Pentingnya Literasi Media untuk Menangkal Hoax di New Normal

Rabu, 6 Januari 2021 06:38 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seberapa penting peran literasi media dalam menangkal hoax????

Di era serba internet, masyarakat Indonesia harus memahami betapa pentingnya media literasi agar tidak termakan kabar hoax. Terlebih, masyarakat memang menjadi sasaran media untuk menyebarluaskan berita berita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber. Hoax adalah informasi yang sebenarnya tidak benar, tetapi seolah-olah benar adanya. Menurut  Silverman  (2015), hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun 'dijual sebagai kebenaran. Menurut  Werme  (2016), hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan hanya  menyesatkan  alias menyesatkan , informasi dalam  berita palsu  juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai fakta.

Hoaks ada karena keberadaan internet sebagai media online membuat informasi yang belum terverifikasi dan tidaknya terkenal dengan cepat. Hanya dalam hitungan detik, peristiwa itu sudah bisa terkenal dan diakses oleh pengguna internet melalui media sosial. Pemanfaatan media sosial saat ini berkembang dengan luar biasa. media sosial (medsos) semua orang untuk dapat bertukar informasi dengan sesama pengguna. Perilaku penggunaan media sosial pada masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif, menjadikan informasi yang benar dan salah menjadi bercampur aduk.

Melalui literasi media, masyarakat menjadi kritis, peka terhadap massa media informasi, serta mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas intelektual. Intinya, literasi media adalah aktivitas yang menekankan aspek edukasi di kalangan masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang ada.

"Dalam lingkungan informasi yang cepat dan serba gratis di internet dan media sosial, tiap orang bisa menjadi produsen pesan. Akibatnya, banyak warga sulit membedakan informasi yang benar atau salah," katanya dalam  kelas virtual  "Media Literasi untuk Melawan Hoaks," yang digelar  Liputan6.com, Jumat, 28/8/2020.

Selanjutnya, bakal ada sinisme, ketidakpercayaan, pandangan ekstrem, konspirasi, dan populisme yang kian berkembang. Lalu apa yang terjadi? Kebenaran dan kredibilitas media yang dulu dipercaya, kini malah dipertanyakan oleh publik, "ucap Zainuddin melanjutkan.

Posisi pers dan profesi wartawan yang sangat mudah dimanfaatkan oleh oknum untuk memuluskan kepentingannya. Sebagai akibatnya, banyak bermunculan jurnalis maupun media abal-abal dan hal ini memperparah kualitas informasi maupun jurnalisme di tengah masyarakat. ”

Peran literasi digital sangat penting, karena dengan literasi digital yang mampu membuat kita berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi masalah yang sedang terjadi. Literasi digital juga mampu membantu dalam memecahkan masalah, berkomunikasi menjadi lebih lancar, dan juga mampu berkolaborasi dengan lebih banyak orang.

Literasi digital sendiri dapat diartikan sebagai kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggungjawab untuk memperoleh informasi dan komunikasi.

Ada tiga pilar transformasi digital, yaitu transformasi digital pada masyarakat, dunia usaha, dan pemerintahan. Literasi digital Sendiri Hadir hearts menunjang pilar transformasi digital PADA 'masyarakat, Dimana Infrastruktur Dan regulasi Menjadi payung untuk review meningkatkan  kesadaran digitalpengetahuan digitalperilaku higienis,  Dan  keterampilan digital ,”Berikut Penyanyi Adalah gambar Kerangka  kerangka melek digital.

Peran keluarga dalam hal ini adalah mengedukasi dan menjadi contoh dalam proses penyerapan informasi yang masuk akal di dunia maya. Ayah dan Ibu harus menjadi contoh dalam mengidentifikasi berita manakah yang terindikasi  hoax atau  bermanfaat untuk diterapkan. Demikian juga masyarakat harus belajar dan memberi edukasi yang penting dengan tidak dan memberlakukan berita yang tidak jelas kebenarannya dengan bijak. Semboyan “jempolmu, harimaumu” kini terasa semakin nyata dalam menyikapi informasi yang ditampilkan di dunia maya. Maka yang harus dilakukan adalah menanamkan etika di era digital sebagai berikut, yaitu:

  1. Mintalah anak untuk tidak mewajibkan akun agar tetap terpantau
  2. Mengajak kritis menyikapi informasi
  3. Penggunaan media blog dapat melatih anak untuk menjadi penulis
  4. Eksplorasi minat dan bakat dengan informasi yang ada
  5. Konsisten menerapkan hukum jika melanggar dan apresiasi jika berhasil
  6. Ingatkan menghindari tayangan iklan rokok, miras, dan narkoba
  7. Menanamkan etika komunikasi di media sosial
  8. Memperkenalkankeanekaragaman, dan situasi ekonomi

 

 

 

 

 

sumber :

http:/scb.telkomseluniversity.ac.id/menangkal-hoax-dengan-literasi-digital-di-new-normal

Liputan6.com

Bagikan Artikel Ini
img-content
Hikkal Ahmad Bayu

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler