Frankenstein Membahas Hubungan Pencipta dengan Ciptaannya? - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku Frankenstein

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 19 April 2021 17:21 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Frankenstein Membahas Hubungan Pencipta dengan Ciptaannya?

    Kisah Victor Frankenstein yang berhasil membuat manusia hidup. Tetapi kemudian terjadi perseteruan antara Victor dengan makhluk ciptaannya.

    Dibaca : 1.328 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Frankenstein

    Penulis: Mary Shelley

    Penterjemah: Anton Adiwiyoto

    Tahun Terbit: 1995 (cetakan kedua)

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: 384

    ISBN: 979-605-066-8

    Saya membaca novel “Frankenstein” karya Mary Shelley ini setelah saya membaca buku “The Year Without Summer” karya bersama William K. Klingaman dan Nicholas K. Klingaman. Dari buku karya Klingaman itu saya tahu bahwa “Frankenstein” lahir akibat dari letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang menyebabkan Eropa dan Amerika tak mempunyai musim semi di tahun 1816. Mary Shelley dan suaminya – penyair Percy Bysshe Shelley dan Clarey  mengunjungi Lord Byron di Vila Diodati di Danau Jenewa. Clarey adalah saudara tiri Mary. Selain dari mereka bertiga, ada beberapa orang yang saat itu berada di Villa Diodati. Sayang sekali musim semi yang diharapkan saat mereka di tepi Danau Jenewa tak kunjung muncul. Yang terjadi adalah suhu yang tetap dingin dan hujan yang terus menerus. Akibat dari hujan terus menerus memaksa Mary Shelley, John William Polidori dan kawan-kawannya tetap tinggal di dalam Vila Diodati di tepi Danau Geneva. Mereka berlomba membuat cerita yang paling mengerikan. Shelley menghasilkan karya Frankenstein. Sedangkan Lord Bryon menghasilkan karya A Fragment dan sebuah puisi berjudul Darkness. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Frankenstein lahir dari Tambora.

    Saya mengenal Frankenstein dari film kartun yang diputar di TVRI saat saya masih kecil di tahun 1970-an. Tokoh kartun yang tampil di TVRI adalah seorang lelaki besar yang buruk rupa dan sering membuat teror. Sejak menonton film tersebut, saya menyangka bahwa nama si buruk rupa itu adalah Frankenstein. Ternyata Frankenstein adalah nama penciptanya; bukan nama monsternya. Nama lengkap sang pencipta adalah Victor Fankenstein.

    Dari buku yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1994 ini, saya mendapatkan beberapa hal yang menarik. Saya bertanya-tanya, apakah Mary Shelley sedang membahas hubungan manusia dan penciptanya? Apakah ia sedang berimajinasi bagaimana pesaraan Tuhan terhadap manusia ciptaannya melalui hubungan Frankenstein dengan makhluk ciptaannya? Diguaan saya ini sangat kuat berdasarkan beberaa fakta yang saya dapati dalam novel ini.

    Namun sebelum membahas tentang topik hubungan Tuhan dan manusia ciptaannya, saya ingin berbagi tentang sinopsis kisah Victor Frankenstein dan makhluk ciptaannya. Saya juga ingin berbagi bagaimana Mary Menyusun ceritanya. Victor adalah anak seorang berada. Ia dibesarkan dalam kehidupan yang penuh kasih sayang. Ia mempunyai saudara tiri bernama Elisabeth dan adik kandung bernama William. Keluarga Victor mempunyai seorang pembantu bernama Justine. Justine sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga.

    Victor yang suka akan ilmu pengetahuan kuliah di sebuah universitas di Ingolstadt. Ia belajar sain dan terobsesi untuk menciptakan sebuah makhluk yang hidup. Melalui usahanya yang sangat serius, ia berhasil menghidupkan makhluk yang mengerikan (hal. 80). Saat makhluk itu hidup, ia malah ketakutan dan meninggalkan kamar kost yang sekaligus menjadi laboratoriumnya. Si makhluk pun lari dari laboratorium.

    Si Makhluk yang merasa diri seperti manusia, mencoba untuk bersosialisasi. Tetapi ia malah dipukuli oleh penduduk desa. Ia akhirnya bertemu dengan keluarga Felix. Keluarga Felix terdiri adari sang ayah yang buta, Felix dan adiknya yang bernama Agatha. Selain dari mereka bertiga ada juga seorang perempuan Arab bernama Safie. Safie menjadi istri Felix. Dari keluarga ini si Makhluk belajar tentang bicara, mengenal kata-kata, cara-cara hidup dan bahkan akhirnya belajar membaca (hal. 208). Si Makhluk membantu keluarga Filix secara diam-diam dengan menyediakan kayu bakar. Karena yakin bahwa ia akan diterima di keluarga, ia mendatangi sang ayah yang buta. Sang ayah berjanji untuk membantu si Makhluk supaya diterima oleh keluarganya. Namun yang terjadi adalah sebuah bencana. Saat Felix melihat makhluk mengerikan berada di dekat ayahnya, ia segera saja memukuli si Makhluk. Dan Si makhluk pun lari dengan perasaan yang sangat sedih dan penuh dendam. Setelah menyepi, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Victor sang pencipta. Si Makhluk pun berangkat ke Jenewa. Dalam perjalanan ke Jenewa ia melihat ada perempuan yang tenggelam. Ia berhasil menolongnya. Tetapi lelaki kawan si perempuan malah menembaknya. Kejadian ini membuat ia semakin diliputi rasa marah dan dendam.

