Pertemuan yang Membuat Percaya Diri - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 12 Januari 2022 19:42 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Pertemuan yang Membuat Percaya Diri


    Dibaca : 492 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perkenalan yang lama belum tentu mengekalkan setiap perjuangan. Boleh jadi belum menjadi bekal kita tak pernah saling nakal. Bisa saja ia sarat akan kecemburuan dan intrik yang terpintal hingga kita saling pental. Lantas, berapa lama kita saling mengenal? Adapula baru saja kenal tapi sudah kental dan empuk seperti bantal. Kita memupuk nyaman pada diri sendiri. Hingga menjadi kebaikan tak ada habisnya yang menerbitkan percaya diri.

    Percaya pada diri menulis itu tak sesulit yang dibayangkan. Sebab mengerjakannya secara bersama kemudian dikumpulkan. Meski jungkir balik tak karuan. Tapi tetap saja harus dituliskan. Inilah momen yang menyenangkan. Esok-esok, tak pernah terbayang, eh, tahu-tahu sudah jadi saja tu buku yang haru biru. Kisah aku dan kamu. Satu. Cieee.

    “Bang, udah kebelet ini bang. Makin di penghujung hari makin kacau pikiran.”

    Hajar terus Sis. Semongko. Daku pun sudah pusing berkunang-kuang tujuh keliling. Sampai-sampai semalam 23.59 WIB pas baru dapat kirim tulisan. Kalo menurutkan ‘si akunya alasan’, duhaiii, can lah tak tekirim juga itu tulisan. 1.000 kata yang diharapkan, muncullah 1.000.000 alasan untuk tak menulis. Berat memang bro, beraaat.

    Percaya pada diri semua dapat diramu menjadi tulisan. Apa saja diramu, hingga kayak jamu. Seru-seru tapi tetap ga sepet malah bikin lengket. Apalagi kalo dikasih beras kencur. Hmmm. Apaan sih? Haha.

    “Alamak, kok cerita jamu pulak abang? Masih cerita percaya diri tapi bang?

    O ia, percaya diri yang menerbitkan keyakinan. Yakin seyakin-yakinnya dengan keyakinan pantang mundur meski kenak remedial. Sebagaimana kita meyakini komunitas yang kita buat ini memberikan kenyamanan dan kebahagian, merubah positif menjadi sangat positif, pun begitulah keyakinan para sahabat pada orang-orang yang penuh dedikasi tak hingga dalam komunitas-komunitas nirlaba ini. Berbagi apa saja, bukan karena angkuh, sombong, dan membuat iri hati. Karena ia harus ditulis, hingga terbitlah hikmah tak henti. Sejak tulisan itu berlari sana-sini, kita tangkap layaknya kupu-kupu aneka warna. Hilang gundah gulana. Bermanfaat bersama decak keterpanaan.

    Bukankah dikau yang menuliskannya? Aku sambil berurai air mata membacanya. Terimakasih ilmunya, terimakasih kisahnya, terimakasih motivasinya, terimakasih sudah menjadi bagian dan tetap pada bagian yang boleh dibagi-bagi dengan bagian yang menyenangkan. Kan bingung? haha

    Benar-benar pertemuan yang penuh dedikasi.

    Lha, jadi aku mau nulis apa ya? Sudahlah. Maree Nuliiss.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.