Kontribusi Generasi Millenial untuk Palestina - Analisa - www.indonesiana.id
x

Demonstrasi pro Palestina di Indonesia Sumber: Merdeka.com

الطالبة ١٩

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2020

Senin, 30 November 2020 17:14 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kontribusi Generasi Millenial untuk Palestina

    cara anak millenial dalam berkontribusi membela palestina

    Dibaca : 385 kali

    Diketahui bahwa generasi millenial sangat dekat dengan teknologi. Kehidupan generasi ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan internet, berbeda dengan generasi X di mana pengaruh dari teknologi belum terlalu menonjol seperti saat ini. Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya.

    Ada pula perbedaan lain yang muncul antara generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari. Ada kecenderungan bahwa generasi millenial lebih suka mendengarkan musik dan hang out asik bersama teman-temannya. Maka tak mengherankan bila banyak kafe atau tempat nongkrong lainnya yang ramai dikunjungi anak muda zaman now, karena itulah kehidupan sosial mereka.(Fathan Faris Saputro,2019)

    Maka tak heran jika gererasi millenial itu selalu digambarkan dengan istilah santuy, rebahan, travelling. Begitulah sekilas gambaran oleh dosen saya Tatang Hidayat, M.pd. tentang anak-anak millennial saat ini. Untuk masalah teknologi maka jangan pernah tanyakan pada generasi millennial ini. Namun, apakah dengan hadirnya kecanggihan teknologi ini mampu membuat mereka semakin tau kabar dunia dan tetap produktif? atau justru menjadi kan mereka sebagai kaum rebahan sesungguhnya dengan penuh kemalasan.

    Dari survey yang saya lakukan, hanya 4 dari 30 orang yang mengatahui apa itu aksi deal of century. Bahkan sampai para tokoh terkenal yang mempunyai hubungan dengan sejarah Indonesia pun hanya 5 dari 33 orang yang mengatahui siapa KH. Kahar Mudzakir. Ini membuktikkan bahwa masih sedikit sekali kepedulian social genererasi millennial bahkan dalam pengetahuan sejarah Negara sendiri.

    Kenapa pertanyaan yang saya ajukan adalah tentang aksi deal of century dan KH. Kahar Mudzakir. Karena aksi deal of century merupakan bentuk aksi dalam penolakan  perdamaian dari Amerika untuk palestina.

    Penolakan dikarenakan rencana presiden AS, Donald Trump itu dinilai tidak adil terhadap rakyat palestina. (Republika.co.id)

    Sedangkan KH. Kahar Mudzakir adalah seorang cendikiawan muslim yang menimba ilmu di mesir pada masa muda nya. Beliau juga salah satu perumus piagam Jakarta. Pada tahun 1931, Kahar Mudzakkir diminta oleh mufti palestina Syaikh Muhammad Amin Al Husaiani untuk menghadiri mukhtamar Islam Internasional di Palestina mewakili Asia Tenggara. Dan juga diberikan amanah sebagai sekretaris mukhtamar. ( Akmal Sjafril., M.Pd.)

    Dibalik itu penilaian generasi millenial diatas, ternyata masih banyak kaum milenial yang perduli akan sekitarnya, khususnya untuk Negri Palestina. Hal ini ditunjukan dengan adanya 11 Organisasi Perempuan Indonesia Bentuk Koalisi Bela al-Quds dan Palestina. (gomuslim.co.id)

    Begitu juga dengan organisasi baik berisik dan smart_171.

    Lantas, jika ada yang berpendapat yang biasa nya dikemukakan oleh generasi millenial yang cenderung santai bahwa kenapa kita harus bela palestina? Bukankah Negara sendiri masih kacau?

    Negara Palestina adalah sebuah nama untuk menyebut wilayah Barat Daya negeri Syam. Sebuah wilayah yang terletak di bagian barat benua Asia dan bagian pantai timur Laut Tengah. Palestina terletak di titik strategis penting, karena dianggap sebagai penghubung antara benua Asia dan Afrika, di samping sebagai sentra yang mempertemukan wilayah dunia Islam.(sejarahNegara.com)

    Kenapa palestina harus dibela?

    Karena Negara para nabi merupakan tempat kiblat muslim pertama didunia sebelum ka'bah. (Minanews.net,2020)

    Dan di palestina terdapat masjid al-aqsha. Palestina adalah bumi para nabi dimana mereka mengajarkan risalah tauhid kepada umatnya. Di sana ada nabi yang menyembah Allah dan menyampaikan ajaranNya kepada umat. Hal itu berlangsung mulai dari Nabi Ibrahim a.s. dan keturunannya Nabi Ishak a.s., Ya'qub AS., Yusuf AS. dan saudara-saudaranya. Kemudian Nabi Daud AS. dan Sulaiman AS. Hingga berlanjut pada Nabi Musa a.s., Harun a.s., Zakariya a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s. (SufaraAlqur'an,2020)

    Hal itu juga dibuktikan dengan peninggalan sejarah Islam dengan adanya makam-makam para Nabi utusan Allah, seperti : makam Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam, makam Nabi Syu'aib 'Alaihis Salam, makam Nabi Musa 'Alaihis Salam, makam Nabi Dawud 'Alaihis Salam, makam Nabi Yunus 'Alaihis Salam, dan makam Nabi Sulaiman 'Alaihis Salam. (Minanews.net,2020)

    Bahkan pada waktu Isra Mi'raj, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengimami shalat jama'ah bersama para nabi di kawasan Masjid Al-Aqsha. Sehingga siapapun yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, maka di situlah jejak para Nabi pernah shalat dan bersujud kepada Allah. (Minanews.net,2020)

    Dalam sejarah Indonesia pun, Negara palestina sudah memiliki arti bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal ini berdasarkan pendapat Ust. Akmal Sjafril, S.T., M.Pd. dalam acara Napak Tilas Kelindan Sejarah Palestina -- Indonesia bahwa penolakan membela palestina merupakan bentuk pengkhianatan perjuangan para pahlawan Indonesia. Dan pelestina juga lah yang menjadi salah satu Negara yang mengakui kedaulatan Negara Undonesia setelah proklamasi.

    Semangat memperjuangkan palestina bukan semata karena kita umat islam. Tapi merupakan legacy dan tujuan dari konstitusi yang disusun oleh para pendiri bangsa kita. Siapapun pemimpin Negara ini wajib memperjuangkan kemerdekaan palestina karena hal itu adalah roh dan amanah dari konstitusi.( endiieet,generasi milenial).

    Pada saat ini, banyaknya generasi millennial yang  sudag mulai ikut berkontribusi dalam bela aksi palestina. Membantu palestina bukan hanya sekedar materi, apalagi di zaman yang canggih ini.

    Seperti yang diadakan pada organisasi baik berisik dan smart_171. Ada sekitar 500 pendaftar baru kelas baikberisik pada bulan November 2020.

    Dan masih banyak organisasi-organisasi millenialis lainnya yang ikut berkontribusi dalam pembebasan palestina.

    Maka, kini sudah tidak tepat jika dibilang kaum millennial adalah kaum rebahan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.