Sambut Idul Fitri 1442 Hijriah dengan Cara Berpikir yang Induktif dan Komprehensif - - www.indonesiana.id
x

Idul Fitri 1442 H

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 12 Mei 2021 20:41 WIB

  • Berita Utama
  • Sambut Idul Fitri 1442 Hijriah dengan Cara Berpikir yang Induktif dan Komprehensif

    Lebaran, Idul Fitri 1442 Hijriah, tinggal hitungan jam, semoga saya dapat menutup bulan Ramadhan yang penuh hikmah, berkah, dan ampunan ini dengan segala ibadah, tindakan, perbuatan, kebijakan, dan lainnya dengan pemikiran induktif dan komprehensif, sehingga dapat bermaslahat. Mendatangkan manfaat (keuntungan) dan menghindarkan mudarat (bahaya/ kerusakan). Aamiin.

    Dibaca : 203 kali

    Saya pernah menulis artikel puluhan tahun yang lalu, isinya bangsa kita adalah bangsa deduktif (deduksi) atau parsial. Pasalnya, dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, dalam setiap langkah mengambil tindakan dan kebijakan baik yang diakukan oleh parlemen, pemerintah, stakeholder terkait hingga masyarakat, cenderung dengan tradisi berpikir deduktif-parsial, bukan induktif (induksi)-komprehensif.

    Sehingga, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang masyarakatnya tak kreatif dan tak inovatif. Terus menjadi bangsa pemakai produk asing dan malah bangga dengan produk asing. Jarang melahirkan dan tak menciptakan teknologi yang diakui dunia, pendidikan pun terus terpuruk. Kecerdasan intelegensi dan personaliti (emosi) juga terus jadi masalah mulai dari rakyat jelata hingga pemimpin bangsa.

    Contoh kasus terbaru

    Contoh kasus terbaru, Presiden Jokowi saja sampai promosi kuliner agar masyarakat bangga dengan masakan karya anak bangsa sendiri di tengah pandemi Covid-19.

    Tetapi karena, tak berpikir induktif, maka promosi yang dilakukan oleh Presiden justru menuai masalah, bikin polemik, dan membangkitkan kisruh.

    Bila sebelum promosi dilakukan, Presiden dan stafnya telah melakukan pendekatan induktif, analisis secara khusus dan mendalam, serta melihat isi promosi dari berbagai sudut, suasananya sedang Ramadhan dan lain-lain, dipikirkan secara induktif dan matang, maka mustahil akan terjadi polemik masalah promosi materi kuliner yang tak tepat waktu.

    Jujur, bila dipikir secara induktif, maka mustahil Presiden akan melakukan kesalahan fatal yang tak perlu karena sangat jelas risiko dan akibatnya dan akhirnya terbukti, masyarakat pun marah.

    Jujur, mustahil kejadian promosi ini disengaja karena demi masyarakat mencintai produk dalam negeri dengan mengabaikan perasaan dan hati nurani umat muslim, jadi kasus promosi kuliner oleh Presiden, mungkin akibat dari cara penalaran deduktif.

    Berikutnya, kasus larangan mudik. Saya juga berpikir, kebijakan larangan mudik dilakukan dengan cara penalaran induktif, sebab selain yang ada di kepala hanya menghindari lonjakan kasus corona, di sisi lain ada instrumen pemerintah yang melegalkan WNA lolos masuk Indonesia.

    Sehingga, kebijakan larangan mudik pun tak diambil dengan pemikiran induktif dan komprehensif, karena masih ada cela-cela yang tak dipikirkan sebelumnya dan malah mengabaikan kebijakan yang melarang rakyat pribumi tapi WNA dikasih hati. Ini bisa juga disebut sebagai kasus dari kebijakan yang diambil secara pemikiran deduktif, bukan induktif.

    Kasus lain yang sangat hangat adalah masalah pelemahan KPK. Kolaborasi antara parlemen dan pemerintah serta stakeholder terkait juga sangat terbaca arahnya. Sangat bisa ditebak maksud dan tujuannya apa. Jadi, melemahkan KPK juga tak dilakukan dengan penalaran induktif.

    Dari tiga kasus itu, larangan mudik, promosi kuliner, dan pelemahan KPK, akibatnya sangat fatal. Masyarakat jadi tahu bahwa semua hal yang dilakukan oleh pemerintah maupun parlemen, ternyata tak dipikir, tak diolah, tak dianalisis dengan matang. Pasalnya, dalam pelaksanaannya, sangat menganga kelemahan-kelemahan yang dapat dibaca publik.

    Berpikir induktif dan komprehensif

    Andai saja dibangku-bangku sekolah hingga bangku kuliah, para guru dan dosen tertradisi mendidik dan mengajar secara seimbang, lalu menempelkan cara berpikir, cara bernalar peserta didik dan mahasiswanya untuk terbudaya melakukan segala sesuatu, berbuat sesuatu, melangkah sesuatu dll, dengan penalaran induktif dan komprehensif, maka sebagian masyarakat Indonesia yang telah menikmati bangku sekolah dan kuliah tidak terus terjerembab dalam pola berpikir deduktif dan parsial.

