Orang-Orang yang Haus - Analisis - www.indonesiana.id
x

gambar icon buku

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 7 Mei 2021 13:12 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Orang-Orang yang Haus


    Dibaca : 523 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Hal menarik dari kehidupan ini, salah satunya berbuat sebaik-baiknya. Apalagi dengan berbuat baik mampu memberi inspirasi. Berjalan waktu, entah mungkin karena semakin mudah diaksesnya informasi dengan memanfaatkan teknologi, inspirasi perbuatan baik itu semakin menjadi-jadi, gampang untuk ditelusuri. Misalnya tentang gerakan berbagi. Berbagi dengan banyak cara, dan dilakukan oleh banyak komunitas. Tentu sesuai dengan kesenangan dan cita-cita komunitas. Apa saja yang bisa dibagi, ya dibagi. Sepanjang memberi kebermanfaatan. Ada yang membagi ilmu secara gratis misalnya praktik menulis, membagi sembako, membagi buku, masker, dan lain sebagainya.

    Komunitas-komunitas ini tentu saja memudahkan jinjingan bagi yang mendapatkan manfaat, serta menguatkan silaturrahim. Alhamdulillah. TBM Azka yang saya kelola bergiat dalam penguatan literasi di Kabupaten Asahan pun turut terinspirasi dari pegiat-pegiat berbagi itu. Turut pula ikut serta berbagi buku, bahkan lebih sering pulak dibagi-in buku oleh kawan-kawan. Tersentuh janggut ini, ehg, hati ini.

    Meski dalam konteks kebutuhan buku, TBM Azka Gemilang selalu melihat buku seperti air di padang tandus, menghilangkan dahaga yang berkepanjangan. Maka, selalu saja berharap bantuan, infak buku yang tak henti, dari siapa saja, dalam rangka memastikan dahaga itu tercukupkan. Nyatanya? Sangaat tercukupkan. Infak buku dari tetangga, komunitas , kemdikbud, KPK, pegiat TBM, pribadi, sahabat-sahabat, ormas, tersalurkan ke TBM Azka. Apakah lantas saya merasa kekenyangan dengan buku itu? Tentu saja tidak. Dahaga semakin menjadi-jadi. Kayaknya semakin banyak buku yang didapat, seperti meminum air garam, semakin haus, malah pengen lagi, dan lagi. Itulah. Serakah? Entahlah.

    Tentu, meski berdahaga lagi setelah mendapatkannya, saya juga berharap buku tersebut harus dibagi kepada siapa saja. Agar ketularan hausnya. Seperti minum air laut. Selama ini, buku infak dari para sahabat yang sampai di TBM Azka, tentu saja bermanfaat sangaat dan berguna banyak. Hanya saja, agar kebaikan-kebaikan para penginfak itu terus berkembang biak dengan cepat, jalan salah salah duanya selain dibaca di TBM, ya harus dibagi-bagi. Terhitung, TBM Azka sudah beberapa kali menginisiasi berdirinya TBM baru, juga membagi buku yang ada di TBM Azka untuk TBM lain, atau pojok baca.

    Siapa saja yang dapat dibantu oleh TBM Azka untuk mendirikan TBM atau pojok baca? Sebagaimana siapa saja yang menginfakkan bukunya ke TBM Azka, maka sudah barang tentu pertanyan ini jawabannya adalah: SIAPA SAJA. Kok sok paten? Entahlah, yang penting, gerak literasi dapat menjadi air laut yang menghauskan. Siapa saja harus haus.

    Tanggal 22 Maret 2021 di TBM Azka, ternyata ada pula yang turut haus buku. Para Ibu hebat dari Dharma Wanita Persatuan hadir ke TBM Azka. Bersilaturrahim, dan tentu dibarengi dengan diskusi literasi. Meski sudah saya sediakan air kemasan gelas, mereka tak henti juga hausnya. Wajiblah saya menambal kehausan mereka dengan menitipkan buku dari TBM Azka untuk menjadi pojok baca di salah satu instansi yang selalu dikujungi oleh banyak orang. Rumah sakit Umum H. Abdul Manan Simatupang Kisaran namanya. Ini program yang menyenangkan. Maka, kawan-kawan, berbahagialah, buku yang sahabat infakkan ke saya, melalui TBM Azka, ia akan semakin bermanfaat guna di sana. Terimakasih pula untuk para ibu Dharma Wanita yang peduli geliat literasi di Asahan ini. MasyaAllah.

    Pekan berikutnya, dari Gereja Pentakosta Bukit Sion di Sentang, haus juga buku. Mereka hadir ke TBM Azka Gemilang, agar dahaga dapat terhentikan. Mengalirlah buku dari TBM Azka ke GPDI Bukit Sion Sentang.

    Teringat dengan bacaan saya, ketika ditanya oleh wartawan tentang besaran kecepatan cahaya yang ditemukan, Albert Einstein langsung menjawab dengan mengatakan: “Cari saja di buku saya, otak saya tidak digunakan untuk menghafal, tetapi digunakan untuk berpikir!”. Maka, jadilah haus. Pada buku. Cari lagi dan lagi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.