Meleburkan Kegiatan Literasi ke Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia; Sebuah Pengalaman - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi kegiatan mendongeng dalam Festival dan Kreativitas Anak Usia Dini 2017 di Kemdikbud, Rabu 10 Mei di Jakarta. Istimewa

Lovie Lenny Gunansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Mei 2020

Jumat, 29 Mei 2020 07:03 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Meleburkan Kegiatan Literasi ke Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia; Sebuah Pengalaman

    Dibaca : 398 kali

    Mendongeng adalah kegiatan saya saat mengajar bahasa Indonesia di kelas kecil. Saya biasa mendongengkan cerita anak Nusantara yang memiliki pesan moral yang baik untuk usia anak-anak. Sebut saja cerita La Moelu, tentang seorang ayah dan anak yang memelihara ikan, atau kadang membacakan cerita dari negeri lain seperti Goldiloks dan Tiga Beruang.

    Sebagai guru, kami harus cukup berhati-hati dengan isi buku cerita jika membacakan buku untuk siswa kelas kecil karena isi cerita tidak boleh mengandung unsur kekerasan. Beberapa buku folktale anak-anak di Indonesia masih dinominasi dengan cerita imajinatif yang berisi kekerasan, contohnya Timun Emas, atau Bawang Merah Bawang Putih. Inilah tugas guru untuk memilah-milah buku apa yang cocok untuk usia 7-8 tahun.

    Seperti kita tahu, mendongeng adalah bercerita dengan cara lisan. Ketika mendongeng, anak-anak dididik untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Kegiatan ini jelas akan merangsang imajinasi, fantasi, dan kreativitas anak. Setelah mendongeng, saya selalu bertanya tentang isi dongeng tersebut. Ini akan menunjukkan apakah siswa benar-benar menyimak isi ceritanya atau tidak. Biasanya mereka sangat antusias mendeskripsikan karakter dalam dongeng itu. Saya juga kemudian berdiskusi dengan mereka tentang pesan moral apa yang disampaikan oleh dongeng tersebut.

    Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kegiatan literasi non-teks pelajaran selama 15 menit sebelum jam pembelajaran dimulai setiap hari diharapkan akan menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.

    Meski demikian, perlu diketahui bahwa kegiatan literasi di satu daerah bisa sangat berbeda dengan di daerah lainnya karena topografi daerah dan tingkat kesejahteraan masyarakat pun berbeda. Contohnya program literasi yang didukung oleh Wahana Visi Indonesia di Papua yang bekerja sama dengan pemerintah adalah mengembangkan kegiatan literasi pada tingkat baca tulis dan hitung yang paling sederhana. Ini dikarenakan kemampuan literasi awal anak-anak masih sangat rendah.

    Adapun saya mengajar di jenjang kelas kecil di sebuah sekolah di Jakarta, di mana fasilitas sekolah sangat mendukung kegiatan literasi yang saya lakukan. Di kelas, saya memadukan kegiatan literasi ke dalam pelajaran bahasa Indonesia, salah satunya dengan mendongeng atau membacakan buku cerita saat mengajar bahasa Indonesia.

    Beberapa kegiatan literasi yang ada dalam Panduan Gerakan Literasi Sekolah oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2016, sedikit berbeda dengan yang saya jalankan meskipun pesannya tetap sama; meningkatkan daya kritis dalam membaca dan menulis.

    Literasi sebenarmya tidak melulu tentang membaca dan menulis. Kegiatan ini juga melibatkan banyak keterampilan yang dapat dilakukan dengan sangat kreatif. Saya sudah memakai sebuah novel sederhana di kelas 2 SD, sebut saja Mr. Fox yang Fantastic atau Charlie and The Chocolate Factory karya Roald Dahl.

    Seperti umumnya kelas anak-anak, kami memajang hasil karya siswa di dinding, juga punya pohon literasi, dan sebuah reading corner sebagai tempat untuk kegiatan membaca. Reading corner kami dilengkapi dengan sebuah karpet sebagai alas duduk. Di sudut itu pula tersusun rapi buku-buku cerita anak. Nah di sinilah biasanya saya membacakan sebuah novel. Siswa akan duduk melingkar di atas karpet dan saya duduk di atas kursi kecil.

    Sebelum kegiatan membaca dimulai, selalu ada kesepakatan selama mendengarkan cerita, seperti ada aturan bahwa one student speaks at a time artinya hanya satu siswa yang akan menjawab atau bertanya dan akan bergantian. Mereka harus mengangkat tangan jika ingin bertanya atau menjawab pertanyaan. Kegiatan ini mengajarkan siswa untuk menahan diri dan menurunkan ego mereka; memberikan kesempatan pada siswa lain untuk bertanya dan menjawab. Bahwa semua anak diberi kesempatan dan hak yang sama untuk bertanya dan menjawab.

