x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 25 Agustus 2021 12:55 WIB

Tangis Bu Tejo Lepas dari Buta Huruf, Tidak Ada Ilmu Tanpa Diamalkan

Tangis Bu Tejo yang buta huruf pun pecah. Saat akhirnya bisa baca-tulis. Bukti tidak ada ilmu tanpa diamalkan. Bagaimana menurut Anda?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tangis Bu Tejo pun pecah. Air matanya mengalir Sebagai tanda syukur. Saat ia pada akhirnya bisa membaca dan menulis, setelah belajar di GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

Maklum puluhan tahun Bu Tejo buta huruf. Tidak ada yang mau mengajari. Tidak peduli pada dirinya sebagai kaum dari kalangan miskin. Kini setelah dua tahun lebih belajar baca-tulis. Bu Tejo pun terbebas dari belenggu buta huruf.

Bu Tejo yang buta huruf. Mungkin hanya potret sebagian kecil kaum buta huruf yang ada di bumi Indonesia. Tapi semangat untuk belajar dan motivasi untuk bisa baca-tulis telah mematahkan rasa frustrasi yang dimilikinya. Ia hanya ingin bisa tulis. Tidak lebih dari itu. Agar lebih bermartabat di mata anaknya. Bukan di mata orang lain. Bu Tejo hanya tahu, belajar itu perbuatan baik. Maka ia pelihara semangat untuk tetap belajar. (Simak Tonight Show NET TV: https://www.youtube.com/watch?v=kDG0kGBSK3I)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mungkin bagi Bu Tejo, belajar baca tulis pun hanya mengisi waktu luang. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja sebagai pembantu yang hanya masuk kerja 3 kali seminggu. Dengan belajar pun, Bu Tejo terhindar dari perilaku senang menggunjing atau gibah. Terhindar dari ngobrol hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Karena sebagai orang kampung, Bu Tejo yakin tidak ada orang yang punya sifat dan karakternya. Tapi karena punya waktu luang itulah jadi sebab menggunjing. Prinsip Bu Tejo sederhana. Sibukkan diri untuk belajar dan berbuat baik. Agar tidak ada waktu untuk yang sia-sia.

Maka tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina, begitu kata pepatah populer. Bu Tejo pun telah menjalankannya. Karena ajaran agama pun menegaskan tiap manusia untuk selalu menuntut ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ada pesan penting di situ, siapa pun harus selalu belajar dan orang berilmu pun harus mengajarkan.

Tidak ada ilmu tanpa diamalkan. Maka siapapun yang merasa ber-ilmu harus mengamalkan ilmunya. Karena bila tidak akan membahayakan dirinya. Mencari ilmu memang wajib. Tapi megamalkan ilmu yang dimiliki lebih wajib. Karena ilmu bukan hanya untuk menambah pengetahuan. Apalagi memenuhi nafsu dunia lalu sibuk mementingkan diri sendiri. Sangat keliru bila mengira ilmu tanpa amal akan bisa menyelamatkan dan mendatangkan kebahagiaan. Siapa bilang ilmu itu tidak butuh diamalkan? Sangat keliru pendapat itu.

Orang memiliki ilmu. Diperintahkan untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, "Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari kiamat, yaitu orang yang mempunyai ilmu, namun tidak memberi manfaat atas ilmunya."

Memang tidak mudah. Bagi orang berilmu menerima nasihat. Karena nasihat bagi orang berilmu yang menuruti hawa nafsunya terasa pahit. Orang-orang yang terlalu mencintai hal-hal yang dilarang oleh hatinya.


Siapa pun yang memiliki ilmu. Maka amalkanlah, ajarkanlah orang lain. Sebagai sebab berkahnya ilmu. Karena ilmu tidak akan berkah bila disembunyikan. Ilmu yang dimiliki tapi sia-sia.

Sejatinya, puncak keilmuan seseorang adalah saat ilmu itu bermanaat untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Salam literasi #GeberBura #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi

 

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

7 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu