Persahabatan Raja Amandari dan Pendeta Nommensen - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Persahabatan Raja Amandari dan Pendeta Nommensen

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 22 Juni 2020 17:48 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Persahabatan Raja Amandari dan Pendeta Nommensen

    Dibaca : 382 kali

    Judul: Persahabatan Raja Amandari dan Pendeta Nommensen

    Penulis: Simion Harianja dan Pestaria Naibaho

    Tahun Terbit: 2020

    Penerbit: Bentara Pradipta Pustaka                                                                     

    Tebal: 50

    ISBN: 979-623-90717-7-6

     

    Syiar agama adalah salah satu sarana perjumpaan antara budaya. Meski syiar agama seringkali diwarnai perjumpaan antar budaya dengan bumbu kekerasan atau penaklukan, namun dalam beberapa kasus ada juga kisah-kisah yang mengharukan dan penuh dengan cinta kasih.

    Syiar agama memang menjadi perjumpaan antar budaya yang seringkali melibatkan kekerasan. Sebab dalam syiar agama, yang disasar adalah keyakinan masyarakat yang disyiari. Perubahan keyakinan tidaklah mudah, sementara pihak yang menawarkan agamanya kepada masyarakat lain, sering tidak sabar untuk segera merekrut “liyan” menjadi “saudara.”

    Dari sedikit contoh perjumpaan budaya melalui agama yang diwarnai dengan cinta kasih dan suasana damai adalah kisah Nommensen dan Raja Amandari. Meski sebelum kedatangan Nommensen ke Tanah Batak telah terjadi tragedi terbunuhnya dua penyiar agama Kristen, namun perjumpaan Nommensen dengan Raja Amandari terjadi dengan damai.

    Buku ini memberikan gambaran syiar agama Kristen ke wilayah Tapanuli pada abad 19. Setelah dua misionaris, yaitu Burton dan Ward hanya bertahan beberapa minggu saja, disusul dengan kedatangan dua misionaris dari Amerika. Meski hanya tinggal beberapa minggu, Burton dan Ward telah membuat banyak catatan terhadap wilayah ini.

    Misionari berikutnya yang datang ke Silindung adalahMunson dan Lyman. Misionaris asal Maerika ini datang ke Silindung pada tahun 1934. Keduanya terbunuh. Kecurigaan masyarakat lokal akan kedatangan si bontar mata (si mata putih) sebagai mata-mata Belanda yang ingin menguasai Tapanuli menyebabkan dua misionaris ini dibunuh.

    Tiga puluh tahun kemudian datanglah Nommensen ke wilayah Silindung. Meski awalnya diterima dengan baik, tetapi kemudian kecurigaan masyarakat menyebabkan Nommensen pun harus keluar dari wilayah tersebut. Nommensen diusir. Di sinilah kisah haru itu dimulai. Saat Nommensen sedang bersiap-siap meninggalkan kampung, ia mendapat khabar bahwa istri dari Raja Amandari sakit. Nommensen menawarkan untuk mendoakan istri Raja. Ternyata doa Nommensen dijawab Tuhan. Istri Raja Amandari sembuh. Sejak itu Nommensen diterima dan dilindungi oleh Raja Amandari. Raja Amandari dan Nommensen berikrar setia sebagai saudara. Meski Raja Amandari sendiri tidak mau mengikuti agama Nommensen.

    Nommensen bukan hanya menjadi misionaris yang menyebarkan agama saja. Ia mengajarkan baca tulis kepada orang Batak. Ia juga mengajari bagaimana hidup sehat. Perannya di sektor pendidikan dan kesehatan inilah yang membuat orang Batak melihat bahwa Nommensen adalah benar-benar sahabat bagi mereka. Nommensen dan istrinya dengan tekun merawat orang-orang sakit, khususnya anak-anak. Saat itu wilayah Silindung sedang dilanda perang Padri dan penyakit kolera merajalela.

    Nommensen juga membuat rumah untuk menampung mereka-mereka yang terusir dari keluarga karena menjadi Kristen. Ia juga menebus orang-orang yang menjadi budak karena terjerat hutang. Mereka yang sudah ditebus ini kemudian tinggal bersama dalam rumah yang dibangun oleh Nommensen.

    Persahabatan Nommensen dengan raja Amandari berlangsung sampai Raja Amandari wafat. Nommensen sendiri yang memimpin upacara penguburan sahabatnya tersebut. Raja Amandari telah memeluk Kristen sebelum beliau wafat.

    Kisah persahabatan Nommensen dengan Raja Amandari ini adalah contoh bagaimana syiar agama dilakukan dengan penuh kasih. Tindakan nyata untuk menolong masyarakat adalah bukti dari kasih tersebut. Ternyatalah dengan syiar yang penuh kasih, agama baru bisa diterima dengan baik. Itulah sebabnya di Tanah Batak, agama Kristen bisa berjalan selaras dengan adat. Meski di awal terjadi ketegangan bahkan pembunuhan, tetapi contoh kasih telah menghapus kekerasan di masa lalu. Dan orang Batak tetap bisa mempertahankan adat dan budayanya dan menerima Sang Kristus sebagai Juruselamatnya.

    Meski kebanyakan kisah syiar agama diwarnai dengan kekesaran, namun banyak juga yang terjadi dengan penuh keakraban. Kisah perjumpaan budaya dalam syiar agama yang damai seperti ini terjadi di semua agama. Kisah-kisah teduh seperti ini hendaknya disyiarkan supaya semakin banyak penyebarluasan agama terjadi secara dialogis dan saling memberi.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.