Cerpen | Kicauan Burung Hantu - Analisa - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

2 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cerpen | Kicauan Burung Hantu

    Ribuan penghinaan yang keluar dari mulut pasangan dari hasil perjodohan, telah menciptakan sebuah kebencian yang teramat dalam. Bahkan kebencian tersebut telah membutakan hati dan pikiran, sehingga melahirkan sebuah upaya untuk membalas perbuatannya dengan cara yang kejam.

    Dibaca : 163 kali

    Ribuan kata hinaan yang keluar dari mulut istriku, telah memenuhi isi pikiran dan hatiku. Aku sangat membencinya. Meskipun dia memiliki rupa yang cantik bagaikan bidadari, tapi dia memiliki hati yang busuk bagaikan setan. Setiap harinya, dia selalu menghinaku atas segala kesalahan kecil yang telah aku lakukan, atau suatu alasan yang tidak pernah aku pahami. Dia menghinaku, seperti tidak mengenal rasa hormat kepada seorang suami. Seakan-akan dia tidak bisa bernafas tanpa menghinaku.

    Istriku juga sangat pandai bersandiwara. Ketika di depan orang lain, dia mampu berkamuflase menjadi sesosok yang ramah dan lemah lembut. Tetapi jika sedang sendirian bersamaku, dia akan berubah menjadi iblis jahanam. Tidak jarang dia bersandiwara di depan kedua orang tuaku dan orang tuanya. Dia bercerita sambil menangis seperti orang yang teraniaya, sekaligus melempar fitnah kepada diriku; bahwa aku sering melakukan kekerasan fisik kepadanya, serta telah berselingkuh dengan perempuan lain. Dengan bodohnya, mereka semua mempercayai kebohongan itu. Walhasil, mereka langsung memarahi dan mencaci maki diriku. Lebih-lebih mereka tidak mau mendengar penjelasan dariku; karena mereka telah terpengaruh dengan cerita palsu istriku, yang telah dibumbui dengan air mata saktinya itu.

    Sebetulnya aku sudah mengetahui bahwa dia bukanlah perempuan yang baik. Meskipun dia berasal dari keluarga yang terpandang; tapi karakternya tidak mencerminkan hal tersebut. Kedua orang tuanya selalu membelanya, meskipun telah mengetahui bahwa perbuatan dari putrinya itu salah. Alhasil, sikap istriku menjadi sangat manja, merasa paling benar, bertingkah selayaknya tuan putri, dan suka memandang rendah orang lain.

    Namun nahasnya, karena tradisi kolot dari kedua orang tuaku yang masih melestarikan budaya perjodohan; dengan terpaksa aku harus menerimanya sebagai pasangan hidupku. Kedua orang tuaku sangat yakin bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik untukku. Tetapi itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Mereka hanya mengenal istriku secara fisik, harta, status sosial, dan karakter dari luar. Tetapi mereka tidak pernah mengetahui karakter yang sesungguhnya. Semua sikap baik yang dia pertontonkan di depan kedua orang tuaku adalah sandiwara yang memuakkan, sekaligus topeng malaikat untuk menutupi sikap aslinya yang buruk.

    Alhasil, aku harus menjalani hari-hariku bagaikan di dalam neraka yang paling dalam dan terkutuk. Setiap harinya, dia selalu menghinaku dengan kata-kata yang menyakitkan. Tidak pernah sekali-pun ada kata-kata baik yang keluar dari mulutnya. Dia juga tidak pernah menghargai semua niat baik dan kasih sayang yang telah aku berikan kepadanya. Walhasil, semua usahaku untuk bersabar dan mencintainya telah sirna, dan melahirkan sebuah kebencian yang paling dalam di hidupku.

    Rasa kebencianku sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku sungguh tidak bisa memaafkannya. Aku bersumpah demi Tuhan; bahwa suatu saat nanti aku akan membalas semua perbuatannya yang keji dan penuh dengan tipu daya itu. Aku sangat membencinya; sampai-sampai aku sudah tidak memikirkan risikonya lagi. Bahkan, aku juga tidak takut dengan karma. Seakan-akan aku merasa karma itu tidak pernah ada, atau tidak pernah berpihak kepadaku. Apakah mungkin, karma menginginkanku untuk melakukan pekerjannya terhadap istriku?

