Bab 1 Tersiksa Dalam Kurungan Pendekatan

Selasa, 23 Juni 2020 06:14 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendekatan dengan cewe makin kesini makin rumit

Pemikiran yang awal muncul dalam otak gue tentang sesuatu yang gue anggap ada ketidakwajaran ketika situasi itu mendukung gue dalam hal berpikir tidak normal. Seperti halnya gue melihat ada yang melakukan sebuah pemerkosaan atau bahkan pembunuhan, gue hanya terdiam dan menyaksikan kejadian itu tanpa ada sedikit pun protes dalam pikiran gue. Mungkin seharusnya gue tidak seperti itu, seharusnya gue melapor kejadian itu ke pihak berwenang atau bahkan memanggil warga untuk mehakimi si pelakunya. Hal ini sangat menganggu gue dalam berpikir sebagai manusia yang waras. Gue juga bertanya pada banyak orang tentang hal yang dialami gue,responnya ternyata tidak beda jauh dengan apa yang gue pikirkan.

“Kok tega banget sih”

“Gendok kalau digituin sih kalau gue”

“Gak akan bener kalau gitu terus udah tinggalin”

Iya memang pada kenyataannya kalau ada manusia yang melakukan sebuah Tindakan yang sampe bisa menyanyat hati langsung merasakan, namanya sakit hati, kecewa, kesal juga. Tapi yang gue alami ini dalam hal percintaan itu kalau berpikir secara rasional mungkin dalam  menyikapi beberapa hal banyaknya orang orang minim akan self love respect dan lebih baik menuruti apa keinginan si cewe atau cowo nya daripada menuruti diri sendiri. Gue bicara fenomena ini bukan pada saat sesudah pdkt itu dilakukan dan berhasil sampe jadian dan pacaran.

Gue seringkali melihat fenomena ini sebelum pdkt itu sendiri usai. Dalam bab ini gue akan membedah tentang kenapa seorang cowo lebih tersiksa pdkt nya daripada seorang cewe. Gue mengobservasi ini dalam sebuah lingkungan yang kerap kali gue temui. Gue merasa heran dengan cowo yang mempunyai tampang pas pas-an, enggak mempunyai sebuah skill buat dapetin seorang cewe seperti halnya fakboi.

Skill kayak gimana emangnya?

Kalau berbicara soal skill, seorang cowo harus mengetahui celahnya seorang wanita itu akan suka ke dia. Ada yang cepat dalam mengetahuinya dan ada pula yang lama dalam mengetahui dimana celahnya itu. Terkadang juga kalau udah ada insting seorang cowo pun tidak sadar bahwa dia sudah tau atau udah dapet celahnya dimana. Bisa dari segi dia memberikan perhatian yang sebenernya hal itu remeh atau sepele tapi itu berharga banget buat seorang cewe.

Misalnya seorang cewe kan biasanya akan merasa gue banget ketika ada suatu kata kata yang dapat mewakili perasaaan yang dialami atau yang sedang terjadi. Nah si cowo ini biasanya membuat sebuah kata kata itu dengan melihat juga kondisi cewe yang lagi dideketinnya tuh dalam kondisi apa, lagi sakit hati kah, Bahagia, sedih atau merasa kesepian seakan dunia ini dia sendiri yang hidup. Padahal kalau gue bedah si kata kata yang dibuat oleh si cowo itu cuman kata kata yang membuat seorang cewe lebih berhalusinasi tentang apa yang dirasakannya. Seakan kejadian atau perasaan yang dialami nya tuh melekat banget dengan hatinya kayak seseorang lagi mencici makanan yang paling enak dan dia memang mencoba makanan itu enak di mulutnya di setiap gigitan. Lebih aneh lagi banyak yang terjebak akan perasaaan yang dialami nya sehingga membuka penghalang penghalang baru dalam pikirannya untuk melakukan sebuah perpindahan atau move on dari kejadian yang dialami.

Gue menganggap hal itu wajar aja kalau misalnya itu terjadi pada seseorang. Halusinasi atas perasaannya sendiri dan gak mau buat berpindah dari hal itu. Tapi disatu sisi itu yang akan membuat si cewe nya akan lebih lama dalam dunia halusinasi perasaannya sendiri. Gampang banget buat galau, gampang banget buat merasakan sedih, Bahagia pun susah. Gak ada kuasa dalam mengontrol dirinya sendiri untuk tidak terjatuh lebih dalam.

