Sejarah Modern Awal Asia Tenggara - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 14 Februari 2020 09:29 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

    Dibaca : 1.359 kali

    Resensi ini telah tayang di Harian Suara Merdeka dengan judul "Sikap Toleran Pelaut Hebat." (Suara Merdeka, tanggal 2 Februari 2020).

     

    Judul: Sejarah Modern Awal Asia Tenggara

    Penulis: Anthony Reid

    Tahun Terbit: 2019 (cetakan kedua)

    Penerbit: LP3ES                                                                                                        

    Tebal: xxiv + 398

    ISBN: 979-3330-05-3

     

    Ada tiga hal menarik yang saya dapat dari buku “Sejarah Modern Awal Asia Tenggara” karya Anthony Reid ini. Pertama, bahwa penghuni Asia Tenggara adalah para pelaut hebat, bahkan sebelum pelaut China, India dan Eropa memasuki wilayah ini. Kedua adalah adanya produk niaga yang sangat eksotik di wilayah ini; yakni rempah-rempah, khususnya pala dan lada. Ketiga adalah sikap tolerannya orang Asia Tenggara sehingga wilayah ini menyerap berbagai kebudayaan dari berbagai sumber.

    Ketiga faktor ini menjadi pembentuk Asia Tenggara menjadi seperti sekarang ini. Seandainya orang-orang yang meninggali kawasan Asia Tenggara bukanlah orang-orang yang pandai melaut, maka pala dan rempah-rempah lain di wilayah ini tak akan terekspose ke kebudayaan dunia yang lebih dulu berkembang. Meski dihuni para pelaut, namun jika tidak memiliki porduk eksotik, maka kawasan ini juga tidak akan menjadi ramai. Sedangkan faktor terakhir, yaitu sifat toleran terhadap hal-hal baru mempunyai dua mata pisau. Satu sisi membuat Asia Tenggara menjadi wilayah yang disukai oleh para pedagang, namun di sisi lain menimbulkan kondisi dimana Asia Tenggara menjadi ajang pertarungan budaya-budaya besar.

     

    Pelayar-pelayar Hebat

    Collin Brown dalam bukunya “A Short History of Indonesia” mengatakan bahwa bangsa yang menghuni Nusantara telah melakukan perdagangan ke dunia luar sejak abad pertama. Para pedagang inilah yang mengantarkan beras dan rempah-rempah ke negeri-negeri di barat dan di utara. Mereka juga yang mengambil unsur-unsur kebudayaan dari tempat-tempat (India dan China) yang dikunjunginya, kemudian mencangkokkan dalam budaya di Nusantara. Dua unsur utama kebudayaan yang diambil adalah agama (Hindu dan Budha) dan tata kelola pemerintahan.

    Apa yang dijelaskan oleh Brown ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Reid (hal. 59), bahwa orang-orang Austronesia yang meninggali wilayah Asia Tenggara telah berdagang secara aktif dengan pusat-pusat kebudayaan lain di luar Asia Tenggara. Reid menyatakan bahwa orang-orang Asutronesia membawa sendiri hasil bumi ke pasar internasional, menguasai jalur pelayaran semua rute Asia Timur – Eruasia dan telah berdagang dengan China dalam kurun waktu yang lama, setidaknya sampai dengan Dinasti Sung Selatan (1127-1129). Setidaknya sampai dengan abad 16, peran orang Melayu dan Jawa sangat dominan dalam perniagaan di wilayah Asia Tenggara (hal. 60). Relief di Candi Borobudur yang menggambarkan kapal besar juga menjadi bukti bahwa pada abad kedelapan, Jawa sudah memiliki kapal-kapal niaga yang canggih pada jamannya. Kemampuan berlayar dan berniaga masyarakat Asia Tenggara sudah terbukti dan tak bisa diragukan. Mereka inilah yang mula-mula membangun jalur perniagaan di Asia Tenggara.

    Perjumpaan Asia Tenggara dengan kebudayaan India membuat pengorganisasian masyarakat atau tata negara di wilayah ini menjadi semakin berkembang. Model-model kerajaan mulai muncul. Champa (Cambodia), Sriwijaya (Sumatra) dan Mataram Kuna (Jawa) kokoh di abad 8. Jalinan hubungan antara Champa dengan Jawa (Majapahit) semakin kuat di abad 14. Abad 15 Kerajaan Ayuthaya di Thailand memegang peran penting.

    Abad 15 wilayah Asia Tenggara diramaikan dengan masuknya pengaruh Islam dan kedatangan orang-orang Eropa. Kedua kebudayaan ini berjalin bersama dengan budaya China dan India yang lebih dulu memberi warna di Asia Tenggara. Meningkatnya perniagaan di wilayah Asia Tenggara didorong oleh berkembangnya teknologi kapal dan jalur pelayaran yang membuat perjalanan laut menjadi lebih mudah. Meski banyak pelayar-pelayar asing datang, namun kekuatan maritime Asia Tenggara tetap memegang peran penting dalam perniagaan di wilayah ini.

     

    Rempah-rempah

    Asia Tenggara adalah wilayah penting bagi utara dan barat. Sebab di wilayah inilah terdapat rempah-rempah yang tidak diproduksi di wilayah perniagaan yang lain. Meski Reid tidak terlalu memberikan peran penting kepada beras sebagai komoditas utama dari wilayah Asia Tenggara (khususnya Jawa) seperti yang disampaikan oleh Brown, namun Brown dan Reid sama-sama menyatakan bahwa rempah-rempah adalah produk utama yang membuat perniagaan di wilayah Asia Tenggara begitu ramai. Cengkeh, pala dan kayu Cendana dikirim dalam jumlah kecil ke utara dan ke barat sejak jaman Romawi dan jaman Dinasti Han di abad 10 (hal. 56).

    Harus diakui bahwa salah satu penyebab semangat berlayar orang-orang Eropa ke belahan dunia adalah upaya untuk mencari rempah-rempah. Semangat ini telah membuat jalur-jalur pelayaran baru terbuka. Semangat ini juga telah membuat teknologi kapal menjadi berkembang. Kapal-kapal yang dibuat menjadi lebih cepat dan lebih kuat untuk mengarungi samodra.

    Dengan masuknya kapal-kapal dari barat dan utara secara langsung, maka perniagaan rempah-rempah tidak lagi dimonopoli oleh orang Melayu dan orang Jawa. Pedagang-pedagang India, Arab dan Eropa mulai mengunjungi langsung tempat produksi rempah-rempah. Para pedagang ini mulai menebar pengaruh dan bersekutu dengan penguasa-penguasa lokal.

    Perniagaan rempah-rempah ini menimbulkan persaingan antarpedagang yang seringkali menimbulkan peperangan. Wilayah-wilayah seperti Aceh, Malaka, Makassar, Banten dan pesisir Jawa menjadi pelabuhan-pelabuhan yang ramai dengan pengaruh dari berbagai kebudayaan. Selain dari pengaruh agama, pengaruh senjata juga memegang peran besar dalam pembentukan wilayah Asia Tenggara menjadi seperti sekarang ini. Bahkan peperangan antarpedagang ini terjadi jauh di timur. Peperangan antara Belanda dengan Portugis dan Inggris terjadi di perairan Banda di Maluku, di pusat produksi pala.

    Kedatangan Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis dan Belanda di wilayah ini adalah dalam rangka mencari rempah-rempah. Semangat Belanda untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah telah menimbulkan sengketa dengan pelayar-pelayar Eropa lainnya. Semangat monopoli ini juga membuat Belanda melakukan berbagai tindakan licik untuk mendapatkan pengaruh dengan cara menumpangi persengketaan antarkeluarga di kerajaan-kerajaan di Nusantara.

    Islam berperan semakin penting di wilayah Asia Tenggara. Di abad 15, budaya Islam semakin berpengaruh di wilayah ini. Semakin banyaknya pedagang Islam dari Arab, India dan Champa membuat nilai-nilai Islam menjadi semakin diterima. Banyak pelabuhan-pelabuhan niaga di wilayah Asia Tenggara, khususnya Sumatra, Sulawesi Selatan dan Jawa menjadi Islam. Kekuatan Islam dipakai sebagai upaya penguasa-penguasa lokal untuk membendung ekspansi monopolis pedagang-pedagang Eropa. Islam menjadi kuat di Asia Tenggara karena pedagang-pedagang Eropa berperang satu dengan yang lain dan kekuatan Kesultanan Turki yang besar yang mendukung perkembangan Islam di Asia Tenggara. Islam menjadi besar juga karena sikap Belanda yang tidak membawa agama (Kristen) dalam ekspansinya ke Asia Tenggara. Belanda tidak alergi untuk bekerjasama dengan kesultanan Islam dalam merebut monopoli dari sesama pedagang Eropa.

     

    Sikap Toleran

    Brown menyampaikan bahwa orang Nusantaralah yang mengambil budaya dari India dan China. Bukan orang India dan China yang membawa agama dan budaya ke Nusantara. Pendapat Brown ini menunjukkan bahwa sesungguhnya orang-orang Asia Tenggara adalah orang-orang yang toleran terhadap budaya lain. Orang-orang Asia Tenggara bisa menerima - bahkan mengambil, budaya-budaya baru yang dianggap akan memperkaya budayanya.

    Demikian juga halnya dengan masuknya Islam dan Barat ke wilayah ini di abad 15. Kedua budaya baru ini pun diterima dan dileburkan ke budaya yang sudah ada. Kisah tentang perjumpaan Islam dan Kristen dengan Makassar yang diuraikan oleh Reid di bab 6 dan 7 sungguh sangat menarik. Kerajaan Gowa-Tallo membuka peluang berdagang dengan semua pihak. Matoaya bersikukuh memegang prinsip perdagangan bebas (hal 179). Penguasa Gowa-Tallo juga memberi respon yang setara terhadap Islam dan Kristen. Makassar mengundang ulama Aceh dan pemuka agama Kristen dari Malaka untuk menjelaskan tentang kedua agama ini (hal. 184). Bahkan menjelang kematiannya, Matoaya masih mempertimbangkan kebenaran-kebenaran argumen Islam dan Kristen (hal. 185). Artinya, Makassar memilih Islam setelah mempertimbangkan dengan masak-masak ajaran dan situasi yang ada saat itu.

    Bukti sikap toleran lainnya adalah kisah tentang Baron Sakender. Dalam mitos Jawa yang disinggung oleh Reid di halaman 236-238 ini terungkap jelas bagaimana orang Jawa mencoba mencari hubungan orang Belanda dengan orang Jawa. Dalam cerita Baron Sakender (Sakender adalah ucapan Jawa untuk Alexander Agung) menunjukkan bahwa orang Belanda yang datang ke Jawa (Jan Pieterszoen Coen) berasal dari seorang ibu keturunan Jawa Barat. Sikap mencari hubungan kekerabatan menunjukan sifat untuk menerima budaya/orang baru yang datang.

    Sikap toleran ini menjadi cara orang Asia Tenggara untuk bereaksi terhadap budaya baru yang masuk ke wilayahnya. Sehingga Reid menyimpulkan bahwa: “Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang dipersatukan oleh lingkungan, perniagaan, diplomasi dan perang, tetapi terpecah-pecah dalam beragam budaya dan pemerintahan” (hal. 18). Hal inilah yang menyebabkan Asia Tenggara tidak bisa dipersatukan dalam sebuah pemerintahan yang besar, seperti layaknya Eropa (Romawi), India dan China.

    Namun sikap toleran ini juga yang membuat hubungan antarbudaya di Asia Tenggara tetap terjalin dengan baik. Contohnya, saat wilayah pesisir telah berubah menjadi kerajaan-kerajaan Islam, namun mereka masih mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang mundur ke pedalaman.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: honing

    1 hari lalu

    Matematika Lokal ala Suku Atoin Meto di NTT

    Dibaca : 315 kali

    Penulis: Honing Alvianto Bana Mari menuju selatan nusantara sejenak dan singgah di salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur. Pulau yang terdiri dari dua negara, yaitu negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, yang merupakan bagian dari Indonesia. Timor Barat adalah wilayah yang mencakup bagian barat Pulau Timor. Secara administratif, Timor Barat merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Salah satu suku yang berdiam di wilayah Timor Barat adalah suku Atoni Meto. Suku ini tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Timor yang terletak di bagian selatan provinsi NTT. Atoni Meto terdiri dari dua kata yakni Atoni berarti orang atau manusia, dan Meto yang secara harafiah berarti tanah kering. Pada umumnya orang biasa menyebutkan Atoni Pah Meto yang berarti “orang-orang dari tanah kering” (H.G Schurtle Nordolt,1966, hal.18). Sebetulnya, suku bangsa dan kelompok etnis yang mendiami Timor Barat ini sampai dengan sekarang masih terdapat interpretasi yang berbeda-beda. Orang Belu, menyebutnya dengan orang Dawan. Sementara para pedagang asing dari luar Timor menyebutnya Atoni. Ormeling mempergunakan sebutan The Timorese Proper (orang-orang Timor khusus). Sementara Middelkoop mempergunakan ungkapan: people of the Dry Land (Atoni Pah Meto) yang artinya: penduduk, manusia atau orang dari tanah kering.(Ormeling, 1967). Pada prinsipnya ungkapan yang dipergunakan Middelkoop lebih tepat, aktual dan relevan. Atoni Pah Meto (People of the Dry Land) artinya: penduduk, manusia, atau orang dari tanah kering (Peter Middelkoop,1982,hal.143). Matematika Matematika adalah gerbang ilmu pengetahuan. Mengabaikan matematika akan melukai semua pengetahuan. Seperti itulah kata Roger Bacon, filsuf asal ingris yang lahir pada 1214. Matematika adalah cara berpikir mahluk hidup sejak mula. Seekor ayam akan tahu jumlah telur yang ia tetaskan. Manusia memakai konsep “sedikit” dan “banyak” dalam berebut sumber daya alam untuk memenuhi nafsu atau sekadar bertahan hidup. Matematika adalah dasar pikir mahluk hidup yang memiliki otak. Matematika juga adalah tanda kehidupan sosial. Semakin kompleks konsep matematika, kian kompleks pula hidup kita. Ketika orang Babilonia belum memikirkan dan menemukan angka 0, pikiran manusia hanya soal bertahan hidup. Ketika angka 0 ditemukan di India, arsitektur berkembang sangat pesat. Kini kita mengenal komputer yang super-canggih berkat algoritma. Dalam sebuah buku berjudul A Brief History of Mathematical Thought , Luke Heaton—matematikawan dari Universitas Oxford, Inggris—melacak konsep matematika ke zaman purba, ke sejarah Yunani, Mesir Kuno, hingga Mesopotamia. Dari Heaton kita tahu bahwa konsep bilangan jauh lebih tua ketimbang konsep percakapan. Matematika sama tuanya dengan bahasa manusia. Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Tapi matematika bukan semata bilangan. Matematika adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting. Seperti bahasa, dalam rumus dan konsep matematika yang paling penting adalah argumen. Juga seperti bahasa, matematika adalah pola yang disusun dan ditemukan lalu dikonsepsikan menjadi rumus, menjadi torema. Orang Mesopotamia sudah memakai perhitungan Phitagoras dalam menghitung bidang persegi, ratusan tahun sebelum Phitagoras lahir. Mereka bahkan sudah merumuskan konsep dasar perhitungan sudut dan lingkaran yang kini kita kenal sebagai ilmu trigonometri. Etnomatematika Tiap-tiap kebudayaan punya konsep matematikanya sendiri. Orang Sumeria kuno, misalnya, tak memakai bilangan persepuluh dalam konsep perhitungan, tapi kelipatan 60. Karena itulah kita mengenal sudut 3600 atau satu jam sama dengan 60 menit, dan satu menit adalah 60 detik. Penggunaaan nilai-nilai matematika dalam suatu kebudayaan atau adat istiadat yang ada pada suatu komunitas masyarakat disebut etno-matematika. Istilah 'Ethnomathematics' yang selanjutnya dikenal dengan Etnomatematika adalah “The prefix ethno is today accepted as a very broad term that refers to the socialcultural context and therefore includes language, jargon, and codes of behavior, myths, and symbols. The derivation of mathema is difficult, but tends to mean to explain, to know, to understand, and to do activities such as ciphering. Measuring, classifying, inferring, and modeling. The suffix tics is derived from techné, and has the same root as technique.(D'Ambrosio : 2006) Mengacu pada konteks sosial budaya, etnomatematika termasuk bahasa, jargon, kode perilaku,mitos, dan symbol. Sederhananya, ethnomathematika merupakan bidang penyelidikan yang mempelajari ide-ide matematika dalam konteks kebudayaan-sejarah. Etnomatematika sudah digunakan oleh suku Atoin Meto dalam menjalani kehidupan bermasyarakat sejak zaman dahulu. Hal itu bisa kita telusuri dari para peniliti tentang Timor sejak awal abad ke-15. Misalnya, tulisan Fei Hsin(1436) dan Wang Ch’i-tsung (1618) yang memuat gambaran mengenai ciri khas fisik dan pola kehidupan masyarakat Pulau Timor. Dalam tulisan tersebut digambarkan bahwa mereka (Atoni Pah Meto) menghitung dengan mempergunakan batu-batu ceper dan simpul tali. Informasi seperti ini seharusnya diteliti untuk mendalami alasan-alasan paling fundamental mengapa masyarakat Atoim Meto menggunakan sistem dan cara hitung seperti itu. Selain itu, sangat penting dilakukan catatan lepas untuk mengkaji tradisi-tradisi lisan orang Timor yang masih tercecer di mana-mana. Matematika Atoin Meto Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Masyarakat Atoin meto pun demikian. Masyarakat Atoin Meto memiliki cara tersendiri untuk menghitung hasil panen, mengukur luas lahan, jumlah orang dan lain-lain. Untuk keperluan itu, akan saya jelaskan satu-persatu. *Menghitung hasil panen Sebagian besar Atoin Meto hidup dari hasil bertani dan berladang. Mereka menanam jagung dari awal bulan november dan memanennya pada sekitar bulan maret dan april. Ketika musim panen tiba, Atoin Meto akan mengumpulkannya hasil panen tersebut disuatu ruangan tersendiri. Setelah itu, jagung dibersihkan, dipilih dan pilah untuk disimpan ditempat tersendiri atau disiapkan sebagai bibit. Sebelum jagung disimpan di ume kbubu (rumah tradisional orang Timor). Masyarakat Atoin Meto terlebih dahulu akan menghitung hasil panen agar kemudian bisa dibandingkan dengan hasil panen pada tahun-tahun sebelumnya. Nah, untuk kebutuhan itu saya perlu kembali ke dasar-dasar pemahaman matematika untuk memudahkan dalam memahami cara Atoin Meto berhitung. Sampai saat ini, saya meyakini bahwa matematika adalah sebuah upaya mengabstraksi kenyataan. Maksud saya begini, jika 1 + 1 = 2, maka itu sebenarnya hanyalah sebuah abstraksi dari, misal, "satu Sapi ditambah dengan satu Sapi" dan "hasilnya adalah dua Sapi". Bilangan 1 adalah abstraksi dari 'satu Sapi' dan bilangan 2 adalah abstraksi dari 'dua Sapi'. Atau, misal yang lain, adalah abstraksi dari "satu ayam ditambah satu ayam" adalah "dua ayam". Dalam cara berhitungnya orang Atoin Meto, mereka menghitungnya dengan membuat pengelompokan yang diberi nama tersendiri. Nama (lambang) tersebut menggambarkan jumlah (biasanya jagung) yang sudah mereka sepakati. Masyarakat Atoin Meto menggunakan nama: satu ikat, satu tali, satu suku, satu liar, dan satu kuda untuk menggambarkan jumlah hasil panen. Penjelasannya, sebagai berikut: *Satu ikat= 8 buler jagung. *Satu tali= 2 Ikat. *Satu suku= 12 tali. *Satu liar= 4 Suku *Satu kuda= 20 ikat atau 10 tali. Pertama, 1 ikat = 8 buler jagung. Artinya, dalam satu ikat terdiri dari delapan buler jagung Kedua, 1 tali = 2 ikat. Artinya, dalam satu tali terdapat dua ikat. Dalam 2 ikat jagung terdapat 16 buler jagung, atau satu ikat (8) + satu ikat (8)= 16 buler jagung. Ketiga, 1 suku = 12 tali. Artinya, dalam satu suku terdapat 12 tali. Dalam 1 suku terdapat 192 buler jagung, atau 16×12= 192. Keempat, 1 liar = 4 suku. Artinya, dalam satu liar terdapat 4 suku. Dalam 1 liar terdapat 768 buler jagung, atau 192×4= 768. Kelima, 1 kuda = 20 ikat atau 10 tali. Dalam 1 kuda terdapat 160 buler jagung. Atau 10×16, atau bisa juga 20×8 =160. * Mengukur jarak dan jumlah jiwa Mengukur umumnya berkaitan dengan pertanyaan "berapa (panjang, lebar, tinggi, lama, dan banyak)". Pada masyarakat Atoin Meto, alat ukur yang digunakan sangat bervariasi baik jenis maupun penggunaannya. Misalnya, untuk mengukur panjang dan lebar suatu lahan, masyaratkat Atoin Meto pada zaman dahulu sering menggunakan 5 jingkal (dari ujung ibu jari sampai ke ujung jari telunjuk) orang dewasa untuk ukuran 1 meter. Awalnya, mereka mengukurnya pada sebatang kayu atau seutas tali. Kemudian, barulah sebatang kayu atau seutas tali itu mereka gunakan untuk mengukur panjang dan lebar sebuah lahan. Berbeda lagi, jika ingin menghitung jumlah orang. Untuk menghitung jumlah orang, mereka menghitung dengan menggunakan batu kerikil atau setumpuk biji jagung. Setiap jiwa (orang) dihitung mewakili satu jiwa. Hal ini masih bisa kita temui pada saat pemilihan kepala desa, maupun saat mengikuti kebaktian (ibadah mingguan) pada beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Matematika dan bahasa lokal Menggali kembali matematika lokal perlu untuk terus digalakan. Ini penting karna matematika bukan semata bilangan. Ia adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting, tapi argumen. Kebudayaan yang berisi nilai-nilai dan pengetahuan lokal dicipta dan dikostruksi dengan perantara seperangkat bahasa. Dengan demikian, bahasa lokal Atoin Meto dan matematika lokal beserta pengetahuan-pengetahuan lokal lainnya haruslah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terakhir, catatan ini merupakan sebagian kecil "rekaman" tentang cara masyarakat Atoin Meto dalam berhitung. Tentu, masih terlalu jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu, diharapkan usaha dari generasi muda Atoin Meto dalam mengumpulkan kisah,cerita-cerita, dan berbagai gambaran mengenai kehidupan Masyarakat Atoin Meto pada masa silam. Sumber * Damasius sasi. Perubahan Budaya Kerja Pertanian Lahan Kering Atoni Pah Meto Di Kabupaten Timor Tengah Utara. Paradigma Jurnal Kajian Budaya, Pascasarjana UNDANA, Vol. 6 No. 2 (2016). * Ikhwanudin. Pembelajaran Matematika Berbasis Kearifan Lokal Untuk Membangun Karakter Bangsa. Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6 No 1, Maret .2018. * Agusthanto A. Makna Dan Simbol Dalam Kebudayaan. Fakultas Ilmu Dan Budaya ULK, Jurnal Ilmu Budaya, Vol. 8. 1. (2011) * Silab, Konahebi, Bessie. Rumah Tradisional Suku Bangsa Atoni. Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1996/1997. * Gregor Neonbasu. Kebudayaan Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya). Gramedia Pusustaka Utama. 2012.