Kenangan Manis Sail Morotai 2012 - Travel - www.indonesiana.id
x

Sumber: Efrimal Bahri / Humas MKP

Gilang Saputra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 April 2020

Rabu, 8 April 2020 12:54 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kenangan Manis Sail Morotai 2012

    Dibaca : 1.394 kali

    Hamparan pasir putih yang indah, birunya laut, dan udara yang sejuk merupakan gambaran singkat Morotai. Kabupaten Pulau Morotai terletak di Kepulauan Halmahera, Kepulauan Maluku, Provinsi Maluku Utara. Morotai juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Tidak heran jika banyak wisatawan yang melakukan aktivitas menyelam. Hal yang lebih menarik lagi adalah Morotai menyimpan artefak sejarah Perang Dunia II secara apik. Pada Perang Dunia II, Morotai digunakan sebagai basis pertahanan udara yang diperebutkan secara sengit oleh Amerika dan Jepang.

    Peresmian Sail Morotai 2012

    Pada 15 September 2012, ditandai dengan pemukulan tifa yang merupakan alat musik khas Maluku. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka Sail Morotai 2012 di Desa Juanga, Kabupaten Pulau Morotai. Perhelatan ini diikuti oleh 124 kapal dari 17 negara. Presiden secara khusus mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada keluarga veteran Perang Dunia II yang datang dari Amerika, Australia, dan Jepang, serta para pejuang dan veteran Operasi trikora. Menurut Presiden, sebagai perhelatan bahari berskala internasional, Sail Morotai merupakan momentum yang tepat untuk mempromosikan kekayaan dan keragaman bahari kepulauan Nusantara kepada komunitas international. “Sail Morotai juga sangat penting untuk meletakkan kembali kejayaan maritim bangsa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia,” katanya dalam Tempo 15 September 2012.

    Tujuan diadakannya Sail Morotai adalah percepatan pembangunan dan pengembangan potensi kelautan, serta promosi wisata. Biaya yang dikeluarkan 80 miliar rupiah diluar pembangunan infrastruktur. Namun 3 tahun berselang, bekas-bekas akomodasi di Pulau Dodola masih terlihat tetapi kondisinya tentu sudah jauh berbeda saat perhelatan dilakukan. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat biaya yang dikeluarkan oleh pemerentah tidak sedikit. Pembangunan infrastruktur memang penting, namun memelihara untuk tetap berfungsi adalah suatu hal yang berbeda. Keterlibatan masyarakat dan instansi terkait penting adanya. Agar pemeliharaan terhadap infrastruktur bisa dapat terus dilakukan.

    Kondisi Infrastruktur Morotai 2015

    Beruntungnya karena Morotai memiliki potensi sejarah Perang Dunia II dan wisata bahari. Pada tahun 2016 di era Presiden Joko Widodo memasukkan Morotai sebagai 10 Destinasi Prioritas untuk menjadi 10 Bali Baru. Hal ini tentunya membawa angin segar bagi masyarakat sekitar.

    Pada dasarnya, pembangunan pariwisata merupakan pembangunan yang berkesinambungan dan bertujuan untuk mewujudkan suatu pembangunan yang terkendali yang mempertimbangkan generasi yang lalu dan yang akan datang. Ditinjau dari sudut pembangunan yang berkesinambungan, maka pembangunan pariwisata harus memperhatikan unsur kualitas pengalaman, kualitas sumber daya dan kualitas kehidupan (Dirjen Pariwisata 1991/1992:5). Oleh karena itu, cara yang bisa dilakukan untuk terus menjaga dan memelihari infrastruktur yang sudah dibangun adalah dengan cara bekerja sama antar instansi terkait untuk meminimalisir kerusakan. Cara kedua adalah dengan sosialisasi kesadaran masyarakat tentang pentingnya destinasi wisata di Morotai sebagai asset sejarah dan wisata di Indonesia.

    Kondisi Infrastruktur Morotai 2015

    Semoga setelah Morotai masuk sebagai salah satu destinasi dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dapat menjaga dan memelihara tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga budaya masyarakat. Sehingga kedepannya atraksi yang ditawarkan dapat berupa tangible dari lanskapnya dan intangible dari budayanya. (Ayu, 2014) menambahkan bahwa komunitas dapat menjadi sumberdaya pariwisata. Masyarakat dan lingkungan menawarkan alam, budaya, dan bahkan kegiatan ekonomi menjadi komoditas pariwisata bagi wisatawan. Interaksi masyarakat dengan wisatawan diperlukan dalam membangun pariwisata berkelanjutan untuk jangka panjang. Atraksi kultural berupa kehidupan tradisional, ritual, upacara keagaaman, festival, events, seni dan musik, tarian, makanan daerah atau aktivtas ekonomi masyarakat (nelayan). Apabila kedua hal tersebut dapat dipadukan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan dapat meningkatkan roda perekonomian masyakat sekitar serta menambah cadangan devisa bagi pemerintah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.