Etika Penyiaran Infotainment dalam Perspektif Islam - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wartawan televisi. shutterstock.com

Muhammad Rizky 015

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Januari 2021

Jumat, 16 Juli 2021 06:26 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Etika Penyiaran Infotainment dalam Perspektif Islam

    Di tengah sengitnya persaingan antara perusahaan media, mereka telah mengembangkan sejumlah peran didalam kehidupan manusia. Hal itu dapat mempengaruhi nilai-nilai, agama, moral, dan etika. Televisi menyajikan berbagai segmen siaran. Dari tayangan berbau mistik/takhayul hingga religi. Bagaimana mehyikapinya?

    Dibaca : 351 kali

     Muhammad Rizky, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

     

    Abstrak 

    Dari sudut pandang penyiar sebagai media, Malvin L. DeFleur & Everet E. Dennis, Pengertian Komunikasi Massa, yaitu jenis media yang menggunakan elektromagnetik instrumen dalam menyampaikan pesan kepada khalayak secara bersamaan. Sedangkan penyiaran mempunyai arti sebagai: Kegiatan pemancarluasan dengan cara memancarkan siaran”. dan/atau sarana transmisi di darat, di laut, atau di ruang angkasa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio (sinyal radio) dalam bentuk gelombang.

    Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos. Dalam bentuk tunggal, ethos berarti tempat tinggal biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat istiadat, moral, perasaan, cara/ways berpikir.

    Dalam pengertian filsafat, etika berarti ilmu atau pengetahuan biasa tentang adat. Di kamus bahasa Indonesia adalah ilmu tentang asas-asas akhlak. sebagai dakwah agama membutuhkan manusia untuk menginternalisasi, transmisi, difusi, transformasi, dan aktualisasi syari'at dan metode media yang bersumber pada al-Qur’an, kitab dakwah, dan sunnah Nabi kepada mad'u (manusia).

    Ini adalah inisiatif umat Islam untuk mewujudkan syariat Islam menjadi kenyataan dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan khalayak diwujudkan secara berjamaah sehingga bohemian ummah baik baik baik di dunia sekarang dan di akhirat. Jadi bersama-sama kita melihat publikasi etika dan syari ternyata pada Islam harus memiliki hubungan yang kuat sehingga akan memberikan dorongan bagi perkembangan dan kesejahteraan masyarakat.

    PENDAHULUAN

    Hubungan timbal balik antara kehidupan yang terjadi di dunia ini dengan media massa sudah berlangsung sejak lama. Perkembangan teknologi dalam komunikasi di dunia semakin pesat dan maju. Dengan adanya perkembangan teknologi dalam berkomunikasi mempermudah penyampaian informasi dari satu tempat ke tempat lain di berbagai belahan dunia.

    Kemajuan dan kemunduran media komunikasi pun mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia seperti sosial, politik, ekonomi dan ketahanan suatu negara. Dengan adanya media segala informasi penting langsung menyinggung dinamika social kehidupan masyarakat. Akhirnya media memiliki peranan yang sangat penting di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

    Ada beberapa jenis informasi yang diberikan oleh media. yakni berita dan non berita. Namun pada hakikatnya, belakangan ini sering sekali kita temukan banyaknya acara pertelivisian dari sisi non-berita yang banyak memberikan suatu gambaran secara umum mengenai kehidupan manusia. Tapi gambaran tersebut banyak menampilkan kebobrokan dan kehancuran masyarakat Indonesia yang seiring dengan itu dapat mempengaruhi sikap dan moral masyarakat yang bermartabat dan meluluh lantakan etikat dalam bernegara.

    Dr Jack Lyle mengungkapkan bahwa ada tiga asas yang dapat mempengaruhi perilaku penonton, yaitu, pertama kesamaan fungsional (fungsional similarity) sesuai apa yang dikorbankan. Kedua, ialah kegiatan yang dapat diubah (transformed activity) pengaruh negatif dari televisi, Ketiga ialah kegiatan marginal yang mempengaruhi kegiatan yang terorganisir.

    Berita dan pertelevisian merupakan sebuah instrumen yang sangat bermanfaat bagi khalayak luas. Ia mampu memberikan informasi secara komplek, tepat dan akurat kepada masyarakat luas. Walaupun terkadang melebih-lebihkan berita tersebut, namun ia dapat menjadi media pembelajaran non-formal, diantaranya, masalah keagamaan, sosial, politik, dan ekonomi yang memberikan kontribusi secara langsung dan terbuka.

