Rekor 30 Tahun Pecah; Pendakian Solo Perempuan di Eiger North Face - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Laura Tiefenthaler

anton sujarwo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2020

Sabtu, 9 April 2022 05:27 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Rekor 30 Tahun Pecah; Pendakian Solo Perempuan di Eiger North Face

    Rekor pendaki gunung perempuan yang menyelesaikan pendakian Eiger North Face secara solo tak tergoyahkan selama 30 tahun. Tapi dua pekan lalu rekor ini pecah oleh seorang dokter cantik yang mendaki hanya untuk bersenang-senang. Tidak ada yang tahu nama Laura Tiefenthaler sebelumnya. Setelah melakukan pendakian solo itu, kini namanya sontak populer di dunia pendakian.

    Dibaca : 717 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak ada yang tahu nama Laura Tiefenthaler sebelumnya. Ia hanyalah seorang gadis cantik asal kota Innsbruck, Austria, yang suka bertualang dan memanjat tebing. Selebihnya, Laura Tiefenhaler adalah sosok yang sama sekali tidak populer.

    Namun itu berubah setelah apa yang ia lakukan pada tanggal 25 Maret 2022, atau sekitar dua minggu yang lalu. Di atas tebing gunung Eiger North Face yang mematikan, gadis cantik itu mendaki seorang diri, menaklukkan rute legendaris Hekcmair hanya dalam waktu 15 jam pemanjatan.

    Dengan pendakiannya ini, Laura Tiefenhaler secara tidak langsung telah mengukir namanya sebagai perempuan kedua di dunia yang berhasil menyelesaikan pendakian Heckmair Route Eiger North Face secara solo. 30 Tahun sebelum kehadiran Laura, ada nama Catherine Destivelle yang melakukan pemanjatan serupa dalam waktu 17 jam.

    Lantas, siapa sebenarnya Laura Tiefenhaler?

    Laura TiefenHaler dan Pendakian 15 Jam di Eiger North Face Secara Solo

    Dalam sejarah pendakian gunung Eiger, khususnya melalui sisi utara yang fenomenal atau lebih dikenal dengan istilah Eiger North Face, hanya ada tiga nama pendaki wanita yang pernah menjajalnya secara solo.

    Nama pertama adalah Catherine Destivelle, seorang Dewi Gunung dari Perancis yang pernah melakukan ekspedisi ke Latok 1 bersama dengan mendiang Jeff Lowe. Destivelle menaklukkan tebing Eiger pada tahun 1992 dalam sebuah pendakian selama 17 jam. Dan itu adalah rekor dunia.

    Nama pendaki perempuan selanjutnya adalah Alison Jane Hargreaves, pendaki gunung wanita dari Inggris yang terkenal dengan ekspedisi tiga puncak tertinggi dunia. Pendaki wanita yang juga pernah mencapai puncak gunung Everest secara solo melalui Jalur Utara pada tahun 1995 dan tewas setelah mencapai puncak gunung K2 di tahun yang sama beberapa bulan setelahnya.

    Nama ketiga adalah Evelyn Binsack, seorang petualang wanita dari Swiss yang pernah menempuh jarak hingga 27.000 km dalam sebuaha ekspedisi di Kutup Selatan selama satu tahun lebih.

    Di Eiger North Face, baik Alison mau pun Binsack menggunakan Rute Lauper yang tentunya berbeda dengan Heckmair Route yang dianggap lebih legendaris. Alison mengunjungi Eiger secara solo pada tahun 1993 sementara Binsack tahun 1994, keduanya sukses mencapai puncak.

    Jadi, berdasarkan data sejarah pendakian Eiger North Face, untuk rute Heckmair yang dibuat pada tahun 1938 dalam peristiwa first ascent, memang hanya Catherine Destivelle yang pernah menyelesaikan pendakian ini secara solo dan sukses.

    Profil Catherine Destivelle, Alison Hargreaves dan Evely Binsak dapat dibaca pula dalam buku Dewi Gunung yang ditulis oleh Anton Sujarwo.

