Pengalaman Lintas Budaya, Jepang-Indonesia - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Mahasiswa/i pertukaran pelajar asal Jepang sedang berfoto di gedung Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran.

Alwin Jalliyani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Januari 2020

Minggu, 10 Mei 2020 07:10 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Pengalaman Lintas Budaya, Jepang-Indonesia

    Dibaca : 751 kali

    Pengalaman lintas budaya ini disampaikan oleh Togawa Maria Nadap. Mahasiswi Tenri University asal Jepang yang sedang melakukan pertukaran pelajar di Universitas Padjajaran (Unpad). Ia menceritakan banyak hal mulai dari masa adaptasi di Indonesia, proses menerima kebudayaan Indonesia, dan berbagai cerita terkait kebudayaan Jepang.

    Persepsi – Culture Shock - Intercultural Adjustment

    Sebelum ke Indonesia, Maria menilai Indonesia sebagai negara yang indah karena pernah melihat foto panorama Bali di Instagram. Namun, ia merasa khawatir karena tidak bisa berbahasa Indonesia. Kekhawatiran ini diperparah oleh ketakutannya akan ketidakpastian kehidupan di Indonesia.

    Sebulan pertama, ia mengalami culture shock. Kondisi ketika seseorang mendapatkan realitas berbeda dengan kebudayaan asalnya. Di Jepang, penduduknya tidak diwajibkan memiliki agama. Maria merupakan orang yang tidak percaya Tuhan, ia hanya mempercayai apa yang terlihat oleh mata. Namun, secara administratif ia memilih agama Kristen. Ia merasa risih ketika setiap minggu teman-temannya mengajak ke Gereja.

    Kebiasaan makan sambil ngobrol dengan teman adalah hal yang lumrah di Indonesia. Ia merasa aneh ketika di tempat makan suasananya berisik. Fenomena ini tidak ditemukan di Jepang. Disana restoran melarang pelanggannya untuk berisik, jika ingin berbicara harus pelan untuk  menghargai pelanggan lain.

    Maria menilai masakan Indonesia mayoritas pedas. Selain pedas, makanan Indonesia manis, asin, memiliki banyak rasa. Sedangkan di Jepang, makanan yang biasa dimakan rasanya tawar, hanya memakai garam saja. Tidak banyak eksperimen bumbu pada masakan. Tiga minggu pertama ia kerap sakit perut karena makanan yang pedas dan kotor. Akhirnya ia memilih hanya mengonsumsi fast food karena sulit menemukan makanan yang sesuai.

    Cukup sering ia berobat karena demam dan sakit perut ke Puskesmas. Sebelum berobat, ibu indekos selalu memaksa untuk sarapan terlebih dahulu. Ketika di Jepang ia tidak pernah sarapan. Maria pernah hampir menangis saat dipaksa sarapan bubur karena mual. Perutnya tidak terbiasa diisi makanan pagi hari.

    Pernah suatu waktu, ia mengalami konflik dengan penghuni indekosnya yang beragama Islam. Saat itu Maria sedang memasak makanan Jepang berbahan dasar babi di dapur umum. Temannya datang dan menanyakan apa yang sedang ia masak. Setelah mengetahui bahan dasarnya daging babi, temannya marah dan memberikan nasehat hingga dua jam. Menurut Maria, seharusnya dia jangan marah, mengingat yang tinggal disana bukan hanya orang islam, tapi ada agama lain juga.

    Bulan kedua ia mulai bisa menyesuaikan dengan kebudayaan Indonesia. Ia mulai menyukai masakan padang, dengan catatan tidak memakai sambal. Makanan lain seperti sate, nasi goreng, dan martabak merupakan kesukaannya juga. Untuk mencegah sakit perutnya kambuh, ia menghindari makanan-makanan pedas.

    Selain berkuliah, ia juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Pecinta Budaya Minang. Maria merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya. Menurutnya, mereka lah yang membantunya menyesuaikan diri dengan kebudayaan Indonesia. Mereka ramah dan perhatian, suatu hal yang tidak didapatkan di Jepang.

    Dimensi Budaya

    Budaya Power Distance yang diterapkan di Jepang termasuk tinggi. Hal ini disampaikan Maria karena masyarakat Jepang sangat patuh dan tunduk terhadap kebijakan pemerintah. Mereka mempercayai pemerintah sepenuhnya. Jarang sekali pejabat negara mendapatkan protes dan kritik. Contoh nyatanya adalah di Jepang sangat jarang sekali adanya demo yang dilakukan masyarakat.

    Berlawanan dengan rendahnya budaya Power Distance di Indonesia. Masyarakat lebih vokal dalam menyuarakan kritik terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Ketika ada kebijakan yang tidak sesuai, langkah pengerahan massa berupa aksi dan demo kerap dipilih untuk menyuarakan tuntutan.

    Skor Uncertainly Avoidance yang dimiliki Jepang cukup tinggi. Masyarakat disana tidak menyukai ketidakpastian. Mereka menyukai stabilitas dan kemapanan struktur sosial. Maria memberi contoh, masyarakat Jepang lebih suka bekerja di kantor dibanding mendirikan usaha baru. Mereka menuntut ilmu agar bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Ketika sudah mendapatkan pekerjaan, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan posisinya.

    Dalam hal ini, Jepang dan Indonesia memiliki kesamaan. Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak suka mengambil resiko. Tingginya angka pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil menandakan kecenderungan masyarakat untuk menjadi pegawai. Pola pekerjaan yang sama dengan di Jepang.

    Masyarakat Indonesia kental dengan gotong royong, guyub, dan kecenderungan untuk berkelompok. Berbanding terbalik dengan kebudayaan di Jepang. Sifat Individualist sangat kentara. Mereka mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan kelompok. Masyarakat Jepang tidak terbiasa dengan kerumunan.

    Maria membandingkan pola kehidupan mahasiswa di Jepang dengan di Indonesia. Di Jepang, ketika selesai kuliah, mereka langsung menuju rumahnya masing-masing. Tidak ada agenda berkumpul untuk bersenda gurau. Hal ini berbanding terbalik dengan yang ia rasakan ketika berkuliah di Indonesia. Selepas kelas, teman-temannya selalu mengajak untuk makan bersama. Menunjukan sifat masyarakat Indonesia yang lebih kolektif.

    Sifat yang dimiliki masyarakat Jepang tergolong maskulin. Menurut  Maria, kesimpulan ini didapat dari kebiasaan mereka yang mengutamakan diri sendiri. Mereka hidup dengan ketegasan dan kedisiplinan. Hal ini diperkuat dengan tingkat persaingan dunia kerja yang tinggi.

    Sedangkan sifat masyarakat Indonesia cenderung feminin. Sifat feminin identik dengan rasa peduli, saling mendukung, dan mengutamakan hubungan baik. Masyarakat dengan sifat ini lebih permisif karena mengedepankan emosional daripada rasional.

    Ia menceritakan perbandingan budaya dosen di Jepang dengan di Indonesia. Suatu hari di Jatinangor, ia datang ke kampus lima belas menit sebelum waktu perkuliahan, sesuai kebiasaannya di Jepang. Namun, dosen datang terlambat sepuluh menit, mahasiswa yang hadir memaklumi keterlambatan tersebut.

    Maria heran melihat fenomena dosen terlambat mengajar ke kelas. Selama ia menimba ilmu di Jepang, belum pernah pengajar terlambat datang. Hal ini selaras dengan Masculinity masyarakat Jepang yang mengedepankan kedisiplinan dan ketegasan.

    Ketika mengerjakan sesuatu, masyarakat Jepang cenderung untuk fokus mengerjakan hal tersebut supaya hasilnya maksimal. Tanpa memikirkan apa yang akan dilakukan setelah itu. Kebiasaan ini terkait dengan Short Term Orientation mereka.

    Kebiasaan ini dirasakan langsung oleh Maria. Sekarang ia sedang mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia. Namun, ia tidak tahu apakah ilmu yang dipelajari bisa berguna saat bekerja nanti. Daripada memikirkan sesuatu yang belum terjadi, ia memilih untuk memaksimalkan apa yang sedang dijalani. Pola pemikiran serupa bisa ditemukan pada masyarakat Jepang yang sedang bekerja.

    Orientasi serupa terjadi dalam masyarakat Indonesia. Short  Time Orientation terlihat dari tujuan dibalik rutinitas yang dikerjakan. Mayoritas mereka hanya memikirkan untuk memenuhi kebutuhan hari ini saja, terutama mereka yang bekerja harian. Adanya pepatah mengalir seperti air menggambarkan kebiasaan menjalani saja dulu, perihal masa depan gimana nanti.

    Meskipun memiliki ketimpangan budaya sosial yang cukup tinggi, bukan tidak mungkin bisa hidup berdampingan. Hal ini dibuktikan oleh Maria yang mampu bertahan dan menyesuaikan dengan budaya Indonesia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.