x

Iklan

Johanes Sutanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Juli 2020 05:33 WIB

Perlukah Average Down Reksa Dana di Tengah Covid-19?

Panik itu sangat manusiawi, tetapi tidak perlu berlebihan. Apalagi, wabah Covid-19 ini tentu tidak akan selamanya tidak teratasi. Optimisme demikian penting untuk tetap optimis di tengah krisis seperti saat ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak sedikit investor reksa dana yang dibikin deg-degan dan ketar-ketir dengan dampak Covid-19. Para investor mengalami potensi kerugian investasi. Umumnya, produk reksa dana saham atau yang underlying asset investasinya adalah saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terseret harga-harga saham.

Tidak hanya reksa dana dengan underlying saham, reksa dana lain seperti reksa dana pendapatan tetap juga fluktuatif mengikuti pergerakan underlying-nya, yakni obligasi.

Panik itu sangat manusiawi, tetapi tidak perlu berlebihan. Apalagi, wabah Covid-19 ini tentu tidak akan selamanya tidak teratasi. Optimisme demikian penting untuk tetap optimis di tengah krisis seperti saat ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sayangnya, hanya sedikit yang benar-benar menyadari bahwa kerugian yang dialami dalam investasi reksa dana di tengah pandemi Covid-19 ini belum betul-betul kerugian.

Hanya sedikit investor reksa dana yang menyadari bahwa kerugian dalam investasi reksa dana ini masih sebatas potensi. Oleh sebab itu, seharusnya namanya bukan kerugian, melainkan potensi kerugian.

Kerugian itu belum terjadi sejauh investor belum mencairkan atau melakukan redemption reksa dananya. Faktanya pun demikian, investor belum mencairkannya sehingga ini semua masih disebut berpotensi kerugian.

Karena masih sebatas potensi maka kerugian itu belum terjadi. Lantas sikap apa yang sebaiknya dilakukan dengan tengah krisis pandemi Covid-19 ini? Redemption tentu bukan waktunya.

Yang justru tak perlu dihindari adalah average down. Dengan average down maka harga pembelian rata-rata pun menjadi turun. Alhasil, saat kondisi pasar mulai membaik maka posisi cuan lebih mudah dicapai dibandingkan jika tidak melakukan average down sama sekali.

Kendati demikian, langkah average down perlu dilakukan dengan hati-hati, yakni dengan memilih reksa dana yang terbaik. Oleh sebab itu, memilih reksa dana terbaik perlu dilakukan.

Menariknya, memilih reksa dana terbaik kini bisa dilakukan dengan mudah, semisal di platform IPOTFUND yang memiliki fitur unggulan bernama IPOTFUND Evaluator. Fitur ini dengan mudah membandingkan kinerja reksa dana dalam beberapa periode.

IPOTFUND Evaluator menggunakan sistem ranking yang dimana tiap Reksa Dana diberikan penilaian berdasarkan kemampuan pemberian imbal hasil yang stabil dan profil resiko dalam jangka waktu 3 bulan (3M), 6 bulan (6M), 9 bulan (9M), 1 tahun (1Y), 2 tahun (2Y), dan 3 tahun (3Y).

Berbekal pertimbangan yang matang maka average down bisa dilakukan dengan mudah, apalagi harga reksa dana yang sedang turun (terdiskon) menjadi kesempatan untuk top up dan bersiap membalikkan kerugian menjadi cuan lebih besar di masa depan.

Ikuti tulisan menarik Johanes Sutanto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

8 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB