Monyet-Monyet Penunggu Masjid Saka Tunggal Cikakak - Travel - www.indonesiana.id
x

patung kera masjid saka tunggal

eolia mawars

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 April 2021

Jumat, 11 Juni 2021 06:49 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Monyet-Monyet Penunggu Masjid Saka Tunggal Cikakak

    Masjid Tertua di Indonesia memiliki penunggunya loh.. penunggunya bukan manusia, apalagi makhluk gaib. Yup, penunggunya adalah monyet-monyet. Apa hubungan monyet dengan masjid? Yuk, simak artikel berikut

    Dibaca : 836 kali

     

    Berkunjung ke Masjid Saka Tunggal yang berada di Desa Wisata Cikakak, Wangon, Jawa Tengah, memiliki keunikan tersendiri. Karena selain disambut oleh pengelola desa tersebut, saya juga disambut oleh monyet-monyet penunggu Masjid Saka Tunggal tersebut. Monyet-monyet penunggu masjid ini sudah sangat melegenda karena mitosnya.

    Masjid Saka Tunggal merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1288. Hal tersebut tertera pada tiang utama masjid. Masjid ini dibangun oleh Kyai Mustholih atau biasa dipanggil Mbah Tolih. Masjid ini merupakan situs cagar budaya. Saat saya datang ke sana kebetulan masuk waktu sholat ashar, sehingga saya pun ingin melaksanaan sholat di sana. Namun, pengelola tidak memberi izin saya untuk sholat di sana. Saat saya tanya kenapa, ternyata yang ingin sholat di masjid tersebut harus mengikuti aturan dan ada imam khusus untuk sholat di sana.

    Dinamakan Saka Tunggal karena masjid tersebut hanya memiliki satu tiang penyangga di tengah masjid tersebut. Masjid ini juga memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masjid yang lain, yaitu memiliki empat helai sayap dari kayu di dalam saka yang melambangkan “papat kiblat lima pancer” atau empat mata angin serta satu pusat. Masjid Saka Tunggal memiliki interior dari kayu dan anyaman bambu yang kemudian diberi penambahan dinding bata untuk tujuan pemeliharaan.  Ornamen yang terdapat pada Masjid Saka Tunggal bermakna simbolis nilai-nilai islami yang bersinergi dengan adat istiadat Jawa. Hal tersebut menggambarkan harmonisasi Islam dengan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya.

    Masjid Saka Tunggal memang terkenal akan masjid tertua, dan juga akan banyaknya monyet yang berada di sekitar Masjid Saka Tunggal. Saat tiba di Masjid Saka Tunggal biasanya banyak yang menjajakan pisang dan kacang untuk makanan monyet karena monyetnya memang sangat banyak, bahkan sampai mengerubungi wisatawan yang datang. Saran dari saya, saat ada yang menjajakan makanan biasanya mereka agak memaksa wisatawan untuk membeli, alasannya karena monyet-monyet tersebut akan meminta makanan pada wisatawan yang datang. Sehingga Saya pun terpaksa membeli kacang tersebut, namun ketika Saya melemparkan kacang kepada para monyet, monyet-monyet tersebut tidak mau memakannya, saya tertipu. Alhasil kacang tersebut saya bawa pulang kembali dalam keadaan masih utuh.

    Dari parkiran, saya dapat melihat patung monyet yang berdiri dengan gagah. Untuk menuju ke Masjid Saka Tunggal tidak terlalu jauh, namun para wisatawan yang mengendarai kendaraan sebaiknya memarkirkan motornya agak jauh dari masjid karena kawanan monyet yang menunggu di Masjid Saka Tunggal terhitung sangat banyak, dan menghalangi jalan.

    Monyet-monyet tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat sekitar Masjid Saka Tunggal, walaupun kadang monyet tersebut melakukan banyak tingkah, seperti masuk ke jendela yang tidak terkunci dan mencuri makanan warga, memporakporandakan genteng, menyerbu kebun penduduk, dan lain-lain. Menurut masyarakat, monyet tersebut adalah analogi keserakahan hewan yang tidak terkekang, sebagai manusia seharusnya lebih dapat mengendalikan hawa nafsu dengan akal sehat dan hati nuraninya. Otak dan hati harus seimbang agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.

    Mitos mengatakan bahwa monyet-monyet tersebut merupakan santri yang dikutuk.  Dahulu santri-santri harusnya melaksanakan ibadah sholat Jum’at, namun beberapa santri melanggar, terlalu asyik bermain ikan di sungai sehingga Kyai Mustholih menjadi geram. Seusai sholat Jum’at beliau menghardik santri-santri yang melewati batas tersebut. Saat itu, beliau mengatakan kelakuan para santri tersebut tidak jauh berbeda dengan monyet nakal yang susah diatur.

    Mitos tersebut menjadi sangat terkenal dan menjadi salah satu cerita di Masjid Saka Tunggal. Masyarakat banyak yang mempercayainya dan menjadikannya suatu pelajaran bahwa yang menjadikan pembeda antara monyet dengan manusia adalah perilakunya, apabila manusia tidak mempunyai jiwa kemanusiaan, akal, dan hati, maka manusia tidak ada bedanya dengan monyet.

    “Legendanya monyet-monyet itu santri yang malas. Jadi, untuk pembelajaran anak-anak biar rajin ngaji. Kalau ngga rajin ngaji nanti dikutuk jadi monyet, harus senang ngaji, senang ke masjid,” ucap seorang warga yang tinggal di sekitar Masjid Saka Tunggal.

    Masjid Saka Tunggal biasanya ramai dikunjungi oleh wisatawan. Namun karena pandemi yang terjadi sejak tahun 2020, Masjid Saka Tunggal menjadi sangat sepi dan wisatawan yang datang hanya beberapa orang saja.

    “Pada awal pandemi, kunjungan ke Masjid Saka Tunggal sangat berkurang. Tapi, semakin ke sini semakin banyak yang datang, mungkin karena sudah mulai dilonggarkan pemerintah. Cuma belum normal kayak yang dulu,” ucap salah satu pemandu saya.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.