    Salah satu pengaruh psikologis pertelevisian terkadang mampu mengeyahkan dan mampu mempengaruhi sehingga penonton merasa terlibat bahkan seolah-olah hanyut dalam suatu peristiwa ataupun adegan yang membuat para penonton terpesona, terharu bahkab latah terhadap suatu peristiwa. Water Lippman dalam bukunya Public Opinion tahun 1992 menjelaskan tentang lingkungan semu (pseudo-environment). Ia mengatakan bahwa dunia objektif yang dihadapi manusia itu “tak terjangkau, tak terlihat, dan tak terbayangkan.” Karenanya manusia menciptakan sendiri dunia dipikirannya dalam upaya sedikit memahami dunia objektif tersebut. Maka disinilah peran media yang telah mempercepat, memperkuat dan melekatkan dunia semu sehingga menambah jarak antara manusia modern dengan dunia nyata.

    Berdasarkan uraian diatas kita dapat mengetahui bahwa ternyata media komunikasi dan penyiaran sangat lekat dengan masyarakat. Dengan kedua hal tersebut bisa mempengaruhi perilaku dan budaya masyarakat di suatu wilayah. Dan jika tidak ada etika yang dibarengi dengan landasan agama dalam penyiaran di Indonesia nantinya akan merusak citra dan moral bangsa.

    Penelitian ini terfokus pada perkembangan penyiaran televisi di Indonesia. Maka atas dasar–dasar pertimbangan diatas penulis melakukan penelitian pustaka dengan judul Etika Penyiaran Dipandang dari Perpsektif Syariat Islam.

    Berdasarkan latar belakang yang disusun oleh penulis diatas, inti dari jurnal penelitian ini adalah “Bagaiman siaran pertelevisian dapat mempengaruhi etika mayarakat luas dalam persepsi syariah Islam” permasalahan ini dapat diuraikan dan diidentifisikasikan sebagai berikut:

    1. Bagaimana hukum etika penyiaran di televisi jika dipandang dari perubahan perilaku dalam bermasyarakat dan bernegara?

    2. Bagaimana Perkembangan Penyiaran di Indonesia?

    3. Bagaimana penyiaran dipandang dari perspektif Islam?

    Etika berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam bentuk tunggal, ethos berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, perasaan, cara berpikir. Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

    Dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi).

    Maka jika sampai persepsi disalah artikan oleh masyarakat luas, nantinya akan bisa menimpulkan konflik di masyarakat tersebut. Baik konflik pribadi maupun konflik antar golongan masyarakat. Karena manusia memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berlainan. Sementara syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini.

    Kerangka Konseptual

    Jurnal penelitian ini menjelaskan etika penyiaran yang di pandang dari persepsi syariat Islam. Untuk memahami alur berfikir penelitian ini perlu adanya kerangka berpikir yang jelas. Kerangka berfikir merupakan penjelasan secara teoritis pertautan antara variable yang akan diteliti1 Etika berasal dari kata bahasa Yunani adalah Ethos. Dalam bentuk tunggal, ethos berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, perasaan, cara berpikir.

    Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang asas- asas akhlak. Definisi mendasar penyiaran ialah perantara dalam penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan yang bertujuan untuk efisiensi penyebaran informasi atau pesan tersebut.

    Menurut Heinich2 bahwa media merupakan alat komunikasi. Contoh Instrumennya adalah penyiaran radio dan penyiaran televisi (library research) 3 . Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan sebuah penelitian yang sebelumnya hasil pemikiran dari beberapa penulis buku yang penulis sajikan secara maksimal walaupun belum menyentuh kesempurnaan. Maka dari itu penelitian ini secara kompleks dikoreksi oleh buku – buku yang telah ada pada saat ini.

     

    METODE

    Sumber Data Penelitian

    Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan etika penyiaran dalam persepsi syariat Islam tidak terlepas dari pengamatan serta penggunaan metode. Maka oleh karena itu dibutuhkanlah suatu penelitian yang berbentuk riset, yang mana penelitian ini menggandung makna pembelajaran terhadap buku-buku yang berhubungan dengan penelitian tertulis ini

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Hasil dan pembahasan penyiaran merupakan hal yang cukup familiar bagi masyarakat kita. Penyiaran menurut JB. Wahyudi4 adalah semua kegiatan yang memungkinkan adanya siaran radio dan televisi yang meliputi segi ideal, perangkat keras dan lunak yang mengunakan sarana pemancaran atau transmisi, baik di darat maupun di antariksa, dengan mengunakan gelombang elektromagnetik atau jenis gelombang yang lebih tinggi untuk dipancarluaskan dan dapat diterima oleh khalayak melalui pesawat penerima radio atau televisi, dengan atau tanpa alat bantu.

    Sedangkan siaran itu sama artinya dengan broadcast yang dalam Undang-undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran.

    Sedangkan penyiaran yang disebut broadcasting memiliki pengertian sebagai: Kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan mengunakan spektrum frekuensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang.

    Dari sudut pandang penyiaran sebagai media, Malvin L. DeFleur & Everet E. Dennis5 , Understanding Mass Communicatio, yakni sebagai jenis media massa yang menggunakan instrument elektromagnetik dalam menyampaikan pesan ke audiensnya secara simultan. Guna membantu media dalam menafsirkan dan melaksanakan tanggung jawab sosialnya mulailah dibentuk dewan–dewan kode etik di AS, setelah sebelumnya sudah berkembang di Eropa.

    Dewan berfungsi menerima pengaduan dari masyarakat, dan meneruskannya ke media yang bersangkutan. Keberadaan dewan dipandang sebagai bagian terpenting dari sebuah masyarakat demokratis dalam bidang penyiaran. Dalam hal ini fungsi dari dewan pers menghindari segala bentuk SARA, ekstrimisme dan hal hal negatif lainnya.

    Mengingat siaran televisi memiliki dampak yang luas di masyarakat, maka peranan perancanaan (planning programming) menjadi sangat penting. Setiap mata acara yang dipilih, di produksi dan disiarkan harus melalui perencanaan yang sempurna sehingga dapat dikatakan “Television is Planning”.

    Siaran secara hakekatnya tidak boleh monoton dan statis, karena apabila siaran monoton dan statis, akan menyebabkan kebosanan khalayak luas dan akan menimbulkan sikap anti pati. Secara teoritis, siaran pertelevisian merupakan siaran komunikasi media massa. Yang mana merupakan komunikator, sedangkan khalayak (pendengar/pemirsa) disebut komunikan.

    Isi pada televisi tersaji dalam bebtuk audio visual atau gerak. Seperti siaran CNN, BBC, CFI memiliki pangsa internasional. Jika digambarkan hubungan antara komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi massa melalui medium televisi adalah sebagai berikut: Komunikator dalam hal ini sebagai penyelenggara televisi harus mampu menjalankan proses komunikasi secara efektif, diantaranya dengan sajian–sajian yang menarik sesuai ideologi, norma, etika, estetika yang berlaku. Agar kepentingan komunikan maupun dengan kepentingan komunikator dapat berhimpit (overlapping). Apabila kepentingan ini berhimpit berarti khalayak akan mendengarkan atau menonton siaran itu.

    Dalam rangka untuk terwujudnya komunikasi yang berimpit, maka pihak komunikator sebelumnya perlu untuk melakukan proses komunikasi, adapun beberapa langkah empati untuk dapat mewujudkan proses komunikasi yang berimpit adalah, pertama, berusaha mengetahui tentang diri komunikan, contoh langkah penelitan atau audience profile research.

    Kedua, mata acara yang disajikan harus berorientasi harus berorientasi pada selera masyarakat. Karena masyarakat adalah sasaran dari komudite siaran. Merekalah yang memutuskan untuk endengarkan/menonton atau tidak. Pakar psikologi Robert K. Avery dalam karya tulis yang berjudul Comunication and The Media, berpendapat bahwa tiap individu dalam menerima isi pesan dari media massa akan melakukan tiga bentuk seleksi, yaitu selective attention, selective perception danselective retention6 .

    Dalam proses komunikasi, secara dinamis akan terdapat suatu pertukaran pendapat (informasi) jikalau pada akhirnya terjadi singkronisasi kepahaman anatara komunikator dan komunikan maka akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang berjalan dengan efektif. Namun apabila tidak, maka proses komunikasi yang terjadi tersebut tidak efektif atau tidak sesuai yang diinginkan (gagal).

    Islam sebagai agama dakwah mewajibkan umatnya untuk melakukan internalisasi, transmisi, difusi, transformasi, dan aktualisasi syari’at Islam dengan metode dan media yang bersumber pada AL-Qura’an, sebagai kitab dakwah, dan sunnah Rasulullah kepada mad’u (umat manusia). Hal ini sebagai ikhtiar muslim untuk membuat syaria’at Islam menjadi kenyataan dalam kehidupan individu, keluarga, komunitas, dan khalayak secara berjamaah sehingga terwujud ummat baik yang berkehidupan baik di dunia kini dan baik di akhirat kelak.

    KESIMPULAN

    Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam analisis penelitian ini, bahwa media massa sebagai sarana penyiaran di Indonesia merupakan hal sudah lekat didalam kehidupan masyarakat. Media massa yang berupa televisi dan radio tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa televisi terutama sarana paling yang sering digunakan orang dalam memperoleh informasi. Dan pada akhirnya media massa unggul dalam penyampaian informasi di dunia.