    Selama dia menghinaku, aku berusaha untuk berdiam diri dan tersenyum kepadanya. Mungkin bagi istriku; aku adalah suami yang lemah dan tidak mampu melawan. Tetapi dia salah! Dia sangat salah, jika berpikir demikian! Dia tidak pernah tahu, bahwa setiap kali aku berdiam diri dan tersenyum kepadanya; tentu aku sedang memikirkan cara untuk membalas semua perbuatannya di kemudian hari, sekaligus membayangkan diriku yang sedang membunuhnya dengan berbagai cara.

    Istriku yang keji itu memelihara seekor burung hantu - berjenis Tytonidae - yang dia beri nama Hela. Dia sangat mencintai Hela; sampai-sampai melebihi cintanya kepadaku. Istriku menaruh perhatian lebih kepada Hela. Bahkan dia sampai mengambil jatah makananku, hanya untuk diberikan kepadanya. Dia tidak rela Hela kelaparan, tapi dia rela bila aku mati kelaparan. Sungguh sebuah penghinaan yang biadab!

    Aku juga benci dengan Hela. Dia memiliki rupa yang sangat mirip dengan hantu berkulit pucat, yang bergentayangan di dalam kegelapan malam, sehingga membuatku merasa resah setiap kali melihatnya. Selain itu, dia sering menatapku dengan tatapan tidak bersahabat, seperti menatap seorang musuh yang harus disingkirkan. Terlebih lagi, aku juga dapat melihat dengan jelas raut wajah istriku yang keji, yang terukir jelas di paras Hela. Ditambah dengan tatapannya yang dingin dan arogan - seperti tatapan istriku - telah menanamkan kebencian di dalam benakku. Tampaknya, Hela tidak jauh berbeda dengan tuannya. Mereka sama-sama keji, arogan, dan biadab.

     

    ****

     

    Hingga pada satu malam, istriku kembali memarahiku dengan kata-kata kotor, hanya karena aku tidak mendapatkan makanan yang dia inginkan. Aku memang tidak mendapatkannya, karena makanan yang dia inginkan telah habis terjual dan belum datang lagi di tempat penjualan. Walakin, dia tidak peduli dan terus mencaci maki diriku. Sejuta kalimat hinaan telah meluncur keluar dari mulutnya yang busuk itu. Dia memandangku sebagai suami yang buruk, tidak dewasa, pemalas, tidak bisa memahami istrinya, makhluk rendah, dan berbagai hinaan lainnya. Tidak sedikit dia ikut menjelek-jelekan kedua orang tuaku, dengan kalimat yang sangat merendahkan.

    Alhasil, aku tidak dapat menahan amarahku lagi. Lantas aku langsung menampar wajah istriku dengan keras, sehingga dia terjatuh ke lantai. Rasa amarah yang sekian lama telah aku pendam; kini telah meledak seperti sebuah letusan gunung berapi. Kali ini aku tidak bisa mengendalikannya, atau - lebih tepatnya - aku memang tidak berniat untuk mengendalikan amarahku. Kemudian aku langsung mencekik leher istriku dengan sekuat tenagaku. Dia sempat melakukan berbagai macam perlawanan; dari mencakar, sampai menendang perutku. Bahkan Hela juga ikut terbang ke arahku, lalu mencakar dan menggigit kepalaku.

    Tetapi aku tidak tinggal diam saat menerima serangan dari Hela. Lantas aku langsung mengambil sebuah sapu, serta menggunakan tongkat kayunya untuk memukul Hela. Walhasil, aku berhasil mengenai mata kanan Hela dan melukainya. Kemudian Hela bergegas terbang keluar - melalui jendela rumah yang terbuka - dan menghilang di balik pepohonan yang gelap. Istriku yang menyaksikan itu; dia menjadi sangat marah dan menyerangku seperti orang kesetanan.

    Tanpa memberinya ruang; aku langsung kembali menampar wajah istriku dengan keras, sehingga dia terjatuh ke lantai. Kemudian, aku langsung menjambak rambutnya, dan membenturkan kepalanya ke lantai secara berkali-kali. Aku melakukannya sembari mengingat semua hinaan dan fitnah yang telah dia berikan kepadaku, sehingga semua kenangan tersebut dapat membakar jiwaku, untuk bisa melampiaskan semua amarahku yang telah lama aku pendam. Sampai pada akhirnya, istriku sudah tidak bergerak lagi dan darah telah mengalir keluar dari kepalanya, sehingga mengotori lantai ruangan.

    Menyadari hal itu; aku menjadi sangat bahagia. Sampai-sampai aku tidak mampu menahan kegiranganku, sehingga aku dapat melepas tawa puas sembari melihat tubuh kaku istriku. Aku telah berhasil menutup mulutnya yang busuk, bersama dengan umurnya. Tidak ada rasa penyesalan, maupun rasa takut di dalam benakku. Hanya ada kebahagiaan yang telah lama aku nantikan. Aku merasa sangat senang, karena aku telah melenyapkan iblis yang paling busuk di kehidupanku! Aku telah bebas dari neraka yang paling dalam dan terkutuk!

    Arkian, aku mulai memutar otak untuk mengurus jasad istriku. Akhirnya, aku berinisiatif untuk menyembunyikan jasad istriku di balik langit ruang tamu. Lantas aku langsung mengambil sebuah linggis, lalu membongkar langit ruang tamu yang terbuat dari papan triplek. Aku hanya melepaskan beberapa papan triplek itu, kemudian aku memasukan jasad istriku ke dalamnya. Sesudah itu, aku mulai kembali memasang papan-papan triplek tersebut, dan menyegelnya dengan lem kayu. Setelah semua telah beres, aku langsung membersihkan semua noda darah yang mengotori lantai rumahku, sembari mengarang sebuah cerita; bahwa istriku telah berselingkuh dan pergi meninggalkanku.

    Kemudian aku juga mulai mengatur waktu yang tepat, untuk mengeluarkan jasad istriku dari langit ruangan, dan membuangnya ke suatu tempat yang jauh dari rumahku. Yang pasti, aku tidak dapat membuang jasad istriku sekarang ini. Karena aku telah menduga, bahwa pertengkaran dengan istriku telah menciptakan suara gaduh, yang tentu akan mengundang para tetangga untuk berdatangan.

     

    ****

     

    Selang beberapa waktu kemudian, semua dugaanku telah terbukti. Para warga berdatangan ke rumahku, dengan didampingi oleh pak RT dan beberapa orang hansip. Mereka semua datang karena telah mendengar suara keributan dari dalam rumahku. Karena khawatir akan suatu yang tidak diinginkan; maka itulah mereka berinisiatif untuk memeriksanya. Lantas aku langsung menyambut mereka dengan ramah, serta mengajaknya masuk ke dalam rumah.

    Setibanya mereka di ruang tamu, aku mulai memainkan sandiwaraku. Aku bercerita; bahwa dalam beberapa waktu terakhir ini, aku sering bertengkar dengan istriku. Dia telah berselingkuh dengan mantan pacarnya dan aku telah mengetahuinya. Walakin, dia lebih mencintai selingkuhannya daripada diriku. Puncaknya adalah malam ini; dimana aku tidak dapat menahan amarahku, sehingga terjadi sebuah pertengkaran yang membuat istriku pergi dari rumah.

    Aku menceritakan semua kebohongan itu, seperti dia memfitnahku di depan kedua orang tuaku dan orang tuanya. Untungnya para tetangga, pak RT, dan para hansip itu mempercayai ceritaku. Alhasil, mereka menaruh rasa simpati kepadaku dan berusaha menghiburku. Padahal mereka tidak sadar, bahwa itu hanyalah cerita fiktif. Mereka juga tidak sadar; bahwa sebetulnya aku telah membunuh istriku, dan menyembunyikan jasadnya di balik langit ruang tamu, tepat di atas tempat mereka sedang duduk. Walhasil, rasa bahagia dan puas telah menyegarkan hatiku.

    Saat mereka sedang berusaha menghiburku; seketika pandanganku berhasil menangkap Hela - melalui sebuah jendela ruang tamu - yang sedang berdiri di sebuah dahan pohon, yang ada di halaman rumahku. Dia menatapku dengan tajam, seperti sedang menyimpan sebuah amarah dan dendam. Ditambah dengan mata kanannya yang terluka dan darah masih mengalir keluar; telah memberi kesan durjana kepadaku. Walakin, aku tidak mempedulikan Hela. Karena bagiku, dia hanyalah seekor burung hantu yang tidak dapat berbuat apa-apa.

