Setelah Finlandia, Giliran Anak Sekolah di Perancis Terpapar Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sekolah Finlandia

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 20 Mei 2020 18:54 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Setelah Finlandia, Giliran Anak Sekolah di Perancis Terpapar Corona

    Dibaca : 324 kali

    Indonesia harus benar-benar mempertimbangkan kembali untuk membuka sekolah di tahun pelajaran baru. Pasalnya, dua negara Eropa telah membuktikan bahwa virus corona tetap ganas menyerang anak-anak sekolah. 

    Setelah sekolah di Finlandia diserang corona yang diaporankan oleh penyiar nasional Finlandia Yle, pada Minggu (17/5/2020), padahal sekolah baru dua hari dibuka, namun puluhan guru dan murid langsung terpapar virus covid-19. 

    Ternyata, di lansir dari m.bizlaw.id, Perancis yang malah lebih awal membuka sekolah dan penitipan anak sejak Senin (11/05/2020), ternyata langsung ditemukan sedikitnya 70 kasus pasien positif terpapar Corona Virus. 

    Kasus tersebut terjadi di kalangan penitipan anak dan sekolah dasar di Prancis, saat 1,4 juta anak kembali ke bersekolah. Sementara, lebih dari 50.000 siswa sekolah menengah juga kembali ke sekolah pada Senin (18/05/2020), yaitu seminggu setelah pencabutan karantina nasional. 

    Namun, setelah virus terdeteksi menyerang anak-anak, banyak taman kanak-kanak dan sekolah dasar ditutup kembali dalam seminggu. Atas kejadian ini, Menteri Pendidikan Perancis, Jean-Michel Blanquer, kepada Radio RTL mengungkapkan penutupan segera beberapa sekolah adalah sebuah gambaran nyata bahwa lembaga pendidikan mengikuti pedoman dan protokol yang ketat. 

    "Setelah pembukaan pertama, diperlukan kehati-hatian," ujar Blanquer. 

    Disinyalir, kasus-kasus baru ini kemungkinan besar dibawa dari luar sekolah. Sebab, para siswa yang kembali ke sekolah hari, sejatinya mereka berasal dari zona hijau. 

    Perancis sendiri, hingga saat ini telah mencatatkan ada143.492 kasus terpapar corona, dengan jumlah kematian mencapai 28,239 kasus dan jumlah kesembuhan mencapai 61,728 kasus. 

    Setelah Finlandia dan Perancis yang mencoba membuka sekolah kembali, ternyata terbukti masih belum aman dari wabah corona dan bahkan corona menyerang anak-anak sekolah, tentu hal ini akan menjadi pertimbangan khususnya bagi negara Eropa lainnya, dan umumnya untuk negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang Mendikbbudnya berencana membuka kembali sekolah pada tahun pelajaran baru ini. 

    Untuk itu, khususnya buat pemerintah Indonesia yang sedang mewacanakan new normal dan Mas Nadiem yang berencana membuka sekolah, kasus di Finlandia dan Perancis benar-benar menjadi pertimbangan. Jangan salah langkah dan keputusan, jangan menyesal belakangan.

    Cukup pengalaman tak sigap dan tegas pemerintah dalam mengambil kebijakan penanganan corona di Indonesia saja yang terjadi sejak awal yang akibatkan pandemi menjadi mewabah di seantero negeri. Jangan diulangi. Termasuk, apa benar, sudah berpikir tentang new normal?

    Sebab, di banding Finlandia dan Perancis yang sudah memiliki kasus corona menurun drastis, dan masyarakatnya juga disiplin, tidak seperti masyarakat Indonesia, maka bila sekolah di Indonesia benar-benar dibuka, meski tetap mengikuti protokol kesehatan, sangat dimungkinkan anak-anak sekolah di Indonesia juga akan menjadi sasaran korban virus corona berikutnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Napitupulu Na07

    1 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 82 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.