Perjuangan Mendapatkan si Buah Hati - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Helda Rahmayuni

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Februari 2021

Kamis, 25 Februari 2021 16:20 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Perjuangan Mendapatkan si Buah Hati

    Karya tulis

    Dibaca : 425 kali

    Sebelum tahun 2004, ada sebuah kota kabupaten di Provinsi Riau yang jalan rayanya sepi karena jarang dilintasi mobil. Penduduk yang mempunyai mobil pun sangat sedikit, terbatas kepada para pejabat lokal saja. 

    Kota tersebut bernama Tembilahan yang terletak di sebuah delta di muara Sungai Indragiri, menghadap ke pantai timur Pulau Sumatera. Tembilahan merupakan ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir, sebuah kabupaten yang tergolong luas dibanding kabupaten lain di Riau.

    Lalu lintas utama pada waktu itu memang bukan di jalan raya, tapi di sepanjang sungai Indragiri beserta anak-anak sungainya. Makanya tidak heran kalau julukan Tembilahan pada waktu dulu adalah "negeri seribu parit", karena saking banyaknya parit selebar 10-20 meter yang dialiri air dan berfungsi juga sebagai irigasi bagi perkebunan kelapa.

    Tembilahan adalah penghasil kelapa terbesar di negara kita. Sekarang ini beberapa pabrik minuman olahan dari air kelapa, yang iklannya sering muncul di layar kaca, berada di kota ini. Bahkan pada tanggal 9 sampai 11 Sepetember 2017 mendatang akan diadakan Festival Kelapa Internasional di Tembilahan. 

    Kembali apa yang dulu terjadi pada tahun 2001, dimana ada seorang ibu yang sedang mengandung, usia kandungan ibu itu masih sekitar 5 bulan, belum tau apa jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Ibu itu sedang mengandung anak ketiganya, ia sudah memiliki dua gadis kecil yang sangat cantik. Banyak orang yang suka melihat dua gadis kecilnya itu. Gadis kecil pertama berumur empat tahun, sangat cantik, diberi nama Nurhakiki. Dan gadis kecil keduanya diberi nama Delvi Nur A'fni.

    Selisih umur keduanya hanya dua taun. Nurhakiki yang dipanggil Kiki, sudah menginjak usia 4 taun, dan Delvi sudah menginjak usia 2 taun. Mereka sangat periang dan menggemaskan. Karena sudah memiliki anak gadis yang sangat lucu, ibu dan suaminya menginginkan anak yang dalam kandungan saat ini berjenis kelamin laki laki. "Tentu sangat bahagia jika memiliki satu lagi anak laki laki," ucap ibu dan suaminya. Mereka belum pernah melakukan USG. Hal itu sengaja mereka lakukan, karena ingin menjadi kejutan saja ketika pas lahiran nanti.

    Dengan usia kandungan yang sudah mulai nampak, Anisah, Adik dari ibu yang sedang mengandung itu berkunjung kerumah. Dan berbincang bincang tentang kondisinya saat itu. Anisah sudah menikah, tetapi tak kunjung mendapatkan anak, sudah 5 kali ia keguguran, dari mulai usia kandungan muda bahkan ada yang sudah hampir menginjak usia kehamilan 7 bulan. Sedih tentu Anisah rasakan, begitu berat hari hari yang ia lewati.

    Setiap hari dia berdoa agar segara diberikan keturunan kepada Allah SWT. Sampai saat itu Anisah mengatakan kepada ibu yang sedang mengandung itu bahwa ia menginginkan anak yang sedang dikandung itu untuk diberikan kepadanya. 

    Dengan rasa kasihan ibu itupun meng-iyakan keinginan adik kandungnya itu, tentu dengan kesepakatan antara si ibu dan suaminya. "Kami akan memberi bayi ini jika dia perempuan, dan jika bayi ini laki laki, kami tidak bisa memberikannya" ucap suami ibu itu. Mendengar ucapan itu Anisah langsung saja kegirangan bahagia dengan senyuman yang terlihat dari raut wajahnya.

    Senyumannya yang sangat indah bagaikan bunga yang berkah dan semangatnya bagaikan api yang berkobar-kobar. Ia sangat berterimakasih dan begitu berharap anak yang dikandungnya itu seorang perempuan.

    Bulan bulan berlalu usia kandungan ibu Sumiati sudah mulai membesar. Tepat tanggal 8 Agustus 2001, selesai shalat magrib ibu itu tiba tiba merintih kesakitan, sakit yang teramat sangat, tidak ada yang dapat merasakan kesakitan itu selain para ibu ibu yang sedang hamil. Sakit yang tidak terutarakan rasanya. 

