pemerintahan.

    Apa yang dijelaskan oleh Brown ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Reid (hal. 59), bahwa orang-orang Austronesia yang meninggali wilayah Asia Tenggara telah berdagang secara aktif dengan pusat-pusat kebudayaan lain di luar Asia Tenggara. Reid menyatakan bahwa orang-orang Asutronesia membawa sendiri hasil bumi ke pasar internasional, menguasai jalur pelayaran semua rute Asia Timur – Eruasia dan telah berdagang dengan China dalam kurun waktu yang lama, setidaknya sampai dengan Dinasti Sung Selatan (1127-1129). Setidaknya sampai dengan abad 16, peran orang Melayu dan Jawa sangat dominan dalam perniagaan di wilayah Asia Tenggara (hal. 60). Relief di Candi Borobudur yang menggambarkan kapal besar juga menjadi bukti bahwa pada abad kedelapan, Jawa sudah memiliki kapal-kapal niaga yang canggih pada jamannya. Kemampuan berlayar dan berniaga masyarakat Asia Tenggara sudah terbukti dan tak bisa diragukan. Mereka inilah yang mula-mula membangun jalur perniagaan di Asia Tenggara.

    Perjumpaan Asia Tenggara dengan kebudayaan India membuat pengorganisasian masyarakat atau tata negara di wilayah ini menjadi semakin berkembang. Model-model kerajaan mulai muncul. Champa (Cambodia), Sriwijaya (Sumatra) dan Mataram Kuna (Jawa) kokoh di abad 8. Jalinan hubungan antara Champa dengan Jawa (Majapahit) semakin kuat di abad 14. Abad 15 Kerajaan Ayuthaya di Thailand memegang peran penting.

    Abad 15 wilayah Asia Tenggara diramaikan dengan masuknya pengaruh Islam dan kedatangan orang-orang Eropa. Kedua kebudayaan ini berjalin bersama dengan budaya China dan India yang lebih dulu memberi warna di Asia Tenggara. Meningkatnya perniagaan di wilayah Asia Tenggara didorong oleh berkembangnya teknologi kapal dan jalur pelayaran yang membuat perjalanan laut menjadi lebih mudah. Meski banyak pelayar-pelayar asing datang, namun kekuatan maritime Asia Tenggara tetap memegang peran penting dalam perniagaan di wilayah ini.

     

    Rempah-rempah

    Asia Tenggara adalah wilayah penting bagi utara dan barat. Sebab di wilayah inilah terdapat rempah-rempah yang tidak diproduksi di wilayah perniagaan yang lain. Meski Reid tidak terlalu memberikan peran penting kepada beras sebagai komoditas utama dari wilayah Asia Tenggara (khususnya Jawa) seperti yang disampaikan oleh Brown, namun Brown dan Reid sama-sama menyatakan bahwa rempah-rempah adalah produk utama yang membuat perniagaan di wilayah Asia Tenggara begitu ramai. Cengkeh, pala dan kayu Cendana dikirim dalam jumlah kecil ke utara dan ke barat sejak jaman Romawi dan jaman Dinasti Han di abad 10 (hal. 56).

    Harus diakui bahwa salah satu penyebab semangat berlayar orang-orang Eropa ke belahan dunia adalah upaya untuk mencari rempah-rempah. Semangat ini telah membuat jalur-jalur pelayaran baru terbuka. Semangat ini juga telah membuat teknologi kapal menjadi berkembang. Kapal-kapal yang dibuat menjadi lebih cepat dan lebih kuat untuk mengarungi samodra.

    Dengan masuknya kapal-kapal dari barat dan utara secara langsung, maka perniagaan rempah-rempah tidak lagi dimonopoli oleh orang Melayu dan orang Jawa. Pedagang-pedagang India, Arab dan Eropa mulai mengunjungi langsung tempat produksi rempah-rempah. Para pedagang ini mulai menebar pengaruh dan bersekutu dengan penguasa-penguasa lokal.

    Perniagaan rempah-rempah ini menimbulkan persaingan antarpedagang yang seringkali menimbulkan peperangan. Wilayah-wilayah seperti Aceh, Malaka, Makassar, Banten dan pesisir Jawa menjadi pelabuhan-pelabuhan yang ramai dengan pengaruh dari berbagai kebudayaan. Selain dari pengaruh agama, pengaruh senjata juga memegang peran besar dalam pembentukan wilayah Asia Tenggara menjadi seperti sekarang ini. Bahkan peperangan antarpedagang ini terjadi jauh di timur. Peperangan antara Belanda dengan Portugis dan Inggris terjadi di perairan Banda di Maluku, di pusat produksi pala.

