Petaka di Siula Grande; Kisah Survival Pendaki Gunung Paling Mengagumkan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Joe Simpson

anton sujarwo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2020

Selasa, 12 Januari 2021 16:34 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Petaka di Siula Grande; Kisah Survival Pendaki Gunung Paling Mengagumkan

    Ada banyak kisah survival dalam dunia pendakian gunung yang demikian terkenal, salah satunya adalah Touching the Void. Kisah survival ini menceritakan bagaimana seorang pendaki Inggris bernama Joe Simpson, bertahan hidup dan mencari jalar pulang dari gunung ganas Andes dengan kaki yang patah. Dalam banyak literatur hingga saat ini, Touching the Void diakui sebagai salah satu kisah manusia bertahan hidup di atas gunung yang paling mengagumkan.

    Dibaca : 833 kali

    kisah survival di gunung

    Tahun 1985, dua anak muda dari Inggris yang haus akan petualangan dan penjelajahan, datang ke Siula Grande di Peru untuk memuaskan dahaga mereka akan sebuah tantangan mountaineering. Keputusan Simon Yates dan Joe Simpson memilih Siula Grande ini merupakan dorongan dari semangat ekplorasi mereka khas jiwa pendaki konservatif yang memuja tantangan, keterasingan, kesunyian, dan misteri. Selain itu, Siula Grande adalah salah satu tempat di bumi yang masih menyisakan ruang first ascent bagi dua pemuda itu, setidaknya sisi barat (west face) gunung ini belum pernah dicoba oleh satu orang alpinis pun. Dan itu adalah sebuah kesempatan yang jika tidak mereka ambil, mungkin akan diambil oleh alpinis lain yang memiliki semangat penjelajahan sama seperti mereka.

    Dalam perjalanan menuju Siula Grande, di Peru, Simon Yates dan Joe Simpson bertemu dengan seorang pengelana Eropa lain bernama Richard. Richard bukan seorang pendaki gunung, ia adalah seorang laki-laki yang sama sekali tidak mengetahui tentang apa itu mountaineering dan alpinisme. Namun ketika Simpson dan Simon menawarinya untuk ikut ke Siula Grande, Richard tanpa banyak pertimbangan langsung saja mengiyakan.

    Ketika sampai di tepian sebuah Gletser tak jauh di Siula Grande, ketiga orang itu mendirikan perkemahan. Sementara Yates dan Simpson menyiapkan pendakian mereka, Richard secara sukarela bertugas sebagai tukang masak untuk kedua pendaki itu. Ketika Yates dan Simpson mulai melangkah menyusuri gletser menuju kaki sisi barat Siula Grande, Richard kembali bertugas sebagai penjaga bagi tenda dan barang-barang mereka. Dan untuk alasan itulah sebenarnya mengapa Simon Yates dan Joe Simpson mengajak Richard dalam pendakian mereka.

    Pendakian dua pemuda Inggris itu kemudian berlangsung dengan lancar menuju Puncak Siula Grande. Meskipun menemui beberapa kesulitan dihadang oleh tebing-tebing yang sulit, dan sempat pula bermalam di sebuah goa salju, Yates dan Simpson pada akhirnya berhasil mencapai puncak dengan selamat.

    Setelah berhasil mencapai Puncak Siula Grande melalui sisi barat yang belum pernah didaki sebelumnya, Joe Simpson dan Simon Yates memulai perjalanan turun. Dikarenakan medan yang mereka pilih adalah North Ridge yang tentunya berbeda dengan jalur naik sebelumnya, terdapat beberapa tebing yang tidak mereka prediksi, sehingga menuntut lebih banyak kewaspadaan dan kehati-hatian dalam melewatinya.

    Pada sebuah kesempatan, setelah berkali-kali berhasil turun rappelling dengan suskes menuruni beberapa dinding es, Simpson yang berada di depan tiba-tiba merasa canggung dan mendarat dengan keliru. Pendaratan yang keliru dan ragu-ragu dari Simpson itu berujung malapetaka, kaki kanan Simpson patah, dan ini membuat perjalanan turun menemui keadaan yang kian buruk.

    Proses pendakian ini sendiri telah melewati batas pendakian yang dijadwalkan sebelumnya. Kesulitan yang dihadapi pada saat mendaki membuat dua orang ini menghabiskan waktu lebih banyak di gunung. Dan itu artinya juga menghabiskan perbekalan mereka lebih cepat dari yang seharusnya. Bahan bakar untuk menyalakan kompor guna mencairkan es dan salju untuk diminum telah habis, perbekalan makanan juga hanya tersisa sangat sedikit. Dan sekarang ditambah dengan kaki Simpson yang patah membuat penderitaan kian terasa lengkap. Peluang untuk segera sampai di gletser kaki gunung dan pulang ke tenda nampaknya kian tidak mudah untuk diramalkan hasilnya.

    Setelah kaki Simpson patah, maka tak ada jalan lain baginya untuk menuruni tebing Siula Grande kecuali dengan cara dibelay oleh Yates. Simon Yates bediri di atas tebing dengan posisi biasanya duduk, dibantu oleh beberapa pijakan dan tumpuan yang ia buat supaya lebih kokoh saat menurutkan tubuh Simpson. Satu dua penurunan berjalan lancar, namun di tengah keletihan, rasa lapar, dan juga badai yang mulai mengamuk di Siula Grande, proses penurunan itu terasa kian sulit. Tidak hanya oleh Simpson yang kakinya patah, namun juga oleh Yates yang dalam buku Simpson dikatakan “tidak banyak berkata, namun jelas menunjukkan wajah yang sangat letih”.

    Tali yang digunakan dalam proses belaying ini adalah dua utas tali sepanjang 45 meter yang disambung menjadi satu sehingga memiliki panjang sekitar 90 meter kurang lebih. Karena talinya disambung maka salah satu ujungnya membentuk sebuah simpul yang tidak muat melewati plate belay dalam keadaan kencang. Dalam proses penurunan, Simpson perlu berdiri di atas kakinya untuk sementara waktu guna memberi kesempatan  kepada Yates memindahkan plate belay ke sambungan tali selanjutnya, dan hal tersebut hanya bisa dilakukan jika talinya dalam kondisi kendur.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.