    Kemudian, Hela mulai mengeluarkan suara kicauan khasnya. Pada awalnya, suara kicauan Hela terdengar seperti biasa. Tetapi semakin lama, suara kicauannya berubah menjadi suara perempuan yang sedang cekikikan. Sontak aku langsung terkejut dan menatap ke arah Hela dengan ganar. Secara perlahan-lahan, aku mendapati bahwa suara cekikikan itu terdengar mirip dengan suara cekikikan istriku. Seolah-olah istriku sedang merasuki tubuh Hela. Perihal yang ganjil adalah tidak ada satu-pun orang yang mendengar suara cekikikan tersebut, selain aku seorang diri di ruangan ini.

    Arkian, aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri, bahwa paras Hela mulai menjelma menjadi wajah istriku. Kemudian wajah terkutuk itu mulai menyeringai ke arahku, sembari melempar sebuah tatapan yang tajam dan mengutuk. Itu adalah sebuah tatapan yang sangat mengerikan yang pernah aku lihat. Tetapi, itu baru awal dari semua mimpi burukku. Tidak lama kemudian, aku melihat semua orang yang ada di ruangan ini, mulai berubah menjadi sebuah sosok yang ganjil dan menyeramkan; dengan setiap orang yang memiliki rupanya tersendiri.

    Ada yang seperti manusia burung hantu; berkepala burung hantu, memiliki cakar yang panjang, dan bersayap besar. Ada juga yang memiliki rupa seperti burung hantu; tapi memiliki dua kaki dari tangan manusia, serta memiliki wajah manusia. Belum lagi dengan berbagai macam rupa yang abstrak dan mengerikan, sehingga sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mereka semua mulai tertawa lepas dengan suara yang horor.

    Lantas aku langsung menjerit tidak keruan dan berusaha menjauhi mereka. Kemudian, mereka semua mulai menari-nari dengan gaya yang aneh, lalu terbang mengeliling langit ruangan dan terlihat seperti hendak menyerangku. Aku menjadi sangat takut saat melihat itu. Sontak aku langsung meraih sebuah linggis, yang kebetulan kuletakan di bawah lemari hias.

    Kalakian, aku mulai mengayunkan linggis itu secara membabi buta, ke arah makhluk-makhluk mengerikan tersebut. Meskipun aku berhasil mengenai beberapa di antara mereka, tapi itu masih tidak menghilangkan rasa takutku. Mereka semakin agresif dan berterbangan di dekatku, sambil tertawa lepas yang menyeramkan, serta mengganggu pandanganku dengan kepakan sayap mereka. Hingga secara tidak sengaja, aku melempar linggis tersebut ke arah langit ruangan, sehingga membuat beberapa papan triplek runtuh. Walhasil, jasad istriku ikut terjatuh dan tergantung bebas dari lubang - bekas runtuhan papan triplek - di langit ruangan, sembari memperlihatkan wajahnya yang berlumuran darah.

    Saat itu juga, semua makhluk mengerikan itu menghilang dalam sekejap. Aku hanya melihat para warga, pak RT, dan para hansip yang sedang menatapku dengan tatapan bingung dan panik. Terlihat beberapa di antara mereka telah terluka. Kemudian, salah satu dari mereka berusaha memberanikan diri untuk menanyakan alasanku menyerang mereka. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dia maksud. Bahkan, aku juga tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada saat itu. Akan tetapi, itu belum seberapa buruk ketika mereka melihat jasad istriku yang menggantung di langit ruangan.

    Setelah menyadari itu, seketika tubuhku menjadi lemas. Aku tidak dapat mengelak atau berbuat apa-apa. Semua pandangan mereka mulai tertuju kepadaku; sembari melempar tatapan tergemap dan kebencian. Seakan-akan mereka telah menyadari semua kebohongan dari ceritaku, dan mengetahui perbuatan keji yang telah aku sembunyikan.

    Kemudian aku kembali mendengar suara kicauan Hela, dari luar jendela ruang tamu. Dalam sisa pandangan yang berhasil aku tangkap; aku mendapati Hela dengan paras seperti semula - burung hantu - dan masih berdiri di sebuah dahan pohon. Kalakian dia terbang ke langit - meninggalkan aku seorang diri, yang sedang menanti buah dari hasil perbuatanku - dan menghilang di dalam kegelapan malam.

     

    ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.