    Kedatangan Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis dan Belanda di wilayah ini adalah dalam rangka mencari rempah-rempah. Semangat Belanda untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah telah menimbulkan sengketa dengan pelayar-pelayar Eropa lainnya. Semangat monopoli ini juga membuat Belanda melakukan berbagai tindakan licik untuk mendapatkan pengaruh dengan cara menumpangi persengketaan antarkeluarga di kerajaan-kerajaan di Nusantara.

    Islam berperan semakin penting di wilayah Asia Tenggara. Di abad 15, budaya Islam semakin berpengaruh di wilayah ini. Semakin banyaknya pedagang Islam dari Arab, India dan Champa membuat nilai-nilai Islam menjadi semakin diterima. Banyak pelabuhan-pelabuhan niaga di wilayah Asia Tenggara, khususnya Sumatra, Sulawesi Selatan dan Jawa menjadi Islam. Kekuatan Islam dipakai sebagai upaya penguasa-penguasa lokal untuk membendung ekspansi monopolis pedagang-pedagang Eropa. Islam menjadi kuat di Asia Tenggara karena pedagang-pedagang Eropa berperang satu dengan yang lain dan kekuatan Kesultanan Turki yang besar yang mendukung perkembangan Islam di Asia Tenggara. Islam menjadi besar juga karena sikap Belanda yang tidak membawa agama (Kristen) dalam ekspansinya ke Asia Tenggara. Belanda tidak alergi untuk bekerjasama dengan kesultanan Islam dalam merebut monopoli dari sesama pedagang Eropa.

     

    Sikap Toleran

    Brown menyampaikan bahwa orang Nusantaralah yang mengambil budaya dari India dan China. Bukan orang India dan China yang membawa agama dan budaya ke Nusantara. Pendapat Brown ini menunjukkan bahwa sesungguhnya orang-orang Asia Tenggara adalah orang-orang yang toleran terhadap budaya lain. Orang-orang Asia Tenggara bisa menerima - bahkan mengambil, budaya-budaya baru yang dianggap akan memperkaya budayanya.

    Demikian juga halnya dengan masuknya Islam dan Barat ke wilayah ini di abad 15. Kedua budaya baru ini pun diterima dan dileburkan ke budaya yang sudah ada. Kisah tentang perjumpaan Islam dan Kristen dengan Makassar yang diuraikan oleh Reid di bab 6 dan 7 sungguh sangat menarik. Kerajaan Gowa-Tallo membuka peluang berdagang dengan semua pihak. Matoaya bersikukuh memegang prinsip perdagangan bebas (hal 179). Penguasa Gowa-Tallo juga memberi respon yang setara terhadap Islam dan Kristen. Makassar mengundang ulama Aceh dan pemuka agama Kristen dari Malaka untuk menjelaskan tentang kedua agama ini (hal. 184). Bahkan menjelang kematiannya, Matoaya masih mempertimbangkan kebenaran-kebenaran argumen Islam dan Kristen (hal. 185). Artinya, Makassar memilih Islam setelah mempertimbangkan dengan masak-masak ajaran dan situasi yang ada saat itu.

    Bukti sikap toleran lainnya adalah kisah tentang Baron Sakender. Dalam mitos Jawa yang disinggung oleh Reid di halaman 236-238 ini terungkap jelas bagaimana orang Jawa mencoba mencari hubungan orang Belanda dengan orang Jawa. Dalam cerita Baron Sakender (Sakender adalah ucapan Jawa untuk Alexander Agung) menunjukkan bahwa orang Belanda yang datang ke Jawa (Jan Pieterszoen Coen) berasal dari seorang ibu keturunan Jawa Barat. Sikap mencari hubungan kekerabatan menunjukan sifat untuk menerima budaya/orang baru yang datang.

    Sikap toleran ini menjadi cara orang Asia Tenggara untuk bereaksi terhadap budaya baru yang masuk ke wilayahnya. Sehingga Reid menyimpulkan bahwa: “Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang dipersatukan oleh lingkungan, perniagaan, diplomasi dan perang, tetapi terpecah-pecah dalam beragam budaya dan pemerintahan” (hal. 18). Hal inilah yang menyebabkan Asia Tenggara tidak bisa dipersatukan dalam sebuah pemerintahan yang besar, seperti layaknya Eropa (Romawi), India dan China.

    Namun sikap toleran ini juga yang membuat hubungan antarbudaya di Asia Tenggara tetap terjalin dengan baik. Contohnya, saat wilayah pesisir telah berubah menjadi kerajaan-kerajaan Islam, namun mereka masih mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang mundur ke pedalaman.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.122 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).