    Profil Laura Tiefenhaler dan Alasannya Mendaki Eiger

    Laura tumbuh dan besar di kota Innsbruck, Austria, ia sudah mengenal dunia rock climbing sejak umur 10 tahun. Profesi utamanya adalah seorang dokter, namun seperti banyak pendaki gunung lainnya, mungkin passion sebenarnya dari Laura adalah mendaki gunung.

    Sebelum membuat namanya populer pada bulan Maret lalu, Laura Tiefenhaler pernah membukukan pendakian mengagumkan lainnya di Cerro Torre, Patagonia.

    Jika nama Catherine Destivelle dekat dengan nama Jeff Lowe sebelum membuat rekor di Eiger. Maka sosok legendaris yang memberi inspirasi pendakian pada Laura Tiefenhaler adalah Rolo (Rolando) Garibotti, salah satu master pendakian gunung di Patagonia. Dapat dikatakan bahwa percikan ide untuk membuat pendakian solo di Eiger adalah karena saran Garibotti.

    Berbeda dengan nama-nama para pendaki gunung perempuan sebelumnya di Eiger yang mendaki sebagai sebuah profesi, Laura Tiefenhaler melakukannya benar-benar untuk sebuah kesenangan, just for fun! Alasan ini pula yang membuatnya unik dan menarik untuk diceritakan lebih jauh.

    Tanggal 23 Maret 2022, Laura sudah di Eiger dan ia merasakan keraguannya saat itu.

    “Saya khawatir jangan-jangan saya memang terjebak untuk melakukan sesuatu yang bodoh” ujarnya.

    Hal menarik dari Laura kemudian, ia menemukan bahwa motivasinya mendaki Eiger North Face secara solo bukanlah untuk sukses, atau untuk mencapai puncak, atau untuk membuat rekor. Namun, alasan terbesar ia datang ke tebing dengan lintasan medan panjat sepanjang 1.800 meter itu adalah untuk bersenang-senang, untuk berbahagia dan menikmati hidup.

    “Mendaki gunung terlalu berbahaya bagi saya jika motivasinya untuk sukses” tambah Laura lagi.

    Laura Tifenhaler dan Rekor sebagai Pendaki Perempuan Kedua yang Memanjat Heckmair Route Eiger North Face secara Solo

    Dengan pencapaian yang dibukukannya ini, Laura Tiefenhaler telah menempatkan namanya sebagai pendaki perempuan kedua di dunia yang berhasil menyelesaikan pendakian Heckmair Route secara solo setelah Catherine Destivelle. Dalam catatan waktu, ia lebih hemat 2 jam dibandingkan Destivelle.

    Namun membandingkan durasi pendakian kedua wanita hebat ini juga bukan hal obyektif. Antara Destivelle dan Tiefenhaler ada banyak perbedaan yang harus dilihat pula secara adil. Tahun 1992 ketika Catherine Destivelle mengukir namanya abadi di Eiger North Face, kemajuan alat pendakian masih belum sehebat sekarang.

    Laura Tiefenhaler masih berusia 25 tahun, berprofesi sebagai dokter dan membuka praktik umum seperti dokter lainnya. Hobinya adalah mendaki gunung, tapi tetap ia memberikan porsi pada hobi itu sebagai sebuah hobi saja. Seperti katanya ‘just for fun’.

    Dan ini adalah yang membuatnya istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Garibotti.

    “Laura Tiefenhaler istimewa karena pendakiannya sama sekali bukan untuk sesuatu yang biasa terjadi (untuk sukses, rekor, atau tuntuan sponsor). Laura sangat berkomitmen, tapi sangat jelas ia melakukan hanya untuk sebuah kesenangan. Ia sangat netral dan sangat rendah hati”

    Oke, Selamat untuk Laura Tiefenhaler.

    Kita berdoa pula ada juga srikandi Indonesia yang membuat pencapaian serupa di masa depan.

    Referensi: Arcopodo Journal

    Ikuti tulisan menarik anton sujarwo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.