Asahan Harus Menjadi Kabupaten Literasi - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 26 Mei 2021 06:54 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Asahan Harus Menjadi Kabupaten Literasi


    Dibaca : 661 kali

    Beberapa pakar menolak mengartikan literasi hanya dengan tingkat melek huruf yang tinggi. Masyarakat terliterasi adalah masyarakat yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi berbasis teks secara bebas dan memberikan kesempatan untuk belajar sepanjang hayat. Dalam konteks kekinian, literasi memiliki definisi dan makna yang sangat luas yang tidak sekadar kemampuan baca, tulis, dan berhitung. Literasi dapat berarti melek ilmu pengetahuan dan teknologi, keuangan, budaya dan kewarganegaraan, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Maka, secara sederhana, literasi yang dibutuhkan saat ini adalah literasi yang dapat dijadikan bekal untuk menjalani kehidupan yang berkualitas.

    Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada 20 Mei 2017 telah mendeklarasikan diri menjadi Provinsi Literasi keempat setelah DKI Jakarta, Riau, dan Nusa Tenggara Barat. Untuk mendukung hal tersebut, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia umumnya, dan Sumatera Utara Khususnya, Kabupaten Asahan harus ikut andil dan mendeklarasikan diri menjadi Kabupaten Literasi.

    Pertanyaannya, mampukah Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Literasi? Pertanyaan ini sesungguhnya tak hanya muncul dari guru, sebagaimana yang disebutkan oleh bu Aida, kepala SMP Negeri 1 Aek Kuasan.  Pegiat literasi yang tergabung dalam Forum Masyarakat Literasi Kabupaten Asahan juga telah lama menggaungkan gerakan ini. Baik secara individu, hingga kelompok atau organisasi. Forum Masyarakat Literasi Kabupaten Asahan yang disahkan sejak 2017, sudah beberapa kali bertatap muka dengan instansi Dinas Perpustakaan Kabupaten Asahan, sebagai ujud dukungan untuk mewujudkan Kabupaten Literasi. Bahkan pernah dijadwalkan akan langsung bertemu Bupati. Sayangnya, diskusi ini terhenti. Jalan ditempat.

    Namun demikian, untuk mendukung dan mengembangkan Kabupaten Literasi di Asahan, gerakan yang dilakukan harus komprehensif. Gerakan harus melibatkan semua level partisipasi, mulai dari level pengambil kebijakan, hingga akar rumput sebagai subjek literasi seperti sekolah dan masyarakat.  Agus Marwan (2020) menuliskan beberapa tips dalam bukunya yang berjudul Membangun Literasi Bangsa,  merunut pada Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang telah mewujudkan kabupaten literasi. Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagaimana berikut: (1) Adanya Peraturan Daerah terkait gerakan literasi, (2) Ada surat keputusan Bupati ditindak lanjuti kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Perpustakaan, dan (3) Kebijakan pengalokasian anggaran melalui APBD.

    Selain itu, penerapan program literasi yang dipaparkan dalam buku Agus Marwan juga meliputi: (1) Sosialiasi dan Publikasi kegiatan literasi kepada stakeholder di tingkat Kabupaten. (2) Penguatan pelaku dan pegiat literasi, (3) Penyediaan buku bacaan, (4) Penguatan kelembagaan literasi, (5) Pelibatan Publik, (6) Bupati sebagai model literasi. 

    Berdasarkan pengalaman Sergai yang melakukan gerakan literasi komprehensif ini, dapat menjadi cerminan apa yang harus kita lakukan, apa yang telah menjadi kekuatan kita, dan juga apa yang masih menjadi lemah dan kurang kita. Hingga cita-cita yang digaungkan dapat bersinergi dan nyata.

    Boleh jadi cita-cita Kabupaten Asahan menjadi Kabupaten Literasi dapat menjadi nyata. Hal ini tak berlebihan bila merujuk para pegiat literasi yang merintis gerak literasi dengan dana pribadi di Asahan. Berjuang tanpa sokongan pemerintah. Sudah banyak yang muncul ke permukaan. TBM Azka Gemilang di Siumbut-umbut pernah meraih anugerah pegiat literasi Sumatera Utara tahun 2018. TBM Ridha dan TBM Nurul Iman, masing-masing pernah menjadi pustkawan terbaik tingkat provinsi Sumut. Rumah Caper, pendirinya bernama Budi Santoso pernah menjadi Menteri Sehari. Selain itu, giat terbit buku dengan adanya penerbit di ibu kota Kabupaten Asahan, Kisaran yang mampu menerbitkan buku ber-ISBN, termasuk pendukung pintu literasi.

    Bahkan berdirinya forum-forum literasi baik digagas pribadi atau instansi di Kabupaten Asahan menjadi salah satu indikator gerak literasi di Asahan juga semakin giat. Di kalangan mahasiswa ada Forum Aksi dan Literasi (Fosil), pegiat baca tulis dengan Forum Taman Baca (FTBM) Kabupaten Asahan, Gerak literasi tanpa nama literasi misalnya Kami Silau Laut berupa komunitas yang membangun desa bersama pemerintah desa setempat. Komunitas Guru Literat (GuLi) yang didirikan oleh Siti Zukhroh bahkan dengan tekun mengibarkan penulis-penulis guru yang menjadi pondasi peletakan gerakan literasi. Tentu saja menjadi potensi nyata dan utama pula. Potensi-potensi ini, hendaknya menjadi pemicu pemerintah Kabupaten Asahan sehingga dapat menggandeng mereka menjadi mitra dalam mengembangkan dan menjadikan Asahan kabupaten literasi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.