    Di tengah sengitnya persaingan antara perusahaan media massa dalam memperoleh perhatian masyarakat, media massa telah mengembangkan dan memberikan sejumlah peran didalam kehidupan manusia sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi nilai-nilai, agama, moral, dan etika. Televisi menyajikan segala sesuatu yang menarik perhatian pemirsanya. Segala jenis program dengan berbagai segmen terdapat di dalamnya. Dari tayangan berbau mistik/takhayul dan kekerasan, tayangan religi, berita, program anak, hingga tayangan bagi orang dewasa yang berbau pornografi (walaupun sudah disensor) termuat dalam siaran televisi.

    Beberapa pengamat televisi menganggap bahwa program-program yang ditayangkan saat ini sudah melampaui batas. Oleh karenanya, diperlukan perhatian dan kontrol yang serius, baik dari pemerintah, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), maupun dari masyarakat itu sendiri agar dapat tetap di garis aturan aturan yang telah ditentukan.

    Pada pasal 48 ayat 4 di Undang – Undang Penyiaran tahun 2002 jelas dikatakan pedoman perilaku penyiaran menentukan standar isi siaran yang sekurang-kurangnya berkaitan dengan : 1. Rasa hormat terhadap pandangan agama. 2. Rasa hormat terhadap hal pribadi. 3. Kesopanan dan kesusialaan. 4. Pembatasan adegan seks, kekerasan, dan sadism. 5. Perlindungan terhadap anak – anak, remaja, dan perempuan. 6. Penggolongan program dilakukan menurut usia khalayak. 7. Penyiaran program dalam bahasa asing. 8. Siaran langsung ; dan 9. Siaran iklan.

    Suatu hal yang harus diketahui oleh umat muslim bahwa sesungguhnya umat muslim sebagai agama dakwah diwajibkan agar dapat melakukan internalisasi, transmisi, difusi, transformasi, dan aktualisasi syari’at Islam dengan metode dan media yang bersumber pada al-Qur’an, sebagai kitab dakwah, dan sunnah Rasulullah kepada mad’u (umat manusia). Hal itu dilakukan sebagai upaya agar masyarakat muslim berbasiskan dakwah tetap didalam koridor perkembangan zaman sehingga tidak menyimpang dari nilai nilai, etika dan moral yang dianut sebagaimana dalam waktu dekat ini semakin menimpang dari al-Qur’an dan al-Hadits.

    Kita sudah banyak membahas mengenai etika, penyiaran sampai kepada syariat Islam. Namun kenyataanya aspek etika mempunyai makna yang lebih universal dibandingkan syariat Islam walaupun berdampingan. Stasiun– stasiun televisipun banyak yang melanggar aturan aturan pasal 48 ayat 4 yang telah ditetapkan hal itupun tak lepas dari kurangnya monitoring dari Komisi Penyiaran Indonesia.

    Agama Islam sudah mengatur masalah penyiaran lewat kaidah-kaidah dakwah. Seperti dalam surah Q.S Ali-Imran ayat 20 yang mengatakan “Maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan” dan surah Q.S An-Nahl ayat 82 yang berbunyi “Maka apabila mereka berpaling (juga), sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan yang terang dan nyata”. Dan ketika seseorang sudah menyampaikan sesuatu kepada sesama umat Allah maka akan ada hukuman jika apa yang disampaikan tidak sesuai dengan kenyataan dan pastinya tidak sesuai dengan syari’at Islam. Maka pada akhirnya siaran televisi harus menjadi tontonan yang menjadikan tuntunan bagi umat manusia, sehingga dapat sesuai dengan syri’at Islam dan Undang-undang penyiaran.

     

    Email: muhriz1515@gmail.com

    DAFTAR PUSTAKA

    Djazuli, Ilmu Fiqih, (Jakarta:Kencana,2005). Cangara, Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta:Raja Grafindo,2000).

    Gazali, Effendi, Penyiaran Alternatif tapi Mutlak, (Jakarta:Jurusan Ilmu Komunikasi FIFIP UI, 2002).

    J.B Wahyudi, Dasar – dasar menejemen penyiaran. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka,2004)

    M.A Perdamaian, Akhlak Tasauf. (Pekanbaru: Witra Irzani,2010). Ali Aziz,Moh. Ilmu Dakwa Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana,2004).

     Mufid, Muhammad, Etika Filsafat dan Komunikasi, (Jakarta: Kencana,2009). River, William L, Media Massa dan Masyarakat Modern, (Jakarta:Kencana,2003)

    Sambas,Syukriadi, Komunikasi Penyiaran Islam, (Bandung: Dehilman Production,2004)

     Tasmaran, Toto,Komunikasi Dakwah, (Jakarta : Gaya Media Pratama,1997).

     Tunggal, Setia Hadi, Undang – Undang Penyiaran Beserta Peraturan Pelaksanaannya. (Jakarta: Harvarindo,2006)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.