Apalagi dalam era sekarang seakan lebih mudah mengutarakan perasaan sampe di publish dan semua orang harus tau apa yang dirasakan saat itu dan terlebih lagi dia akan senang kalau ada seseorang yang merasakan juga atau senasib yang sama seperti dia. Menurut gue ini juga salah satu penghambat seseorang untuk move on. Kalau seseorang mau move on, syarat yang paling utama menurut gue dia harus menghilangkan pikiran pikiran yang negative atau setidaknya menganggap pikiran negative tersebut sudah tidak mempan lagi untuk dia. Dengan terbiasa memikirkan negative itu seakan ah udah bias ague digituin yaudah, Tapi hal itu bisa diterapkan kalau pikiran pikiran negative tersebut menganggu pola pikir yang jernih. Tidak semua pikiran negative itu bisa dianggap wajar karena ada kala nya pikiran negative itu bisa jadi sesuatu yang tidak wajar malah menjadi wajar.

Selain skill juga seorang cowo lebih kesiksa dalam memperjuangkan seorang cewe yang dia mau, padahal banyak pemikiran seorang cewe itu pengen terlihat diperjuangkan oleh seorang cowo sehingga muncul pemikiran gengsi buat memperjuangkan juga seorang cowo. Padahal enggak ada sama sekali larangan atau aturan yang tertulis seorang cowo harus memperjuangakan seorang cewe dan cewe bisanya menunggu. Pemikiran ini lah yang membuat seorang cowo harus mengeluarkan usaha lebih, sedangkan cewe nya gak mau mengimbangi nya. Pemikiran yang harusnya muncul mau itu seorang cewe atau cowo harus memperjuangkan pasangannya masing masing, atau memulai pun tidak harus cowo duluan, cewe juga sebenarnya bisa. Cuman pemikiran umum atau masyarakat luas yang menghalangi seorang cewe buat berjuan lebih dulu seakan cowo harus duluan terus. Makanya sering terjadi dimana seorang cowo ini seperti berjuang sendirian sedangkan cewe nya seperti seorang ratu yang menunggu di kursi pemimpin kerajaan dan cowo itu layaknya budak yang disuruh suruh buat melayani seorang ratu.

Contohnya yang sering terjadi itu ketika seorang cowo harus tau apa kesukaan dan apa yang lagi cewe ini pengen waktu itu. Yang paling jijik itu dalam ngode ngode si cowo, biar membelikan barang ini buat si cewe. Aku lagi bm pengen ini. Yang paling gue aneh dan gue sendiri juga merasakan ketika cewe yang lagi dideketin mengatakan sesuatu di media social misalnya “Aku lagi bm pengen ini” dan gue seketika pengen ngebeliin dia itu. Gue udah coba berulang kali melakukan itu tapi responnya terkadang minim dan si cewe nya pun enggak membuat dia jadi suka ke gue. Anehnya lagi gak merubah sic ewe ini jadi pengen memperjuangkan cowo ini yang baik buat dia. Ini juga cukup bertentangan sama hal sepele pun dapat meluluhkan seorang cewe. Itu hal sepele padahal pengen ini, dikasih sama cowonya. Tapi gak membuat si cewe ini jadi suka ke dia. Disatu sisi pun cewe nya juga berpikiran kalau misalnya dia pengen apapun juga bakal dibeli sama cowo, jadilah cewe matre. Pengen ini pengen itu kalau gak dibeliin timbul rasa kecewa. Gak tertarik lagi akhirnya jarang chat-an dengan cowo nya dan ngilang aja. Keganjilan menurut gue disitu tuh, ketika seorang cowo memutuskan itu adalah celah buat si cewe ini jadi suka ke dia padahal celah itu malah menjatuhkan dia ke arah yang salah. Gue pun gak bisa menyalahi cewe atau cowo juga tapi disisi ini seorang cowo merasa tersiksa dengan apa yang telah dilakukan oleh dia yang dianggap itu baik buat cewe dan si cewe ini malah memanfaatkan kebaikannya, dan menganggap kan dia lagi suka sama aku yaudah gue diemin aja, gue ambil untungnya dari dia. Kalau suatu saat nggak mau si cowo nya buat ngelakuin itu lagi yaudah tinggal ngilang aja cari yang lain. Itu menurut gue cukup kejam juga, menghargai perasaan tulus atau cinta dari seseorang itu seharusnya jadi hal penting dalam menjalani hubungan.

 

 

 

Dari sisi yang lain pun timbul tanda tanya dari gue, ketika media sosial hadir untuk menjadi media sebuah percakapan membuat seseorang lebih leluasa dalam menanam benih harapan ke seseorang. Gue juga sempat merasakan SMS pake pulsa gitu, waktu SMA dulu. BBM pun baru hadir kala itu. Kita sering terdengar istilah PING!!! Apabila kita dalam kondisi urgent untuk minta bantu ke orang lain. Sempat disalahgunakan juga yang seharusnya urgent malah dipake buat ngode ke dia mengenai pesan kita yang belum terbalaskan. Kini istilah PING!!! Itu berganti jadi cuman “P” saja dan melakukan spam yang banyak itu sudah menandakan ada sebuah pesan yang penting atau urgent dari seseorang.

Tetapi hal tersebut tidak akan efektif lagi ketika media social mulai menerapkan fitur “read receipt” yang membuat pesan tersebut seakan sudah terkirim dan belum terbaca. Padahal sebenarnya pesan itu telah terbaca oleh si penerima pesan. Jujur gue sendiri menjadi bingung akan hal itu dan lebih khawatir lagi kenapa pesan tersebut belum terbaca. Gue juga agak kaget dengan adanya fitur tersebut soalnya awalnya gue melihat ada sebuah tanda bahwa pesan tersebut terbaca tapi lama kelamaan kok pesan yang sudah terkirim dan belum terbaca sudah dibales duluan. Gue juga sempat mengira bahwa pesan tersebut dibalesnya melalui notification yang dimana si yang membalas pesan tersebut tinggal membalasnya di notification tidak usah berkunjung ke aplikasinya. Dengan kemajuan jaman ini justru lebih menyusahkan untuk seseorang melakukan PDKT. Disatu sisi seseorang akan lebih mudah menghilang dalam sebuah percakapannya ketika fitur ini dinyalakan. Masalahnya dilingkungan cewe yang didekati oleh gue sering menyalakan fitur tersebut dan membuat gue harus menunggu pesan lebih lama atau ya jatuhnya gimana dia aja mau ngebales pesannya kapan.

Yang paling anehnya lagi ketika gue sudah merasa cape dengan hal itu, dan menghilang, justru gue dipertanyakan kemana aja selama ini. Pas dia nya menghilang gue gak berpikiran untuk bertanya hal itu karena gue pun melihat siapa diri gue dimata dia. Ini suatu ketidakadilan yang gue rasakan sekarang. Fungsi yang lainnya dari fitur itu pun cukup menganggu, ketika fitur tersebut dinyalakan kita juga dapat melihat story orang tanpa menampilkan yang melihat story nya siapa. Menurut gue sih fungsi tersebut muncul karena ada sebuah meme atau sindiran tentang seseorang yang hanya bisa melihat story doang tapi membalas pesan enggak. Gue pun mewajari apabila sebuah pesan tersebut terasa berat buat dijawab oleh sang penerima. Tetapi selama gue melakukan percakapan dengan seorang cewe gak ada satupun yang membahas topik yang berat. Contohnya, gue gak akan mungkin menanyakan siapa dalang munir sebenernya? Kapan Prabowo jadi presiden? Gue gak melontarkan pertanyaan itu. Mungkin topik pembicaraan gue gak menarik buat dia, Disisi lain pun ketika gue ingin menanyakan sesuatu tentang hubungan, dan fitur itu nyala. Gue sendiri tidak bisa memprediksikan pesan tersebut akan dibalas kapan, tapi kalau terus terusan begitu, gue seperti seorang jurnalis yang membuat headline di koran. Menuntut gue harus menyajikan topik yang menarik supaya ada yang membeli koran tersebut. Koran kan menghasilkan uang, lah gue melakukan sebuah percakapan dengan seorang cewe dengan topik yang menarik pun terkadang hasilnya bisa dibilang gembling. Hasilnya bisa jadi suka si cewe nya bisa jadi gue hanya dijadikan pendengar yang baik bagi dia tapi gak ada perasaan ke gue..

Gue terus terusan mencari topik tapi pada akhirnya gue stuck terus di friendzone ya buat apa. Menghabiskan waktu yang lama tetapi hasilnya nihil. Kalau pada akhirnya dia jadian sama orang yang baru dan orang tersebut memang keinginan si cewe nya. Gue berusaha selalu ada buat dia tapi pada akhirnya akan kalah sama yang dia pengen. Bodo amat si cowonya bajingan, tukang selingkuh. First impression nya bagus dan memang yang si cewe ini pengen, cewe pun udah gak melihat track record dia gimana dan jarang juga mempertanyakan hal itu. Tau tau ditinggal aja pas udah merasa nyaman dengan cowo itu. Si cewe tersebut kemudian menyesal. Sedangkan gue yang dari awal mengejar dia dan tulus, gak pernah dilirik sedikit pun. Kalau kata temen gue, gue bawa air panas dan cowo yang satunya bawa air dingin nah si cewe ini pengennya air dingin, ya pasti milihnya air dingin daripada panas. Mau seberapa pun anda berjuang tapi pada akhirnya cewe tersebut menjatuhkan pilihan ke yang dia pengen ya gak akan bisa buat dapetin dia.

Karena hal itulah perjuangan yang gue lakukan ke seorang cewe perlu miki 2 kali buat ngelakuin itu. Soalnya gue udah banyak melakukan perjuangan ini itu tapi pada akhirnya nihil dan menyiksa diri gue sendiri. Misalnya si cewe yang gue deketin ini membutuhkan seseorang yang selalu ada buat dia, pas dia mau kemana atau lagi dimana, harus ada yang nganter atau menjemput. Kalau dia pengen sesuatu tiba tiba misalnya malem hari pengen bubur, gue pun perlu mencari tukang bubur buat memenuhi keinginan sic ewe tersebut. Hal hal yang gue lakukan demi dia dan niatnya baik pun jarang sekali dilihat oleh dia dan dianggap nya “owh yaudah da lu cuman gue suruh suruh aja gak pantas untuk mendapat gue”. Makanya, gue selalu timbul pertanyaan yang sama kenapa sih gue harus berjuang seberat itu buat dapetin lo, serasa gue berjuang sendirian, dan dia merasa ingin diperjuangkan banget oleh gue. Padahal gak gitu harusnya. Kalau sama sama ingin dimiliki kenapa tidak untuk berjuang Bersama sama untuk mencapai sebuah keterikatan hubungan.

Siklus nya pun selalu sama gue harus melakukan lagi move on, memulai percakapan baru dengan orang yang baru. Gue menyadari siklus itu akan terus terjadi dan lama lama kan cape juga dan tidak membuka hati lagi, perlu waktu untuk setidaknya tidak mengalami hal itu lagi. Dilain hal juga gue membutuhkan seorang cewe yang mendengar keluh kesah gue, berbagi cerita, ketawa bareng. Susah rasanya bagi gue kalau gak ada seseorang pun cewe yang terlihat peduli dengan gue. Setiap hari pun gue kadang membuka percakapan baru lagi dengan yang dulu pernah gue chat. Meskipun tidak akan sama seperti dulu ya minimalnya gue terobati dengan melakukan hal itu. Terkadang gue juga menyadari bahwa hal itu gak sehat buat gue. Lebih parahnya lagi gue selalu berpikiran kalau misalnya gue menghilang dari cewe yang memberi harapan enggak pasti ke gue pasti gue akan dicari dilain waktu. Bukan karena dia menyadari perlu gue dikehidupannya tapi hal tersebut sering muncul karena ada kepentingan pribadi semata ke gue. Lambat laun gue pun mulai memberanikan diri dengan enggak melakukan chat lagi dengan seseorang yang pernah gue chat. Lebih baik gue enggak chat dia sama sekali daripada gue chat lagi dan gak ada ketenangan yang gue rasa selama jam menit detik bergulir. Menatap layar handphone setiap menit berharap yang gue chat akan membalas, kadang gue sengaja tidur dulu siapa tau ngebales. Itu jujur membuat gue gak tenang. Kini gue menyampingkan kebutuhan gue akan seorang cewe itu dan lebih mengutamakan ketenangan gue pada setiap jam menit dan detik untuk tidak lagi menunggu balesan dari seorang cewe yang gue suka.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhammad Ferry

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Ketidakteraturan Diksi Berkaitan Keterikatan

Selasa, 23 Juni 2020 06:15 WIB
img-content

Bab 1 Tersiksa Dalam Kurungan Pendekatan

Selasa, 23 Juni 2020 06:14 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua