Mengubah Kampung Caping Jadi Destinasi Eksotik - Travel - www.indonesiana.id
x

Warga Kampung Caping Bangun Teras Terapung. Foto: pontianakkota.go.id

Gadis Desa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 24 September 2021 06:38 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Mengubah Kampung Caping Jadi Destinasi Eksotik

    Kampung Caping di Pontianak, menghadirkan konsep kampung wisata yang masyarakatnya produktif. Ada aktivitas sehari-hari membuat caping. Dengan kebijakannya, Lurah Arno menyulap hadirnya suatu kampung yang kini berwarna-warni terhias banyak caping di sepanjang jalan pelataran Gang Mendawai, Sungai Kapuas.

    Dibaca : 240 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Tanah Khatulistiwa. Dikenal juga dengan julukan Negeri Burung Enggang serta Kota Seribu Sungai. Pasti mengetahui bahwa di Kota Pontianak dilalui oleh Sungai Kapuas. Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia mencapai 1.143 kilometer.

    Sungai yang membelah Kota Pontianak dan wilayah lainnya di Kalimantan Barat. Masyarakat Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat menjadikan Sungai Kapuas sebagai andalan menyokong kehidupan sehari-hari.

    Dari mulai mencuci, kebutuhan air, mandi, bahkan sampai bermukin pun banyak masyarakat di Pontianak di pelataran tepi Sungai Kapuas. Kondisi seperti itulah yang membuat Kelurahan Bansir Laut, Kota Pontianak, bertekad mendayagunakan potensi Sungai Kapuas menjadi lokasi yang nyaman dan indah untuk dikunjungi.

    Keinginan tersebut diwujudkan Lurah Bansir Laut, Arno, dengan mengubah wajah Gang Mendawai, yang kebetulan letaknya berada di tepi Sungai Kapuas, kini menjadi areal wisata yang layak. "Dulu di belakang Gang Mendawai, yang di tepi sungai itu, sangat tidak teratur. Dapat dianggap kotor dan seperti lokasi tidak terurus. Sungai di Gang Mendawai menjadi banyak sampah," kata Lurah Arno, Jumat (10/9/2021).

    Arno kemudian menggebrak. Ia berpikir inovatif dengan merancang lahirnya sebuah kampung yang asri, indah, bersih, elok serta eksotik. Sekaligus bermanfaat bagi warga sekitar untuk menambah penghasilan. Lantas terciptalah Kampung Caping.

    Ya, Kampung Caping. Lurah Arno menghadirkan suatu konsep kampung yang masyarakatnya produktif sebab ada aktivitas sehari-hari membuat caping --topi berbentuk bundar kerucut dari bahan daun mengkuang dan biasa dipakai petani ke sawah.

    Pada akhirnya, warga di Kampung Caping Gang Mendawai mempunyai penghasilan tambahan dari karya caping mereka yang dijual. Dengan kebijakannya, Lurah Arno menyulap hadirnya suatu kampung yang kini berwarna-warni terhias banyak xaping di sepanjang jalan pelataran Sungai Kapuas Gang Mendawai.

    Lurah Arno berhasil membuat Kampung Caping mempunyai karakter khas sehingga dikenal sekarang sebagai destinasi wisata unggulan di Kota Pontianak. Mulai bermunculan kafe-kafe di pinggiran sungai, seperti yang terkenal kafe terapung sebab memanfaatkan perahu sebagai tempat wisata kuliner mengapung di atas Sungai Kapuas.

    Sebagian werga Gang Mendawai pun memanfaatkan perubahan Kampung Caping dengan mengelola bisnis jasa penyewaan kano. Sehingga wisatawan yang datang dapat tertarik bermain kano di tengah lebarmya Sungai Kapuas.

    Kampung yang dulu terkesan amburadul saat ini telah hilang berkat kerja keras Lurah Arno. Di sepanjang jalan Kampung Caping bakal kita temukan pemandangan eksotik bunga-bunga terpampang.

    Tak sekadar itu saja, Lurah Arno dengan inovasi kebijakannya membangun sebuah rumah perpustakaan dan wahana kreatif anak-anak di Kampung Caping. Lurah Arno ingin anak-anak sebagai generasi penerus kelak dapat membuat Kampung Caping lebih indah lagi karena mereka cerdas dan berjiwa kreatif.

    Lurah Arno dan Kampung Caping yang berubah telah membuktikan bahwa segala hal dapat dilakukan menjadi lebih baik jika dikerjakan dengan integritas, optmis, kebersamaan dan kesabaran.

    Itulah yang membuat Indonesia tangguh dan terus tumbuh.*

    Penulis : HAL



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.