    Kami juga punya agenda harian yaitu setiap hari siswa datang ke perpustakaan untuk meminjam buku kemudian buku tersebut dibawa pulang untuk dibaca di rumah. Setiap hari siswa meminjam buku yang berbeda dan buku yang akan dipinjam harus sesuai dengan level mereka membaca buku, tidak asal meminjam. Biasanya librarian kami sudah menyediakan buku sesuai level siswa kelas 1 atau kelas 2 jadi siswa tinggal memilih buku bacaan apa yang akan mereka bawa pulang.

    Level isi bacaan siswa sudah pasti berjenjang, biasanya untuk anak kelas 1, guru membacakan cerita dengan memakai Big Book atau buku bergambar dengan ukuran besar. Guru akan membacakan cerita kemudian satu atau dua anak akan menceritakan kembali secara singkat. Yang paling seru itu, saat guru menunjukkan sampul buku cerita dan meminta siswa untuk membuat prediksi kira-kira apa isi cerita itu berdasarkan sampul buku yang mereka lihat. Biasanya siswa akan membuat prediksi bermacam-macam secara lisan, ini dapat menambah imajinasi mereka tentang sebuah cerita.

    Kegiatan untuk siswa kelas 1, setelah memdengarkan cerita, mereka bisa menggambarkan salah satu karakter yang mereka sukai, ini dapat  mengasah imajinasi mereka dalam menciptakan karakter.

    Saya juga membacakan sebuah novel untuk anak kelas 2 SD, seperti novel James dan Buah Persik Raksasa oleh Roald Dahl. Saya membacakan buku novel ini dengan cara bersambung. Contohnya, hari ini saya membacakan 5 halaman saja kemudian siswa membuat prediksi bagaimana cerita selanjutnya. Ini membuat siswa merasa penasaran dan tidak sabar menanti kelanjutan cerita selanjutnya. 

    Berdasarkan pengalaman saya, kegiatan literasi dalam bahasa Indonesia lebih mudah untuk diintegrasikan dengan pelajaran yang lain, misalnya SBdP (prakarya) dan ICT. Contoh kegiatan yang biasa saya tugaskan untuk siswa kelas 2 adalah mendeskripsikan dan menggambar tokoh yang mereka sukai, kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan menulis imajinasi dan seni menggambar. Di kelas ICT, saya bisa meminta mereka untuk menggambar salah satu scene dalam cerita novel itu dengan menggunakan Paint 3D.

    Untuk beberapa sekolah di kota-kota besar yang berlabel SPK (Satuan Pendidikan Kerja Sama), kegiatan literasi seperti yang saya jalani sudah umum dilakukan. Namun, beberapa sekolah negeri, belum menampakkan hasil yang maksimal dalam mengembangkan budaya literasi yang kreatif.

    Beberapa sekolah hanya memfasilitasi buku-buku cerita di kelas tanpa memanfaatkan kegiatan literasi itu ke dalam kegiatan belajar bahasa Indonesia. Lalu mengapa tidak memasukkan program literasi ke dalam kurikulum bahasa Indonesia agar lebih efektif jadi tidak lepas dari pelajaran? Jika guru tidak kreatif dalam mengembangkan ide kegiatan literasi, bagaimana siswa akan meningkatkan budaya membacanya? Saya masih melihat bahwa beberapa guru memahami anak-anak ‘pergi ke perpustakaan’ saja tanpa supervisi guru, artinya anak bebas meminjam buku apa saja tanpa ada pengawasan dari guru buku mana yang layak dibaca oleh anak-anak.

    Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud seharusnya sudah membuat inovasi-inovasi kegiatan literasi yang diintegrasikan dengan kurikulum bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan budaya dan keterampilan membaca dan menulis. Training program kegiatan literasi bagi semua pendidik, pustakawan dan para pemangku kebijakan sekolah juga perlu agar kegiatan ini benar-benar efektif dan membumi di sekolah.

    Seorang rekan guru yang mengajar Bahasa Indonesia pada tingkat menengah atas di salah satu sekolah swasta di Jakarta, sudah memakai buku sastra sebagai kelas novel, seperti Bumi Manusia dan Arok Dedes karya Pramudya Ananta Toer dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di kelas ini, siswa sudah membuat riset setting novel, menulis paragraf argumentasi dari novel atau membuat kritik sastra.

    Jika kegiatan literasi sudah diperkenalkan sejak masih dari kelas rendah dan mulai diintegrasikan dengan pelajaran bahasa Indonesia, budaya literasi akan mudah terbentuk dan diharapkan saat mereka dewasa nanti generasi ini akan mewujudkan masyarakat belajar (learning society). Membaca dengan sendirinya akan menjadi sebuah kebutuhan dan kebiasaan. Ini bisa jadi menciptakan sebuah diktum baru; ‘Aku membaca maka aku ada.’

      

    Lovie Lenny Gunansyah


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.