Burhan Uray - Berbakti Untuk Indonesia - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku Burhan Uray - Berbakti Untuk Indonesia

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 7 Juni 2021 05:49 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Burhan Uray - Berbakti Untuk Indonesia

    Kisah-kisah kehidupan Burhan Uray Sang Raja Kayu yang tak muncul di pemberitaan media masa.

    Dibaca : 909 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Burhan Uray – Berbakti Untuk Indonesia

    Penulis: Betty Pai

    Tahun Terbit: 2012

    Penerbit: Universitas Al Azhar Indonesia

    Tebal: xvii + 260

    ISBN: 978-602-95064-3-3

     

    Mempelajari kisah hidup seorang yang sukses sangat mengasyikkan. Apalagi kalau kisah-kisah tersebut tidak atau belum terpublikasi sebelumnya. Kisah-kisah detail sang tokoh sering membuat kita memahami kenapa sang tokoh tersebut bisa berhasil dalam hidupnya.

    Buku Burhan Uray – Berbakti Untuk Indonesia karya Betty Pai ini memuat hal-hal yang mungkin dianggap remeh dalam pemberitaan Sang Raja Kayu – Burhan Uray. Sebab yang ditulis oleh Betty Pai adalah hal-hal kecil saja. Namun hal kecil tersebut sungguh sangat berkesan bagi saya. Apalagi Betty Pai menulisnya dengan detail berdasarkan penuturan dari Burhan secara langsung kepadanya. Pengalaman-pengalaman hidup Burhan pada waktu kecil, pada waktu membangun usaha dan setelah sukses menjadi pengusaha kayu yang sangat jarang kita temukan di pemberitaan tentangnya.

    Burhan Uray adalah salah satu pengusaha sukses Indonesia. Burhanlah yang memulai usaha perkayuan dengan skala internasional di Indonesia. Ia memulai usahanya ketika usianya masih sangat muda. Berkat ketekunannya dalam mengelola usaha perkayuan, Burhan menjadi salah satu orang yang sukses berniaga kayu di Indonesia dan internasional. Karena kesuksesannya itulah ia bisa bersahabat dengan banyak pemimpin di Indonesia dan di luar negeri. Ia menjadi kawan dari Deng Pufang, putra dari Deng Xiaoping.

    Burhan Uray alias Bong Sun On  lahir pada tanggal 13 November 1931. Pada usia 6 tahun ia sudah harus meninggalkan negerinya menuju Negeri Selatan. Karena kemiskinan yang parah, ayahnya sudah lebih dulu merantau ke Singapura. Ia bersama ibu dan kakaknya menyusul ke Negeri Selatan. Ia melakukan perjalanan selama 21 hari dari rumah menuju ke pelabuhan dalam kondisi lapar karena ibinya tak memiliki cukup bekal. Saat perjalanan kapal pun Burhan mengalami situasi yang kurang baik. Kapalnya harus mengalihkan perjalanan ke Hongkong karena badai.

    Sesampainya di Singapura dan bertemu ayahnya, perjalanan Burhan kecil belumlah selesai. Sebab keluarga miskin ini kemudian harus menuju ke Borneo bagian utara untuk mendapatkan pekerjaan. Ayahnya bekerja di kebun karet. Itulah sebabnya Burhan kecil juga sudah harus membantu kerja di kebun karet, di sela-sela sekolahnya. Pengalaman bekerja di kebu karet ini membuat Burhan mempunyai tekat yang kuat untuk berhasil. Ia mencoba berbagai usaha seperti mengelola penggilingan padi, mengelola kapal barang dan akhirnya memilih untuk berusaha kayu ramin.

    Usaha kayu dimulai saat ia berada di Kalimantan Barat. Dengan ketekunan yang luar biasa, Burhan berhasil menjadi pengusaha kayu yang sukses. Ia dipercaya oleh berbagai pihak untuk mengusahakan hutan. Burhan menjadi kitar BUMN untuk mengekspor kay uke Jepang (hal 86). Ia pernah diminta oleh Soedharmono – yang saat itu menjabat sebagai Pangdam di Kalimantan Barat, untuk mempekerjakan 700 narapidana (hal. 87). Ia juga diminta oleh Soeharto untuk mengembangkan wilayah timur Indonesia (hal 193). Burhanlah pengusaha kayu pertama di Indonesia yang membangun parbik kayu lapis (122). Melalui PT Djajanti ia membangun Pabrik Kayu Lapis di Gresik. Setelah berhasil di bidang kayu, Burhan mengembangkan berbagai bisnis, diantaranya perikanan.

    Buku karya Betty Pai ini menjelaskan masa kecil Burhan, kapan dan bagaimana Burhan memulai usaha, bagaimana Burhan menghargai persahabatan, dan harapan Burhan akan solidaritas sosial. Masa kecil Burhan diwarnai oleh kemiskinan yang parah. Namun Burhan tidak meratapi kemiskinannya. Ia berusaha keras untuk keluar dari kemiskinan dengan bekerja apa saja.

    Betty Pai mengisahkan bagaimana kerasnya bekerja di hutan. Tantangan alam dan psikologi yang dihadapi oleh Burhan didokumentasikannya di buku ini. Tantangan alam diantaranya Burhan dan pekerjanya tanpa sadar duduk di atas ular sebesar batang kepala yang dikiranya kayu rebah. Anak buahnya mati karena memakan jamur beracun. Sedangkan tantangan psikologis diantaranya pertengkaran antar pekerja dan intimidasi dari para narapidana yang menjadi pekerja kayu di perusahaannya dan pernah ditangkap oleh tentara karena dianggap sebagai tentara asing yang menyusup (hal. 81). Burhan juga pernah mengalami kecelakaan helikopter. Heli yang ditumpanginya jatuh dari ketinggan 4000 meter (hal 104).

    Burhan sangat menghargai solidaritas. Solidaritas ini justru tumbuh dari masa kecilnya yang miskin. Suatu hari Ibu Gurunya memberikan roti kepadanya. Ibu Guru tahu bahwa Burhan kelaparan (hal. 22). Pengalaman inilah yang membuatnya sangat menghargai perbuatan baik dari orang lain kepadanya. Pengalaman tersebut juga membuatnya senantiasa berusaha menolong siapa saja yang membutuhkan.

    Pengalamannya bekerja di hutan dan masa kecilnya yang diliputi kemiskinan membuat Burhan peduli kepada kehidupan orang miskin dan lingkungan. Ia mendirikan sekolah dan membantu pendidikan masyarakat (hal 199). Ia membangun Balai Latihan Kerja. Menyewakan sarana tangkap ikan berupa kapal-kapal modern dan mendukung upaya Pemerintah untuk menanami kembali hutan yang gundul (hal 233).

    Bong Sun On alias Burhan Uray adalah teladan dalam hal bekerja keras dan solidaritas kepada sesama. Sikapnya yang tidak meratapi nasip sebagai orang miskin, tetapi berusaha keras untuk menjadi sukses patut diikuti oleh semua pihak.

    Buku ini menjadi lebih menarik karena Betty Pai bertutur dengan kalimat-kalimat yang ringkas tetapi menyentuh. Kekuatan tulisan Betty Pai adalah pada originalistas kisah-kisah yang dituangkan. Betty Pai mendengar sendiri kisah-kisah itu dari Sang Suami – Burhan Uray. 597



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.