    Perlu saya garis bawahi, berpikir deduktif dan parsial, bukan salah dan bukan hal yang harus dihindari, tetapi untuk membuat masyarakat, bangsa dan negara maju berkembang, sangat dibutuhkan semua tindakan dengan penalaran induktif dan komprehensif.

    Untuk mengembangkan pedagogi (kognitif, afektif, dan psikomotor) seseorang, kemampuan berpikir induktif dan komprehensif di masa kini, salah satunya dapat dilakukan dengan berlatih berpikir out-of-the-box. Harus banyak membaca, menonton, banyak diskusi, dan banyak melakukan berbagai hal demi memperkuat kemampuan berpikir induktif. Maka, mampu berpikir komprehensif.

    Coba kita tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apa itu deduktif, induktif, komprehensif, dan parsial.

    Deduktif (deduksi) adalah penarikan kesimpulan dari keadaan yang umum, penyimpulan dari yang umum ke yang khusus. Berikutnya, induktif (induksi) adalah metode pemikiran yang bertolak dari kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus untuk menentukan hukum (kaidah) yang umum, penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum, penentuan kaidah umum berdasarkan kaidah khusus.

    Sementara makna komprehensif adalah bersifat mampu menangkap (menerima) dengan baik, luas dan lengkap (tentang ruang lingkup atau isi), mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas. Dan, parsial adalah berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan.

    Karenanya, di zaman ini, diera digital, di era online, revolusi industri 4.0. di era media sosial, dan di tengah peradaban canggih yang terus dicipta oleh masyarakat bangsa lain, bila bangsa Indonesia masih berkutat pada penalaran deduktif dan parsial, kapan bangsa dan negara ini akan bangkit dari berbagai ketertinggalan dan keterpurukan.

    Bagaimana akan lahir produk-produk inovatif dari tangan masyarakat bangsa ini, bila para pemimpin bangsa justru terus sibuk meneladani dengan ambisi,  kepentingan dan kepentingan?

    Kapan produk-produk, kebijakan-kebijakan, dan lainnya yang dirancang dari pengembangan berpikir induktif dan komprehensif?

    Bila produk-produk dan kebijakan-kebijakan lahir dari rancangan yang diusung dari langkah kerja penalaran induktif dan komprehensif, lalu dilaksanakan secara tegas dan konsisten, maka mustahil masyarakat dan berbagai pihak akan kecewa kepada pemerintah dan parlemen.

    Sebab segala produk dan kebijakan ditunggangi oleh kepentingan dan kepentingan, maka karena hati nurani serta suara hati mereka tak mendengarkan suara hati, maka pemenangnya adalah ambisi dan ambisi dan memenuhi kontrak dengan pihak yang berkepentingan dan memodali.

    Sampai kapan pola ini akan terus terjadi? Sampai kapan masyarakat akan terus tanpa sadar diajari dan diteladani konsep dan cara berpikir serampangan?

    Semisal, yang sangat kental di masyarakat kita, dalam kondisi terpuruk, terus didera ketidakadilan, ketidaksejahteraan, dan kemiskinan harta maupun hati, maka budaya gali lubang tutup lubang pun sampai menjadi lagu.

    Budaya gali lubang tutup lubang adalah fakta yang kini terus ada ditengah masyarakat kita, mereka tak sadar pemikirannya deduktif dan parsial. Ambil hutang dulu, cara bayarnya dipikir belakangan, padahal tahu di belakangnya juga tak akan mampu menutup hutang. Hal ini terus dilakukan berulang.

    Contoh lain, tawuran pelajar misalnya. Termakan gengsi dan harga diri karena diprovikasi senior atau kakak kelas atau lawan, maka langsung hantam kromo ikut  tawuran dan ambil bagian di barisan terdepan demi gengsi dan harga diri. Masalah yawa dan lainnya urusan belakangan.

    Itulah bahayanya bila pemimpin bangsa ini, guru di sekolah, dan dosen di perguruan tinggi, tak menularkan dan menancapkan penalaran induktif dan komprehensif kepada siswa dan mahasiswa. Bagaimana dengan masyarakat yang tak pernah berkesempatan menikmati duduk di bangku sekolah dan kuliah?

    Lihat bagaimana rakyat tetap memaksa mudik.  Lemah empati, simpati, peduli, dan tahu diri?  Jelas, berpikirnya deduktif, parsial. Siapa yang selama ini meneladani dan mendidik?

    Lebaran, Idul Fitri 1442 Hijriah, tinggal hitungan jam, semoga saya dapat menutup bulan Ramadhan yang penuh hikmah, berkah, dan ampunan ini dengan segala ibadah, tindakan, perbuatan, kebijakan, dan lainnya dengan pemikiran induktif dan komprehensif, sehingga dapat bermaslahat. Mendatangkan manfaat (keuntungan) dan menghindarkan mudarat (bahaya/ kerusakan). Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.