Gejala Apatisme Intelektual, Apa Kabar Para Cendekiawan? (Bagian 1) - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh chenspec dari Pixabay

Phiodias M

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 September 2021

Jumat, 17 September 2021 17:36 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Gejala Apatisme Intelektual, Apa Kabar Para Cendekiawan? (Bagian 1)

    Saat ini ada 4 isu fundamental bangsa: apatisme intelektual, fase pembuktian, predikat bangsa sebagai objek peradaban dan estafet regenerasi bangsa. Apatisme intelektual berimplikasi dominan atas ke-3 isu lainnya itu. Memang saat ini ada dinamika kritik sosial, namun tidak menyentuh isu fundamental kebangsaan. Lebih dominan pada isu teknikal. Dan basisnya adalah politik praktis, bukan politik kebangsaan. Sudah saatnya para intelektual turun gunung.

    Dibaca : 2.132 kali

    Bab I - Pendahuluan 

    Judul artikel bersambung ini terinspirasi dari pengalaman keseharian penulis berinteraksi dengan komunitas (keluarga, tempat tinggal, alumni sekolah/kuliah, pensiunan). Selain itu juga berdasar pencermatan terhadap konten media nasional/sosial. Terlihat saat ini menggejala adanya apatisme untuk membicarakan politik kebangsaan (bukan politik praktis). Itu merupakan fakta, sudah menjadi keniscayaan.

    Memang diskusi tentang ekses-ekses kehidupan bangsa seperti masalah sosial dan ekonomi mikro lumayan menjadi isu komunitas. Tetapi ketika diskusi bergeser pada isu politik nasional untuk membahas akar masalahnya, pada umumnya komunitas enggan membahasnya. Itulah profiling umum pemikiran komunitas dimana penulis berinteraksi. Tentu itu situasi kontradiktif. Di satu sisi, para orang tua secara insting menginginkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya. Tapi di sisi lain enggan berbicara tentang politik kebangsaan padahal lingkupnya termasuk masa depan generasi mendatang.

    Jika diperluas dalam lingkup nasional dengan mencermati berita media nasional, situasi itu mirip. Memang ada dinamika kritik sosial, namun umumnya tidak sentuh isu fundamental kebangsaan. Lebih dominan pada isu teknikal. Dan basisnya adalah politik praktis, bukan politik kebangsaan atau politik perkembangan peradaban. Menghindari subjek terkait isu fundamental, juga terjadi pada institusi-institusi pendidikan, riset, profesionalisme, ketenagaahlian dan perencanaan--garda terdepan instrumen pencerdasan bangsa.

    Penulis meyakini bahwa keadaan mikro yang berkesuaian dengan makro itu, merupakan gambaran umum fenomena apolitis di tanah air. Itu sejalan dengan dua prinsip yang diyakini: (a) ilmu statistik bahwa kondisi mikro menggambarkan makro; (b) aliran bejana berhubungan gagasan bahwa gagasan populer atau pendorong kebaikan akan menyebar dari komunitas yang sudah merasakan manfaatnya kepada yang belum.

    Sebagai peminat bacaan sejarah dimana fenomena sebab akibat merupakan basis dinamika bergeraknya sejarah, fenomena apolitis itu bukannya tanpa sebab. Ada suatu peristiwa sejarah yang terjadi 43 tahun lalu sebagai penyebabnya. Akan dielaborasi lebih lanjut di bawah ini.

    Sudah seharusnya situasi itu segera dihentikan, terutama di kalangan intelektual yang mempunyai peran kesejarahan intelektualisme. Apalagi tanda-tanda the decay of nation mulai nampak dari sisi indikator makro ekonomi dan membanjirnya investasi asing dari negara-negara yang 50 tahun lalu kondisi ekonominya di bawah kita. Pertanda adanya kekosongan pemikiran perencanaan pembangunan dalam rentang waktu 50 tahun belakangan ini.

    Hendaknya para intelektual bangsa turun gunung membenahi isu rasionalitas bangsa dengan mengusung tema pembangunan kecerdasan atau kapasitas bangsa. Dengan demikian berharap agar suasana tone l'état c'est nous (negara adalah kita), lebih mengemuka daripada suasana l'etat c'est moi (saya adalah negara). Seolah-olah yang boleh bicara tentang negara hanyalah pejabat atau politisi. 

    I.1 Timbulnya Gagasan Tulisan: Empat Isu Fundamental Bangsa Tengah dan Akan Menghadang

    Pengalaman keseharian penulis berinteraksi dengan komunitas dan pencermatan atas konten media itu, mendorong penulis melakukan pendalaman tentang masalah bangsa. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di negara kita tercinta ini?

    Tentu usaha pendalaman itu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Seperti turunnya ilham dari langit melalui mimpi dalam semalam. Ini proses panjang, bermetamorfosis sejak penulis mempunyai kesadaran lingkungan sosial hampir 60 tahun lalu. Terbagi dalam 4 fase pertumbuhan kecerdasan, yakni: masa-masa tumbuh, berkembang, aplikasi kapasitas dan berbagi nilai dan pengalaman. Tiap-tiap fase tentu mempunyai pemahaman pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan pengalaman penulis. Saat menulis ini, penulis berada pada fase ke 4 kehidupan. 

    Banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa saat ini dan tiga tahun mendatang ada empat isu fundamental bangsa yang menghadang. Masing-masing berupa dua momentum dan dua keadaan. Satu momentum itu sedang terjadi, sedangkan yang lainnya akan terjadi. Dua keadaan itu sudah berlangsung lama, sekurang-kurangnya sejak 43 tahun lalu.

    Satu dari keadaan itu adalah situasi apatisme intelektual yang terkait atau akan terkait dengan tiga hal lainnya itu. Ini keadaan yang harus dibayar mahal oleh bangsa kita --menjadi sumber stagnasi kehidupan bangsa selama ini dan saat ini, penyebab buntunya penalaran bangsa. Inilah akibat berlakunya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) pada tahun 1978.

    Apatisme intelektual ini berdampak atau akan sangat terkait pada tiga hal lainnya, masing-masing dua momentum (fase pembuktian dan estafet regenerasi bangsa) dan satu keadaan (predikat bangsa sebagai objek peradaban). Keempat isu itu mempunyai pemaknaan dan relevansi yang kuat mengingat kemerdekaan kita sudah berusia 76 tahun.

    Dalam perbandingan kesejarahan peradaban, itu adalah waktu yang lebih dari cukup untuk matangnya eksistensi suatu bangsa. Juga momen yang tidak kalah pentingnya, kurang dari tiga tahun lagi kita akan mengadakan Pemilu Presiden dan Legislatif tahun 2024. Penting karena itulah saat yang tepat bagaimana rakyat Indonesia harus memutuskan sikap politiknya atas hasil pembangunan selama 79 tahun merdeka. Apakah puas dengan hasil itu atau sebaliknya. Jika tidak puas, berdasarkan konstitusi apakah yang harus dilakukan rakyat? Harapannya, tulisan ini dapat menjadi salah satu bahan pemikiran yang menginspirasi epilog 2024.  

    Implikasi apatisme tersebut terkait dengan masih tetapnya predikat bangsa sebagai objek peradaban, tentu sangat memprihatinkan. Melihat situasi ini penulis jadi teringat keprihatinan Francesco Petrarch, pelopor Renaissance Italia, atas ketidakpatutan kondisi Roma 7 abad lalu itu dibandingkan dengan kota itu pada masa kebesaran sejarah Romawi. Atas dasar itu, Petrarch menjuluki periode sejak kejatuhan Romawi sampai pada saat itu sebagai Era Gelap.

    Ada 4 frasa dari narasi itu yang perlu dikutip untuk mengilustrasikan suatu metafora, yakni: keprihatinan, ketidakpatutan, dibandingkan dengan dan Era Gelap. Penulis prihatin dengan masih tetapnya predikat bangsa sebagai objek peradaban padahal usia kemerdekaan kita sudah mencapai 76 tahun. Ini sungguh tidak patut jika dibandingkan dengan transformasi Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan yang memerlukan waktu jauh lebih cepat dari usia kemerdekaan kita.

    Tidak sepadannya peningkatan kapasitas bangsa dengan fungsi waktu dan masih besarnya tantangan bangsa, layak kiranya disebut bahwa bangsa kita tengah berada pada Era Gelap. 

    Tulisan yang akan datang adalah Interaksi Publik # 1b - Apatisme Intelektual dan Konsekuensi Yang Terjadi - I.2 Tujuan Penulisan.

    Bagian ke-2, bisa dibaca di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.