Diva Mineral Indonesia: Nikel dan Bauksit - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Riki Sualah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Juli 2020

Rabu, 17 Februari 2021 07:42 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Diva Mineral Indonesia: Nikel dan Bauksit

    Dua mineral jagoan Indonesia ini seiring berkembangnya zaman akan menjadi prospek empuk. Sebab, nikel dan bauksit merupakan salah satu komponen penting bagi baterai dan mobil listrik di masa depan. 

    Dibaca : 626 kali

    Indonesia dan segenap masyarakatnya patut berbangga. Sebab, Nusantara kini makin berkilap di mancanegara berkat sumber daya alamnya. Adalah nikel dan bauksit, dua mineral jagoan Indonesia yang seiring berkembangnya zaman akan menjadi prospek empuk. Sebab, nikel dan bauksit merupakan salah satu komponen penting bagi baterai dan mobil listrik di masa depan. 

    Perlu diketahui, Indonesia kini menempati posisi sebagai penguasa nikel dan bauksit dunia. Baik dari produksi dan cadangannya, Indonesia di posisi teratas. Berdasarkan data Kajian Badan Geologi Kementerian ESDM dan laporan United States Geological Survey (USGS), dilaporkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar pada mineral nikel dan bauksit. 

    Iman Sinulingga, Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMP) Kementerian ESDM, mengungkapkan bahwa Indonesia mendominasi hampir 24% cadangan nikel dunia berdasarkan data USGS 2020.

    Hingga Desember 2020, PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat total sumber daya logam total adalah 204 juta ton. Lalu, total cadangan logam sekitar 69 juta ton didominasi dengan klasifikasi cadangan terkira. Sedangkan secara umum total sumber daya bijih nikel yang dimiliki Indonesia sebanyak 14 miliar ton. 

    Iman menambahkan, Indonesia menduduki peringkat pertama secara global berkat jalur zonasi ofiolit yang terbentang di Sulawesi, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Menurut Prof. Dr. Emmy Suparka, Profesor Geologi asal ITB Bandung, ofiolit adalah sisa kerak samudera purba dan mantel atas yang alih tempat atau penempatannya ke tepian benua secara tektonik yang berumur maksimum 170 juta tahun. Pada ofiolit terdapat endapan mineral logam dan nonlogam seperti emas dan perak yang terkategorikan sebagai logam mulia. Kemudian ada besi, kronit, nikel, dan grup platinum yang terkategorikan sebagai logam berat.

    Sedangkan jalur ultrabasa/ofiolit nikel laterit yang telah dieksplorasi dan memberikan kontribusi sumberdaya-cadangan nasional berada di lengan timur Pulau Sulawesi, lengan timur Halmahera, Pulau Obi, Gag, Gebe, Waigeo, Papua Barat, dan Papua. 

    “Saat ini, terdapat lima besar provinsi di Indonesia dengan sumber daya alam besar dan berpotensi. Ada Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua,” tutur Iman. 

    Dari sisi produksi pertambangan nikel, Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia, di atas Filipina dan Rusia. Sebagai bukti, menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin, produksi feronikel pada 2020 mencapai 1,46 juta ton atau 112,3% dari target. Lalu Nickel Pig Iron (NPI) mencapai sebesar 860 ,5 ribu ton atau 136,9% dari target, dan nickel matte sebesar 91,7 ribu ton atau 127,9% dari target.

    Jika dibandingkan dengan tahun 2019, produksi logam nikel pada tahun 2020 rupanya mengalami peningkatan sebesar 10,18% untuk produk NPI dari 781 ribu ton pada 2019 dan nickel matte naik 27,36% dari 72 ribu ton pada 2019, dan feronikel naik 27% dari 1,15 juta ton pada 2019.

    Untuk mineral bauksit, menurut data USGS 2020 Indonesia memiliki 4% cadangan bauksit yang menjadikan Nusantara menduduki peringkat ke-6 dunia.

    Berdasarkan data PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM, sisi persebaran yang telah dilakukan eksplorasi dan memberikan kontribusi pada sumber daya-cadangan nasional bauksit berada di Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan potensi baru adalah Bangka Belitung.

    Untuk produksi, produksi bijih bauksit pada tahun 2020 sebanyak 25,9 juta ton, sedangkan penjualannya sebanyak 24,5 juta ton. Menurut Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Sugeng Mujiyanto, jumlah ini cukup meningkat di atas 100% dari target 2020. Sedangkan turunannya, produksi alumina Indonesia berada di posisi 11 dunia dengan jumlah total produksi 1 juta ton alumina.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.