The Lover - Kelindan Mencintai, Membeci dan Membutuhkan - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku The Lover Duras

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 3 Desember 2020 12:52 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • The Lover - Kelindan Mencintai, Membeci dan Membutuhkan

    Membaca paragraf-paragraf dalam novel ini membuat saya membayangkan foto-foto yang tampil di atasnya. Novel ini aslinya adalah kumpulan foto dengan caption yang memberi penjelasan, kesan Duras terhadap kehidupannya di masa kecil, khususnya saat ia berada di Vietnam. Namun atas kesepakatan dengan editornya, foto-foto tersebut ditanggalkan saat naskah diterbitkan. Meski demikian, saya tetap bisa membayangkan foto seperti apa yang tampil di atas paragraf tersebut. Dan inilah Kisah hidup Duras yang dituangkan dari sudut pandang cinta, benci dan kebutuhan.

    Dibaca : 1.080 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: The Lover

    Penulis: Margurite Duras

    Penterjemah: Septina Ferniati

    Tahun Terbit: 2004

    Penerbit: Jalasutra                                                                                                  

    Tebal: 152

    ISBN:

     

    Membaca paragraf-paragraf dalam novel ini membuat saya membayangkan foto-foto yang tampil di atasnya. Novel ini aslinya adalah kumpulan foto dengan caption yang memberi penjelasan, kesan Duras terhadap kehidupannya di masa kecil, khususnya saat ia berada di Vietnam. Namun atas kesepakatan dengan editornya, foto-foto tersebut ditanggalkan saat naskah diterbitkan. Meski demikian, saya tetap bisa membayangkan foto seperti apa yang tampil di atas paragraf tersebut. Sebab selain memberikan kesan, Duras juga sering menggambarkan secara detail tentang tampilan yang ada di fotonya. Entah penambahan detail penjelasan ini dilakukan karena fotonya dibuang, atau sudah ada sejak sebelum foto ditanggalkan.

    Contohnya adalah saat ia menjelaskan sebuah foto keluarga: “Aku mengenalnya lebih baik dalam foto itu daripada foto-foto yang lebih baru. Di foto itu terlihat halaman rumah dekat danau kecil di Hanoi. Kami berfoto bersama, ia dan kami, anak-anaknya. Usiaku empat tahun. Ibuku ada di tengah-tengah foto. Aku mengenali caranya yang canggung memegang dirinya, caranya memberengut, caranya menunggu sesi foto itu beres dan selesai. Dengan melihat wajahnya yang tertarik ke belakang, dengan beberapa kesemrawutan pada gaunnya, dengan ekspresi mengantuk, aku tahu bahwa saat itu terik, bahwa ia lelah, bahwa ia bosan…”

    Ungkapan di atas jelas tidak dibutuhkan sedetail itu jika fotonya masih ada.

    Penulisan novel ini tidak lazim. Sebab Duras menulis berbasis foto-foto koleksi keluarganya. Berdasarkan foto-foto tersebut ia menyusun “biografi” dirinya. Ia mengisahkan masa kecilnya di Vietnam dan kisah cintanya dengan seorang pemuda keturunan China. Karena ketidak-laziman tersebut, novel ini menjadi sangat menarik. Baik bentuk maupun isi novel mendapat pujian dari para kritikus sastra dari seluruh dunia. Duras adalah salah satu penulis penting dari Perancis. Bahkan novel ini telah diangkat ke layer lebar.

    Buku ini berkisah tentang kompleknya mencintai, membenci dan tentang ketegaran. Duras memakai kehidupan dalam keluarganya dan pengalamannya menjalin hubungan asmara dengan seorang Pemuda China. Ia mengekpresikan bagaimana sesungguhnya proses mencintai dengan kebencian dan kepentingan praktis. Mencintai, membenci sekaligus membutuhkan sesuatu berjalin sedemikian rupa dalam dirinya.

    Duras menggunakan tokoh Sang Aku, seorang perempuan muda. Sang Aku bertutur datar saja. Tidak ada perasaan yang terlibat saat ia berkisah. Bahkan sang Aku menyampaikan bahwa ia ada tetapi sesungguhnya tidak ada.

    Sang Aku menyadari bahwa dia harus menjadi diri sendiri. Tegar. Ia harus berani hidup demi dirinya sendiri. Jika perlu menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya. Termasuk tubuhnya. Ketegaran untuk menjalani hidup, mewujudkan cinta dan manfaat digambarkan dalam tokoh sang Aku yang secara sadar menjalin hubungan asmara tanpa cinta. Tokoh sang Aku yang tidak melarikan diri dan tetap mencintai dalam kebencian kepada keluarganya yang amburadul.

    Tokoh aku yang bertutur sebagai orang pertama (Duras sendiri?), adalah anak perempuan dari pasangan Perancis yang tinggal di Vietnam. Tokoh perempuan ini mempunyai seorang kakak laki-kali dan adik laki-laki. Ia lahir di Vietnam. Karena kematian sang ayah dan kegagalan investasi yang dilakukan oleh ibunya, keluarganya hidup dalam kesulitan ekonomi. Sang Ibu yang sangat sibuk dengan urusan ekonomi membuat hubungan antar anggota keluarga menjadi sangat dingin. Mereka tidak saling memperhatikan. Duras menggambarkan hubungan keluarga ini dengan cinta yang diwujudkan dalam kebencian.

    Tokoh Aku menjalin hubungan dengan seorang pemuda China yang umurnya 12 tahun lebih tua. Mereka bertemu pertama kali pada sebuah feri. (Sepertinya Duras menggunakan sebuah foto saat ia naik feri tersebut untuk memulai ceritanya.) Ketima mereka akhirnya menjalin hubungan, Aku baru berumur 15 tahun, sedangkan sang pemuda China adalah seorang pemuda yang sudah sangat berpengalaman. Sang Pemuda bahkan telah berpengalaman dengan gadis-gadis saat ia tinggal di Paris selama dua tahun.

    Hubungan sang Aku dengan Pemuda China ini sangat komplikasi. Sebab sang Aku secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak bisa mencintai sang pemuda. Ia hanya membutuhkan uang dari sang pemuda. Namun sang Aku sangat menikmati hubungan asmaranya. Sementara sang Pemuda China diliputi ketakutan tetapi sekaligus menikmati hubungan asmara tersebut. Sang Pemuda ketakutan kehilangan sang Aku karena ayahnya menolak hubungan tersebut. Penolakan tersebut membuat Sang Pemuda takut kehilangan sang Aku sekaligus takut kehilangan fasilitas kemewahan kekayaan dari ayahnya.

    Keluarga sang Aku tentu sangat tidak menyetujui hubungan tersebut. Sang Ibu begitu marah kepada anak perempuannya. Sang Ibu sampai memukuli, menelanjangi dan mengumpati anaknya yang berhubungan dengan pemuda yang bukan dari kelompoknya. China! Namun di sisi lain, keluarga ini menikmati kemewahan yang disediakan oleh sang pemuda tersebut. Mereka makan di restoran mewah, bertamasya ke tempat hiburan dengan pembiayaan penuh dari sang pemuda. Meski semua kemewahan tersebut dibiayai oleh sang pemuda, tetapi tak ada ucapan terima kasih. Bahkan tak ada sapa dari keluarga ini kepada sang Pemuda. Betul-betul hanya manfaat yang ada. Di sini Duras menunjukkan bahwa membenci tidak selalu berarti menolak manfaat dari hal yang dibencinya. Kebencian bersanding mesra dengan manfaat. Manusia itu ternyata munafik benar.

    Hubungan asmara yang tidak direstui tersebut akhirnya bubar. Sang Aku pergi ke Paris. Sang Pemuda menyerah kepada keinginan ayahnya. Yaitu menikah dengan sesama China. Namun pada sebuah kesempatan, Ketika sang Aku telah menjadi penulis, sang Pemuda datang ke Paris dengan istrinya. Sang Pemuda menilpon sang Aku dan menyampaikan bahwa ia masih menyintainya.

    Sedangkan cinta kepada keluarga terkikis waktu seiring dengan kematian saudara lelakinya dan sang ibu. Cinta kepada keluarga menghilang bersama dengan hilangnya kebencian dan kewajiban.

    Cinta memang demikian kompleks. (548)

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 466 kali