Dakwah dan Covid-19 - Analisa - www.indonesiana.id
x

covid

ariyani syahniar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Januari 2020

Kamis, 26 Maret 2020 08:45 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Dakwah dan Covid-19

    Dibaca : 505 kali

    Dakwah dan Covid-19

     

                            Hari ini dunia sedang diuji wabah Covid-19 atau yang dikenal dengan virus corona. Wabah yang pertama kali muncul di Wuhan China pada akhir 2019 ini sudah menjadi pandemi atau sebagai masalah global sebagaimana dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penambahan kasus terus terjadi setiap harinya, tercatat 381.653 kasus terinfeksi di 195 negara dan 102.429 orang dinyatakan sembuh (Kompas.com-24/03/20, 12:33 WIB). Bermacam cara untuk menangkal penyebaran virus dilakukan berbagai negara melalui kebijakan-kebijakan pemerintah.

                            Dalam perspektif Islam, setiap peristiwa merupakan takdir Allah yang pada hakikatnya adalah ujian dan cobaan atas keimanan manusia. Sikap muslim melawan wabah tentunya dengan menggabungkan antara keyakinan agama, rasio, dan otoritas kekuasaan sebagai penyelesaian. Dengan demikian, keterlibatan ulama dalam pencegahan virus ini sangat penting.

                            Di tengah kepanikan wabah, seorang muslim selaku anggota masyarakat yang sekaligus sebagai da’i harus menjalankan kewajiban dakwahnya dengan mengingatkan masyarakat agar selalu memperkuat keimanan yang menuntun pada kesabaran. Saling membantu dan menguatkan sesama, juga tidak memanfaatkan kondisi demi keuntungan pribadi. Mengikutsertakan para ulama dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan menenangkan masyarakat melalui ceramahnya bisa menjadi salah satu solusi di negara mayoritas berpenduduk muslim seperti Indonesia. Menuntun masyarakat agar selalu mengingat Allah yang menciptakan virus ini dan dengan doa meminta pertolongan-Nya lah Covid-19 akan musnah jika Allah menghendaki.

                Islam sebagai agama yang sempurna sangat menuntun pengikutnya agar menjaga kebersihan. Maka sudah seharusnya para muslimin berikhtiar, mengambil sebab-sebab antisipasi dengan memperhatikan sunnatullah, rajin berwudhu, mencuci tangan, dan menggunakan alat pelindung seperti masker ketika berinteraksi di luar. Selanjutnya, bertawakal atas setiap ketentuan, karena tidak ada seorang pun yang ingin tertimpa musibah sebagaimana tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya akan terbebas dari virus corona.

                Mengingat dakwah dalam Islam adalah bukti ketaatan seorang muslim, maka dakwah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam keramaian virus corona ini. Umat Islam bergerak secara responsif, tidak hanya menjadi pemantau, namun juga menjadi penolong korban dan pencegah penyebaran melalui pendekatan rasional dan spiritual dengan berikhtiar dan berdoa. Wallahu a’lam.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.