    Suami ibu Sumiati sangat risau, dan segera memanggil orang tuanya yang memang sudah ada di rumah mereka sejak usia kandungan ibu Sumiati masuk usia 9 bulan. Ibu mereka berkata, "Cepat panggil bidan, ini sudah mau keluar bayinya." Dan pak Suaidi, yaitu suami dari ibu Sumiati segera bergegas mencari kunci sepeda motor, setelah menemukannya langsung ia tancap gas untuk segera menjemput bidan.

    Setelah lama berkeliling mencari keberadaan ibu bidan, akhirnya pak Suaidi mendapatkannya. Dan tentu saja mereka segera pulang kerumah untuk membantu persalinan ibu Sumiati. Sesampainya pak Suaidi dan ibu bidan dirumah, mereka terkejut karna ibu Sumiati sudah dalam keadaan lemas dan betapa mengejutkannnya bayi itu sudah keluar dari perut ibu Sumiati. Ibu bidan langsung mengarahkan mata nya kepada orang tua dari ibu Sumiati yang kebetulan berada tepat disebelahnya. "Tadi saya lihat kepala bayi nya sudah keluar, dan saya bantu untuk mendorong perlahan lahan. Alhamdulillah bayi nya keluar dengan sempurna," ucapnya. Mendengar penjelasan itu bidan itu menghela nafas lega, dan begitu juga pak Suaidi, suami dari ibu Sumiati itu. Dan mereka lihat bayi itu berjenis kelamin permepuan. 

    Segera ibu bidan itu melakukan tugasnya yang tentunya masih belum selesai. Ibu bidan mengeluarkan ari-ari yang ada didalam perut ibu Sumiati, lalu kemuduan memotong tali pusat bayi yang masih menyatu dengan ari-ari itu. Setelah semua beres. Ibu bidan membersihkan bayi itu dan memandikannya.

    Bayi itu memiliki berat 4,2 kg. Tentu saja itu termasuk kedalam angka yang berat untuk seorang bayi, dengan rambut yang lebat lagi hitam berkilau. Sangat sangat mirip seperti boneka. Setelah hari hari berlalu, sepasang suami istri itu teringat sesuatu bahwa mereka pernah mengatakan jika anak bayi itu perempuan maka akan diberikan kepada adik kandungnya. Yaitu Anisah, mereka mengabarkan kelahirannya itu kepada Anisah, tentu saja Anisah sangat gembira mendengar kabar itu, keesokan harinya Anisah bersama suaminya mendatangi rumah ibu Sumiati, mereka terharu melihat ada bayi kecil yang lucu dan menggemaskan yang sedang tidur. 

    Mereka tidak langsng menanyakan kesepakatan kemarin, karna itu sangat tidak baik apalagi posisinya ibu Sumiati sedang dalam masa sesudah melahirkan, belum begitu pulih. Ibu Sumiati sangat berat ingin memberikan anaknya itu, tetapi di sisi lain ia sudah terucap sehingga ia sulit untuk mengatakannya kepada Anisah. Sehingga di suatu hari Aisyah memutuskan untuk tidak jadi meminta bayi itu, karna ia sangat kasihan mendengar pengorbanan melahirkan ibu Sumiati. Hati Anisah sangat lembut sekali bagaikan selembut sutra. Ia mengatakan kepada ibu Sumiati untuk tidak meminta bayi itu, dan cuma meminta doa kepada ibu Sumiati agar mereka segera diberi keturunan. Ibu Sumiati pun bingung harus bagaimana, sedih bercampur bahagia perasaannya saat itu. 

    Melihat ibu Sumiati yang mulai meneteskan air mata, Anisah menyapu air mata itu dengan tangannya sambil berkata, "Tidak apa-apa kakak, aku tau ini sulit, percayalah aku tidak apa-apa, aku cuma minta doa kepada kakak untuk ku, agar segera diberi malaikat kecil dalam rahim ku ini." Mendengar kata itu, tangsian ibu Sumiati semakin menjadi, dia sangat merasa bersalah namun ini lah keputusan Anisah. Mereka saling berpelukan dan menitikkan air mata. Suami mereka saling menatap dan bungkam tanpa sepatah kata. 

