Refleksi Hari Ulang Tahun, Berartikah Selama Hidup Bagi Orang Lain? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Semar

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 2 Mei 2021 07:28 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Refleksi Hari Ulang Tahun, Berartikah Selama Hidup Bagi Orang Lain?

    Berartikah hidup saya bagi orang lain? Orang lain yang bisa menjawabnya. (Supartono JW.30042021) Saat usia kita bertambah, apa yang paling sering ada dalam benak kita, isi kepala, otak kita? Apakah tentang pesta, kado, makanan enak, tiup lilin, dan doa? Atau sekadar melewatkan hari kelahiran begitu saja? 

    Dibaca : 199 kali

    Berartikah hidup saya bagi orang lain? Orang lain yang bisa menjawabnya. (Supartono JW.30042021)

    Saat usia kita bertambah, apa yang paling sering ada dalam benak kita, isi kepala, otak kita? Apakah tentang pesta, kado, makanan enak, tiup lilin, dan doa? Atau sekadar melewatkan hari kelahiran begitu saja? 

    Tentang ulang tahun

    Bicara ulang tahun, dari berbagai literasi ada sejarahnya, ada budayanya, dan ada pandangan dari semua agama. Namun, kapan menyoal ulang tahun ini muncul di dunia, yang paling akurat dan masuk akal adalah tatkala sudah terciptanya kalender.

    Sebelumnya, peradaban awal tidak memiliki cara untuk melacak waktu selain dengan menggunakan bulan, matahari, atau peristiwa penting lainnya, termasuk hari jadi kelahiran seseorang. 

    Seiring berjalannya waktu, setelah orang kuno mulai memperhatikan siklus bulan, mereka juga mulai memperhatikan perubahan musim. Mereka juga memperhatikan bahwa pola ini berulang-berulang. Mereka mulai menandai perubahan waktu ini.

    Inilah kalender pertama yang diterapkan, yang menandai perubahan waktu dan hari-hari khusus lainnya. Dari jenis sistem pelacakan ini muncul kemampuan untuk merayakan ulang tahun dan peristiwa penting lainnya serta hari jadi setiap tahun.

    Ada beberapa sistem kalender atau penanggalan yang digunakan, salah satunya adalah kalender masehi atau kalender Gregorian yang pertama kali dikenalkan pada tahun 1582. Digunakan di semua negara di dunia dan
    sudah digunakan lebih dari 4 abad lamanya. Sistem ini menggunakan hitungan waktu perputaran bumi terhadap matahari. Dari situlah cikal bakal budaya ulang tahun dimulai.

    Namun, meski ada aturan di setiap agama menyoal ulang tahun ini, maka semakin ke sini, ulang tahun menjadi identik dengan pesta, kado, dan makanan enak, tiup lilin, dll.

    Karenanya, agar manusia tak lupa diri, maka lahir pula budaya mengucapkan selamat ulang tahun yang isinya mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada yang berulang tahun dari keluarganya, kerabatnya atau saudaranya, teman, sahabat, rekan kerja, dan sebagainya, khususnya yang tahu tanggal kelahiran yang berulang tahun.

    Refleksi diri

    Meski demikian, dalam perjalanannya, banyak orang yang tidak mau tanggal kelahirannya diketahui oleh orang lain, kecuali olah keluarga dan orang terdekatnya dengan berbagai macam alasan.

    Sebab, saat berulang tahun, bagi dirinya yang terpenting adalah menjadi momentum bersyukur, karena sampai batas hari kelahirannya masih diberikan kesempatan hidup sehat selamat dan menyadari bahwa umurnya telah berkurang.

    Lalu, karena sadar umur telah berkurang, ada refleksi diri tentang sifat dan sikap sepanjang masih ada kesempatan hidup di dunia. Dengan refleksi diri, maka kita tahu seberapa bermanfaat diri kita bagi diri sendiri dan orang lain selama ini.