    Sesampai di Jenewa, ia bertemu dengan William, adik Victor yang masih kecil. Ia menyangka bahwa anak kecil tidak akan takut kepadanya. Tetapi ternyata William ketakutan, sehingga si Makhluk mencekiknya sampai mati. Kalung yang ada di leher William diambilnya. Ia bersembunyi di sebuah gudang Jerami. Di gudang itu ternyata ada Justine yang sedang tidur. Si Makhluk yang dirundung dendam memasukkan kalung tersebut ke dalam saku Justine. Akibatnya Justinelah yang disangka sebagai pembunuh Willian. Justine dihukum mati.

    Si Makhluk meminta supaya ia diberikan kawan. Ia minta Victor menciptakan makhluk perempuan untuknya. Setelah ia punya teman, ia berjanji untuk meninggalkan bangsa manusia. Permintaan tersebut tentu saja ditolak oleh Victor. Selain Victor sangat marah akan kelakuan si Makhluk, ia juga takut kalau si Makhluk dan kawan perempuannya nantinya malah berkembangbiak. Namun di Makhluk mengancamnya. Ia akan melakukan pembunuhan kepada orang-orang dekat Victor, termasuk Elisabeth perempuan yang akan menjadi istrinya.

    Victor yang galau akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jenewa menuju Inggris. Ia ditemani oleh Clerval, teman masa kecilnya. Clerval dibunuh oleh si Makhluk karena si Makhluk mengetahui bahwa Victor tak akan memenuhi permintaannya. Si Makhluk juga membunuh Elisabeth di malam pernikahannya dengan Victor. Maka Victor pun mengejarnya sampai ke kutub utara. Victor yang kelelahan akhirnya meninggal di sebuah kapal yang menolongnya saat ia hampir mati di lautan es. Saat Victor akhinya mati, si Makhluk mendatangi mayat Victor. Ia merasa sudah tidak mempunyai arti hidup lagi, karena sudah tidak punya pencipta dan tidak mempunyai musuh. Si Makhluk memutuskan untuk mati saja.

    Dari sisi cara bertutur, Mary Shelley memilih menggunakan media surat menyurat dan dialog antar pelaku. Mary menggunakan tiga lapis kisah. Pertama adalah kisah dari L. Walton yang sedang melakukan perjalanan kapal menuju kutub utara. Perjalanan R. Walton ini diungkapkan melalui surat-suratnya kepada Mrs. Saville dan kepada Margaret di Inggris, di bagian prolog. Surat-surat R. Walton juga muncul sebagai penutup kisah.

    Selanjutnya cerita diisi oleh kisah Victor Frankenstein mulai dari sejak masa kecilnya sampai saat ia meninggal di kapal milik R. Walton. Mary memilih cara tokoh Victor bercerita kepada R. Walton. Victor menceritakan kisah hidupnya saat ia diselamatkan oleh R. Walton dari lautan yang membeku (bab 1 – 12 dan 18 - 24 ). Lapisan ketiga adalah sia Makhluk yang bercerita kepada Victor saat mereka bertemu di Jenewa, setelah si Makhluk membunuh William dan membuat Justine dihukum mati (bab 13 – 17).

    Mengapa saya merasa bahwa Mary sedang membahas topik hubungan tuhan dengan ciptaannya? Atau setidaknya mencicipi bagaimana perasaan tuhan saat tahu bahwa ciptaannya tidak sempurna?

    Pertama, saya menemukan bagian pembuka novel ini menggunakan kutipan dari Paradise Lost sebagai berikut: “Apakah aku memintamu, hai, Pencipta, untuk menjadikanku manusia dari tanah liat itu? Apakah aku memohon padamu untuk mengeluarkanku dari kegelapan? Kutipan di awal novel ini jelas bahwa Mary memang ingin mengeksplorasi hubungan pencipta dengan ciptaannya.

    Hal kedua yang membuat saya berprasangka bahwa Mary sedang mendiskusikan hubungan pencipta dan ciptaannya saya temukan di halaman 73. Mary mendiskripsikan penciptaan si Makhluk mirip seperti gambaran di Kitab Kejadian saat Allah berkehendak menciptakan manusia. Victor ingin menciptakan manusia seperti diriku sendiri (hal. 73). Namun ciptaannya ini tidak sempurna dan malah mengejutkannya. Ciptaan yang berhasil belajar dan mempunyai perasaan ini sejalan dengan kisah Adan dan Hawa yang jatuh dalam dosa dan upaya manusia untuk membangun Menara Babel, seperti dikisahkan di Kitab Kejadian.

    Mary menggambarkan perasaan Victor sebagai pencipta dan si Makhluk sebagai ciptaan dengan sangat menarik. Hubungan saling membutuhkan dan saling benci. Hubungan seperti ini memang muncul di Eropa di abad 19. Contohnya adalah pemikiran Nietzsche. Sangat menarik untuk membahas lebih mendalam topik hubungan pencipta dengan ciptaannya ini.

    Dan bagaimana bisa manusia menjadi jahat? Mary meminjam kisah hidup si Makhluk untuk menunjukkan bahwa pengucilan dan tidak adanya rasa cinta membuat manusia menjadi jahat. “Aku menjadi jahat karena keadaanku menyedihkan. Bukankah aku ditolak dan dibenci seluruh bangsa manusia?” (hal 238). 584

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 466 kali