    Kehidupan berjalan dengan lancar, anak kecil itu diberi nama Helda Rahmayuni, anak kecil yang memiliki bola mata cukup besar, rambut yang lebat, dan tentu saja badan yang gendut. Semua orang di lingkungannya menyukainya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menyebut Helda sebagai boneka hidup. Ia tumbuh menjadi anak yang periang, bermain bersama kakak kakaknya yang tentu saja juga masih tergolong anak-anak, Kiki yang sudah berusia 6 tahun, Delvi berusia 4 tahun, dan Helda sudah yang meninjak usia 2 tahun.

    Beberapa Minggu kemudian, Anisah datang ke rumah ibu Sumiati membawa kabar baik, yaitu kabar bahwa Anisah hamil lagi, tentu saja serentak mereka terkejud dan sangat bahagia. Mereka sangat berharap dari kehamilan ini tidak terjadi lagi seperti kejadian kejadian sebelumnya, yaitu keguguran dalam kandungan.

    Ibu Sumiati menyarankan untuk Anisah agar tidak terlalu melakukan aktivitas aktivitas berat. "Untuk sekarang kurangi aktivitas aktivitas berat ya Syah, kamu ga boleh kecapekan, perhatikan kandungan mu," ucap ibu Sumiati. "Tentu saja kak, doakan semuanya lancar sampe persalinan ya kak," kata anisah. " Iya Anisah, aku selalu mendoakan semua yang terbaik untuk mu dan calon bayi mu," ucap ibu Sumiati lagi sambil mengelus perut Anisah yang sudah ada janin didalamnya.

    Usia kandungan Anisah sudah memasuki empat bulan, ia merasakan ada yang aneh di dalam perutnya. Dia mengatakan kepada suaminya dan berfikir positif bahwa itu cuma sedikit masalah dari seorang ibu hamil. Sorenya ia benar benar terkejut melihat darah yang keluar teramat banyak, kakinya lemas, ia terbaring dan berteriak memanggil suaminya. Suaminya yang kebingungan segera menelpon keluarga.

    Tak lama setelah itu tiba ibu Sumiati dan betapa terkejutnya ia sudah melihat darah yang mengalir di kaki ibu Anisyah. Mereka segera memanggil bidan kampung, dan bidan itu mengatakan Anisyah keguguran lagi. Hal ini tentu bukan pertama kali dilihat mereka, tetapi tetap saja, sedih tak terbendung kembali terlihat disemua raut wajah keluarga, terutama Anisyah. Mereka hanya mampu memberikan semangat dan motivasi untuk Anisyah untuk tetap semangat. "Kamu wanita yang kuat Syah. Kamu harus tegar menjalani semua ini, ini takdir yang harus kau jalani, jangan pernah menyalahkan takdir. Usaha terus tanpa kata menyerah. Ingat juga, kalau menyerah bukanlah jalan kehidupan yang sesungguhnya. Tapi itu seperti semak belukar yang bisa kamu lewati asal ada keberanian," ucap ibu Sumiati kepada Anisah.

    "Pasti kak, aku selalu kuat, aku pasti bisa melalui semua ini," ucap Anisah tersenyum.

    Hari hari berat sudah dilalui Anisah beserta suami. Saat itu mereka sedang terbaring di kasur dan memperbincangkan sesuatu. Mereka sedang membuat planning untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu Haji. Mereka memutuskan untuk pergi menunaikan haji berdua sembari meminta di ranah suci untuk segera diberikan keturunan. Hal itu segera ia beritahu kepada keluarga. 

    Sampai pada hari dimana keberangkatan jamaah haji, mereka bergegas ke bandara dan didampingi keluarga yang melihat keberangkatan mereka.  Sesampainya di tanah suci, mereka beribadah dan memohon doa doa yang mereka inginkan terkhusus doa agar diberikan momongan.

    Satu bulan setelah kepulangan Anisah dan suaminya dari tanah suci, akhirnya Anisah kembali hamil. Rasanya begitu cepat dikabulkan permintaannya. Anisah kembali bersemangat menjalani hari harinya, tidak lupa ia kembali mengabarkan pada semua keluarganya dan tentu saya. Respon keluarga nya sangat bahagia. Sampai pada waktu dimana usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan dan detik-detik dimana akan segera melahirkan. Seluruh anggota keluarga berkumpul, menemani Anisah di rumah persalinan. 

    Beberapa jam kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Ya akhirnya semua menetesakn air mata bahagia, semua usaha yang dilakukan Anisah akhirnya berhasil. Ia sudah memiliki seorang anak sekarang yang sehat. Anaknya berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Muhammad Iqbal Ihsan

    Tamat-



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.