x

Nadiem

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 4 Mei 2020 14:24 WIB

Kekagetan Nadiem Atas Keluhan Rakyat, Membuka Aib Sendiri

Kondisi ekonomi dan pendidikan masyarakat Indonesia sudah dipahami masih memprihatinkan dan tak merata, namun Nadeim masih kaget.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan kaget luar biasa atas kondisi masyarakat Indonesia, masih ada yang tidak ada sinyal TV dan tidak punya listrik, apakah ini hal yang wajar? 

Pernyataan kekagetan Nadiem dalam telekonferensi yang disiarkan di YouTube Kemendikbud RI, Sabtu (2/5/2020) ini pun bisa ditafsirkan kepada beberapa hal. Semisal, secara pribadi, Nadiem ternyata belum menguasai data tentang kondisi rakyat Indonesia secara menyeluruh. 

Padahal sejak dilantik pada Rabu (23/10/2019), di Istana Negara, Jakarta, oleh Presiden Jokowi menjadi Mendikbud Kabinet Indonesia Maju, hingga Nadeim kaget, terhitung kurang lebih sudah 8 bulan masa kerja.  

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bila demikian, maaf, ke mana saja Mas Nadiem ini selama 8 bulan ini? Kekagetan Nadiem juga dapat ditafsirkan, ke mana dan apa saja yang telah dikerjakan pemerintahan Jokowi untuk kesejahteraan rakyat menjelang dua periode pemerintahan? 

Atau juga dapat ditafsirkan ke mana dan apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintahan sebelum Jokowi? Sungguh kekagetan Nadiem menjadi ironi di tengah bangsa yang menjelang 75 tahun merdeka. 

Saat Nadiem kaget, rakyat malah tidak pernah kaget kalau bantuan sosial dll dalam masa pandemi corona juga banyak yang salah sasaran. Rakyat miskin terus menderita, karena tidak terdata, sementara rakyat tak miskin malah dapat sembako dan bantuan uang. 

Atas kondisi ini, selalu alasannya adalah masih belum sempurnanya pendataan penduduk. Persoalan masyarakat miskin dan tak berpendidikan, serta tak memiliki sarana untuk menunjang pendidikan, terus menjadi hal yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah, meski bangsa ini menjelang 75 tahun merdeka. 

Tidak lucu rasanya, bila Nadiem mengungkapkan kekagetannya. Apa yang diungkap Nadiem, bahkan dalam telekonferensi resmi, sungguh membuka borok sendiri, aib sendiri. 

Ibarat peribahasa, "Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri". Seolah Nadiem malah sedang menelanjangi pemerintah karena rakyatnya masih ada yang seperti ini. 

Namun demikian, kita jadi bersyukur, hikmah dari pandemi corona, membuat Mendikbud jadi tahu kondisi rakyat yang sebenarnya. Bila tidak ada pandemi corona, mungkinkah Nadiem akan tahu masalah rakyat ini? 

Rakyat kita masih banyak menderita. Berbagai macam kesulitan orang-orang untuk sekolah-sekolah dan guru-guru untuk belajar melalui jarak jauh di masa corona tidak dapat berjalan sesuai harapan itu. 

Kendati ada  opsi online learning, tetapi banyak pula yang tidak punya koneksi internet atau tidak mampu kuota. Lalu, dibuat belajar melalui TVRI dari rumah. Ternyata belajar melalui TVRI pun ada yang tidak terjangkau sinyal TV, ada yang tidak memiliki fasilitas listrik. 

Inilah fakta Indonesia terkini Mas Nadiem, yang sebenarnya, rakyat di daerah juga sudah mengeluh dan teriak lama, karena adanya kesenjangan pembangunan di daerah tertinggal, kesenjangan ekonomi, bagimana mau menjalankan program pendidikan online? Bagaiamana mau mempraktikan kurikulum baru berbasis teknologi dan digital? 

Jadi inilah fakta Indonesia. Sangat jauh dengan apa yang selama ini diributkan oleh para elite partai di parlemen dan pemerintahan yang hanya memikirkan kepentingan diri dan partainya serta bagaimana "mengabdi" kepada cukong. Lalu, memainkan sandiwara "kisruh" demi mencari panggung.

Jangankan masyarakat di pelosok yang tertinggal, masyarakat di Jabodetabek saja, meski untuk listrik ada, namun sarana untuk menyerap pendidikan berbasis tekonologi dan digital, masih banyak yang kesusahan. Masih banyak yang tidak memiliki handphone, laptop, hingga TV. Ada yang punya handphone, tapi juga tak memiliki uang untuk beli pulsa.

Seharusnya, selama hampir 8 bulan bekerja, Nadiem sudah dapat memetakan kondisi yang ada. Bukan malah kaget. Kalau begini, kan yang tercoreng jadi banyak. 

Satu hal lagi, dalam telekonferen resmi, sebaiknya, ditengah kesedihan masyarakat terutama di daerah tertinggal, Mas Menteri tidak usah bicara dengan kosa kata asing, bicara saja dengan bahasa Indonesia. Ini Indonesia Mas! 

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB