Luwuk, Pesona Indah Kota Tepi Pantai - Travel - www.indonesiana.id
x

kota luwuk dari ketinggian

usamah faris

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Januari 2020

Kamis, 24 Juni 2021 12:14 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Luwuk, Pesona Indah Kota Tepi Pantai

    Luwuk dikenal dengan sebutan kota air. Secara etimologi Luwuk berasal dari Luwok atau Huk yang artinya teluk. Dulunya wilayah ini merupakan pelabuhan masyarakat Keleke, Asama Jawa dan Soho serta Dongkalan. Pada tahun 1906 Luwuk ditetapkan menjadi pusat pemerintahan ibu kota afdeling Sulawesi bagian timur oleh Hindia Belanda, lalu menjadi pusat wilayah onderafdeling pada tahun 1924.

    Dibaca : 1.339 kali

    Indonesia selain memiliki beragam budaya dan bahasa juga menyimpan ribuan keindahan alam yang mungkin kurang diketahui sebagian masyarakat bahkan oleh penduduk Indonesia sendiri, ironis! Nusantara yang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah justru lebih banyak dimanfaatkan oleh negara-negara asing sehingga seolah-olah Indonesia adalah negara miskin, susah, terbelakang, mungkin salah satu penyebap adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan, merawat dan mengeksplor keindahan serta kekayaan Nusantara. Pada kesempatan ini kita akan sedikit menggali keindahan salah satu kota Indonesia bagian timur yang mungkin masih sedikit diketahui oleh masyarakat Indonesia.

    Sebelum membahas keindahan kota Luwuk alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu sejarah singkat kota yang dikenal dengan sebutan kota air. Secara etimologi Luwuk berasal dari Luwok atau Huk yang artinya teluk, dahulunya wilayah ini merupakan pelabuhan masyarakat Keleke, Asama Jawa dan Soho serta Dongkalan. Pada tahun 1906 Luwuk ditetapkan menjadi pusat pemerintahan ibu kota afdeling Sulawesi bagian timur oleh Hindia Belanda, lalu menjadi pusat wilayah onderafdeling pada tahun 1924.

    Lalu 18 tahun kemudian Luwuk menjadi kota pemerintahan Jepang dengan pemimpin bergelar Bunken Kanrikan, kemudian pada tahun 1943 Jepang memerintahkan Raja Banggai terakhi Syukuran Aminuddin Amir untuk memindahkan ibu kota Kerajaan Banggai ke Luwuk dan dirinya diangkat sebagai pemimpin dengan pangkat Suco (raja) Banggai. Pada tahun 1952 pemerintah Indonesia menetapkan Luwuk sebagai ibu kota Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Swapraja Banggai, dan pada tanggal 4 Juli 1952 Kota Luwuk ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Banggai, berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959.

    Kota yang terletak di bagian ujung Sulawesi Tengah ini sempat digadang-gadangkan akan menjadi ibu kota provinsi Sulawesi Timur apabila moratorium pemekaran daerah dicabut dan usulan pemekaran dari provinsi Sulawesi Tengah tersebut disetujui oleh Pemerintah Pusat. Luwuk juga digadang-gadangkan memiliki potensi pariwisata yang tinggi dikarenakan letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan laut dan dikelilingi perbukitan dengan ketinggian mencapai 170 mdpl.

    Mengunjungi kota Luwuk dapat ditempuh melalui tiga jalur darat, laut dan udara. Dari Kota Palu ibukota Provinsi, menuju Luwuk ibukota Kabupaten Banggai melalui jalan sarana perhubungan kendaraan umum yaitu bus atau dengan kendaraan carteran, menempuh jarak Palu-Luwuk sekitar 610 km.

    Sedangkan melalui jalur udara terdapat 4 perusahaan penerbangan (Garuda, Sriwijaya Air, Wings Air dan Express Air) yang melayani rute-rute penerbangan reguler setiap hari menuju Luwuk dari Palu, Makassar dan Manado, ketika samapai di bandara Syukuran Aminuddin Amir pengunjung langsung disuguhi dengan indahnya kota luwuk karena bandara berada tepat di sisi pantai dengan huntaian air biru yang berselimutkan pasir putih.

    Sedangkan pintu masuk melalui laut adalah melalui Pelabuhan Luwuk yang dilayani oleh kapal Pelni (KM.Tilong Kabila) dengan rute Luwuk ke Makassar dan Luwuk ke Bitung (Manado), serta melalui Pelabuhan Pagimana yang dilayani dengan kapal penyeberangan ASDP dengan rute Pagimana-Gorontalo. Dari banyaknya objek wisata ada beberapa yang rasanya akan sangat disayangkan jika tidak dikunjingi.

    1. Air Terjun Salodik

    Berjarak sekitar 30 menit dari pusat kota Luwuk air terjun ini tentu tak asing lagi bagi masyarakat Luwuk dan sekitarnya, Air Terjun Salodik memiliki ketinggian 750 hingga 1000 mdpl. Airnya yang jernih kehijau-hijauan seta suasana yang sejuk dan segar membuat siapapun betah belama-lama di tempat ini. Hal yang menarik dari Air Terjun Salodik adalah susunannya yang bertingkat-tingkat dengan kedalaman yang aman, sehingga jika ingin sekedar berenang atau terjun bebas di air terjun ini tidaklah berbahaya, Selain itu pengunjung tidak perlu khawatir jika berjalan disekitar batu alam di air terjun ini karena karakter batu yang tidak licin meskipun dilewati air.

    1. Air Terjun Piala

    Wisata ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu warna air yang berwarna hijau. Air terjun ini memang dijadikan sebagai PLTMH atau pembangkit listrik tenaga mini hidro yang diketahui telah dikelola oleh swasta kemudian dijual ke PLN. Tentu hal ini membuat pengunjung harus naik ke kawasan air terjun melewati pintu air PLTMH. Dari sinilah aliran berwarna hijau dan terlihat mengalir turun hingga ke arah kota. Air terjun ini berlokasi di Hanga-Hanga, Luwuk.

    1. Pantai Kilo Lima

    Namanya Kilo Lima bukan berarti berada lima kilo dari Luwuk, pantai ini masih berada di kota Luwuk. Pantai ini memiliki corak khas dengan air jernih yang kebiru-biruan beralaskan pasir putih serta masih dipenuhi oleh teumbu karang dan masih banyak ikan hias berkeliaran, sungguh menakjubkan ada pantai kota yang masih terpelihara terumbu karangnya. Selain bisa snorkeling, pengunjung juga bisa sambil menikmati jajanan setempat yang biasa mangkal di pinggir Pantai Kilo Lima. Karena untuk menikmati Pantai ini tidak dipungut biaya sama sekali, jangan lupa agar tidak membuang sampah di sekitar laut usai snorkeling atau pun sekedar duduk menikmati pantai.

    1. Bukit Teletubis

    Bukan hanya di Bromo ternyata Bukit Teletubis juga bisa kita temui di Luwuk, di bukit ini pengunjung akan melihat pemandangan padang rumput yang hijau sepanjang mata memandang. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari Café di Bukit Keles yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dari situ. Jalan yang di tempuh menuju bukit ini juga terbilang mudah untuk dilewati kendaraan meski harus agak sedikit bersabar. Walaupun dapat di kunjungi kapan saja, saat pagi dan sore hari menjadi waktu yang tepat untuk menikmati padang rumput ini karena pencahayaan dari terbit dan senja matahari akan membuat Bukit Teletubies versi Luwuk ini semakin indah untuk dipandang.

    Dari beberapa destinasi wisata di atas pengunjung tentunya masih bisa menemukan objek wisata lainnya yang pastinya akan menambah keindahan dan kesan hangat kota Luwuk di hati para pengnjung.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.