Rasa Syukur 76 Tahun Indonesia dan Merdeka yang Sebenarnya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Mwrdeka

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 16 Agustus 2021 16:40 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rasa Syukur 76 Tahun Indonesia dan Merdeka yang Sebenarnya

    Selamat berusia 76 Tahun Indonesia, teruslah berjuang untuk menggapai merdeka yang sebenarnya. Sebab, merdeka yang sebenarnya, tanpa pamrih.

    Dibaca : 478 kali

    Merdeka yang sebenarnya, tanpa pamrih. (Supartono JW.17082021)

    76 tahun sudah, Indonesia lepas dari penjajahan kolonialisme. Sepanjang 76 tahun itu, Indonesia pun sudah berkembang dengan menjadi negara besar yang memiliki wilayah yang luas beserta kekayaan alam yang melimpah, terkandung di dalam bumi dan air, pun memiliki jumlah ratusan juta rakyat.

    Rasa Syukur dan makna merdeka

    Oleh karenanya, rasa syukur wajib terus kita panjatkan karena atas izin dan karuniaNya, para pahlawan pejuang kemerdekaan dengan mengorbankan darah dan nyawa mampu mengusir penjajah kolonialisme, hingga rakyat Indonesia merasakan dapat hidup di alam merdeka hingga sekarang.

    Namun, sebagai refleksi di usia Indonesia yang ke-76 tahun, kira-kira apakah merdeka sesuai makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah dirasakan oleh rakyat Indonesia dengan sebenarnya dan sebaik-baiknya?

    Merdeka maknanya bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Merdeka juga berarti berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, dan leluasa berbuat.

    Pertanyaannya, apakah sesuai makna merdeka tersebut, rakyat sebagai pemilik sah Republik ini sudah benar-benar merdeka sesuai arti merdeka itu?

    Sebagai refleksi, apakah rakyat sudah benar-benar bebas dari perhambaan? Apakah rakyat susah benar-benar bebas dari penjajahan? Apakah rakyat benar-benar sudah dapat berdiri sendiri? Apakah rakyat tidak terkena atau lepas dari tuntutan seperti hutang negara? Apakah rakyat dan negara ini tidak terikat dengan bangsa lain? Apakah rakyat dan negara ini tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu atau negara lain? Apakah rakyat leluasa berbuat sesuai keadilan dan hukum yang tak memihak?

    Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan bangga atas segala perkembangan dan kemajuan bangsa dan negara yang dibangun oleh berbagai periodisasi pemerintahan di segala bidang, Indonesia bahkan sudah lepas dari kategori negara berkembang.

    Namun, bila melihat sektor pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini menjadi tolok ukur kemajuan sebuah bangsa, karena dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, adalah bukti bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa itu mumpuni, maka di sektor ini, Indonesia terus terkendala karena pendidikan terus terpuruk.

    Akibatnya, SDM Indonesia juga terus tertinggal dalam hal inovasi dan karya cipta khususnya di bidang teknologi di kancah dunia.  Buntutnya, rakyat bangsa Indonesia pun lekat dengan labeling sebagai bangsa pemakai produk bangsa asing.

    Di sisi lain, bangsa ini juga terus tergantung dengan para tenaga ahli asing dan rakyat bangsa Indonesia sendiri terus langgeng duduk sebagai buruh. Mengapa kondisi ini terus terjadi? Apakah karena memang hal ini mengalir sesuai kodrat? Atau memang ada pihak yang merekayasa, bikin skenario dan penyutradaraannya?

    Yang pasti, atas kondisi tersebut, maka dengan mengidentifikasi kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa nyata di Bumi Pertiwi ini, maka meskipun Indonesia sudah merdeka dari penjajahan kolonialisme, ternyata rakyat, serta bangsa dan negara Indonesia belum sepenuhnya benar-benar merdeka.

    Sejatinya, bangsa dan negara ini masih terus akan dijajah oleh bangsa lain entah hingga kapan karena hutangnya. Bangsa dan negara ini pun masih akan terus terikat dan bergantung kepada negara lain karena berbagai hal. 

    Sementara akibat bangsa dan negara yang masih terikat dan tergantung dengan bangsa lain, rakyat pun harus rela dijajah oleh para pemimpin negeri ini dengan peraturan dan kebijakan yang tak memihak rakyat. Selain itu, para pemimpin juga sibuk dengan ambisi kekuasaan, dinasti politik, hingga oligarki yang terus membelenggu mereka sendiri karena ada politik kepentingan. Korbannya, rakyat yang terus menderita.

    Rakyat pun menjadi tak bebas dan leluasa bergerak, berekspresi, berkreasi, mengkritisi yang tak sesuai amanah, karena keadilan dan hukum pun dijalankan dengan tajam ke bawah, tumpul ke atas.

    Benarkah merdeka sebenarnya?

    Pada akhirnya, di usia 76 tahun Indonesia merdeka, kepada para pemimpin negeri, tolong dijawab sesuai hati nurani, apakah bangsa dan negara ini benar-benar sudah merdeka sesuai makna merdeka yang benar?

    Kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan hati nurani pula, benarkah selama ini sudah merasakan merdeka sesuai makna yang sebenarnya?

    Merdeka yang sebenarnya memang wajib direbut dan diperjuangkan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan kemerdekaan tanpa pamrih, bahkan dengan taruhan nyawa. 

    Mustahil akan ada merdeka yang sebenarnya, bila di dalam perjuangannya untuk merdeka yang sebenarnya ada pamrih, ada keserakahan, ada ingin menguasai lebih, ada kepentingan sendiri/kelompok/golongan, hingga ada takut kehilangan yang bukan milik.

    Meski bangsa, negara, dan rakyat Indonesia belum merdeka sesuai makna merdeka yang sebenarnya, tetap harus bersyukur bahwa Indonesia sudah berdaulat dan terus mencoba bersaing dengan bangsa lain dalam hal kemajuan dan perkembangan peradaban zaman.

    Selamat berusia 76 Tahun Indonesia, teruslah berjuang untuk menggapai merdeka yang sebenarnya. Aamiin.






    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.