    Apakah selama ini kita sudah menjadi orang yang pandai bersyukur? Menjadi orang yang dewasa, bijak, dan rendah hati? Apakah sepanjang hidup kita, kita andil bermanfaat bagi orang lain? Apakah hidup kita tidak hanya untuk diri sendiri? Atau hidup kita sudah penuh dengan berbagi dan berbagi, memberi tentang segala macam hal kepada orang lain? Atau sepanjang hidup kita, malah merepotkan orang lain?

    Benarkah kita sebagai manusia yang memiliki agama dan kepercayaan, sudah menjadi manusia penuh toleransi, penuh kepedulian, peka pada kondisi dan keadaan? Memiliki rasa simpati dan empati?

    Kehidupan dinamis

    Seperti perputaran bumi mengelilingi matahari, lalu lahir budaya ulang tahun, adalah menandakan bahwa kehidupan ini dinamis, yang berarti segala sesuatu atau kondisi yang terus-menerus berubah, bergerak secara aktif dan mengalami perkembangan berarti.

    Terkait ulang tahun dan kata dinamis ini, pertanyaannya, apakah perjalanan hidup kita hingga bertemu kembali dengan tanggal kelahiran di setiap tahun yang dilewati benar-benar dinamis? Berarti? 

    Jawaban apakah hidup kita dinamis dan berarti, tentunya justru orang lain yang dapat merasakan dan melihat faktanya. Kita tak dapat mengaku-aku atas apa yang telah kita perbuat khususnya dalam kebajikan kepada orang lain. Orang lain yang merasakan betul apakah kita berarti dan bermanfaat dalam kehidupan yang dinamis.

    Semisal, sepanjang hidup saya, ternyata dalam bidang pendidikan, saya baru mampu mengantongi ijazah S1 dan S2. Lalu, dari 53 tahun yang saya lalui, saya aktif bekerja di kantor selama 27 tahun, setelahnya bekerja mandiri di dunia yang saya cintai. Saya menikah sudah 28 tahun dan sudah memiliki dua anak. Saya hobi menulis hingga menjadi kolumnis pun sekitar 28 tahun. Hobi lain berteater misalnya, sudah lebih dari 34 tahun saya jalani. Sementara hobi di olah raga dan mengelola kegiatan sosial di dalamnya sudah lebih dari 31 tahun dan lain-lainnya.

    Dari semua kegiatan atau pekerjaan yang saya jalani, saya hanya tahu bahwa setiap apa yang saya lalui dan lakukan, semua atas dasar cinta, rasa memiliki, niat ikhlas, ada identifikasi, tujuan jelas, sasaran jelas, analisis yang terukur, menimbang baik dan buruknya, dan semua dijalankan dengan skala prioritas, kontinu, konsisten,  penuh tanggungjawab. Sebab, saat saya sudah menginjakkan dan melangkah dua kaki di setiap kegiatan yang saya pilih, maka pantang bagi saya untuk tak membuat kegiatan dan pekerjaan berhasil dan sukses. Meski pada akhirnya ada kegagalan, tapi sudah berusaha di atas kaki sendiri dan tetap bersyukur ada orang lain yang terus membantu.

    Menyadari bahwa hidup tidak bisa sendiri. Menyadari bahwa bila saya berhasil, di dalamnya pasti ada andil bantuan dari orang lain dan doa yang dikabulkan Tuhan.

    Menyadari bahwa apa yang kita peroleh, utamanya rezeki, di dalamnya ada hak-hak orang lain.

    Tetapi, apakah selama saya bernafas sepanjang 53 tahun dengan kegiatan dan pekerjaan yang saya catat tersebut, saya bermanfaat atau berarti bagi diri saya, keluarga, dan orang lain? Jawaban yang pasti dan akurat, yang tahu hanya keluarga dan orang lain yang tahu tentang saya. 

    Begitulah bercermin, sikap dan refleksi saya bila saya melewati tanggal kelahiran saya di setiap tahun dan berdoa agar saya terus dapat berarti bagi keluarga dan orang lain, di tahun yang tanggalnya akan saya lewati lagi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.