Kholid Mustofa: Manisnya Perjuangan Kampung Coklat - Travel - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Rabu, 10 November 2021 18:41 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Kholid Mustofa: Manisnya Perjuangan Kampung Coklat

    Di era modern ini tentu sektor pariwisata sudah banyak berkembang. Kita tidak perlu bingung dan repot-repot mencari tempat wisata untuk dikunjungi. Sekarang, setiap daerah telah memaksimalkan potensinya untuk menarik para pengunjung agar datang ke daerahnya. Tentu tempat pariwisata adalah objek yang sangat strategis untuk dikembangkan. Tempat wisata sendiri bisa berupa wisata edukasi, wisata sejarah, wisata alam, dan lain-lain.

    Dibaca : 153 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tempat wisata bukan hanya berasal dari kota-kota besar, kota kecilpun jika dapat menemukan potensinya tentu dapat menjadi kota pariwisata yang strategis. Blitar contohnya, kota kecil yang terkenal sebagai kota tempat mendiangnya Bapak Proklamasi kita, Soekarno. Mungkin sampai sekarang jika mendengar kata "Blitar" pikiran orang-orang masih akan menjurus ke "Soekarno". Padahal di Blitar sendiri telah banyak sektor pariwisata yang berkembang. Entah di bagian kota maupun kabupatennya.

    Salah satunya adalah wisata edukasi Kampung Coklat. Kampung Coklat adalah suatu tempat pariwisata yang bergerak di bidang budidaya dan pengembangan hasil produksi coklat yang dikelola oleh warga setepat. Kampung Coklat sendiri terletak di desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

    Mungkin tak diduga, berdirinya Kampung Coklat berawal dari kerugian besar peternakan ayam petelur milik Kholid Mustofa, akibat hewan ternaknya terjangkit virus Flu Burung di tahun 2004. Pada saat itu, keluarga Kholid sudah memiliki kebun seluas 750 m2 yang sebelumnya sudah ditanami kakao sejak tahun 2000. Kebun itu nyaris tak terawat. Karena saat itu fokus bisnis Kholid bertumpu di peternakan ayam, kebun itu akhirnya tak banyak diurus. Tapi dari kebun itulah justru cikal bakal Kampung Coklat yang berkembang saat ini.

    Perubahan ini berawal dari penjualan hasil panen pertama kakao milik Kholid. Saat itu ia mendapatkan harga jual senilai Rp 9.000,00. Kholid bersyukur, karena masih ada hasil tani yang bisa dijual. "Yang tidak dirawat saja bisa laku segitu, apalagi jika dirawat," pikirnya.

    Kholid akhirnya memutuskan untuk mendalami budidaya kakao dengan magang di PTPN XII Blitar dan Puslit Kota Jember. Berbagai pengetahuan terkait kakao ia pelajari dengan tekun.

    Usai berguru di dua tempat itu, Kholid mulai menerapkan ilmunya. Ia membibit kakao sebanyak 75 ribu bibit kakao. Bibit kakao itu ia tawarkan ke sejumlah petani, namun banyak petani yang tak tertarik menanamnya. Karena tak banyak yang mau membeli, akhirnya Kholid membagi-bagikan bibit itu ke sejumlah petani dengan memanfaatkan areal lahan perhutani melalui lembaga masyarakat di kawasan hutan (LMDKH).

    Setelah mengikuti program magang, Kholid mengajak para petani yang menanam kakao untuk membentuk gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang diberi nama Guyub Santoso. Ada 21 petani yang bergabung di kelompok ini. Gapoktan Guyub Santoso pun mulai berdiri pada 1 Januari 2005.

     

    Terus Belajar. Terus Bekerja

    Kholid dan para petani yang tergabung dalam kelompok ini mencari informasi harga biji kakao kering di Surabaya. Ternyata harganya lumayan tinggi. Di Surabaya itu harga biji kakao kering dihargai Rp 16.000 perkilogramnya.

    Mendapat informasi itu, Kholid makin semangat untuk mengembangkan kakao. Di Gapoktan ini, hasil panen petani dihimpun lalu dikeringkan. Pada 2007, kelompok ini mendapat pesanan untuk memasok biji coklat di sebuah pabrik pengolahan biji coklat sebanyak 3,2 ton perbulan. Kakao kering itu dihargai Rp 16.000 perkilogramnya. Pesanan itu terus berkembang sampai akhirnya mereka diminta memasok 300 ton perbulannya.

    Puas? Tidak. Kholid rupanya tak puas hanya sebagai pemasok. Ia bertekad bisa mengolah sendiri biji kakao itu. Kholid pun mencoba belajar di pabrik coklat Monggo Yogyakarta dan Silver Queen.

    Hasilnya, pada 2013 Kholid mulai membuat coklat sendiri bekerjasama dengan Anggi coklat asal Blitar. Hasil produksinya diberi merk GuSant dan diproyeksikan sebagai produk unggulan Guyub Santoso. Produk hasil olahan tersebut diberi nama GuSant dan sempat dijual di bandara Surabaya, Solo, serta Jogja. Namun, penjualan cokelat di bandara-bandara tersebut belum memuaskan sehingga ditarik kembali.

    Kholid memutar otak. Dari kegagalannya tersebut dia mengubah orientasi usahanya dari produk menjadi wisata edukasi. Usahanya tersebut diberi nama Kampung Coklat. Wisata Edukasi yang berdiri sejak 17 Agustus 2014 ini memiliki harapan dengan adanya kampung wisata ini mampu memberikan pengetahuan tentang budi daya tanaman kakao hingga pengolahan cokelat.

     

    Indonesia Kiblat Coklat Dunia

    Kampung Coklat lama kelamaan menjadi objek wisata ternama. Bukan hanya wisata yang berisi pohon-pohon cokelat. Di Kampung Coklat kita juga dapat langsung terlibat dalam kegiatan penanaman hingga produksi cokelat. Para pengunjung juga dapat ikut serta dalam pembuatan kudapan yang menjadi favorit semua orang ini.

    Pengunjung dapat ikut secara langsung dalam pemilihan bibit yang baik, penanaman pohon kakao, panen, sampai produksi kakao menjadi bahan olahan cokelat yang sering kita konsumsi. Selain hamparan pohon kakao, Kampung Coklat memiliki fasilitas lengkap untuk ditawarkan.

    Saat kita pertama masuk, di lorong menuju tiket dipenuhi olah gambar yang berisi cerita awal mula Cokelat masuk ke Indonesia serta sejarah berdirinya Kampung Coklat. Lalu ada loket tempat kita membeli tiket masuk ke Kampung Coklat.

    Harga tiket masuk tempat pariwisata ini sangat terjangkau. Untuk menikmati segala fasilitas yang ada, pengunjung hanya dikenakan kocek sebesar Rp 5.000,00 saja per orang. Jika datang berombongan, pengunjung juga akan diberi diskon yaitu Rp 25.000,00 untuk 50 orang. Harga yang sangat terjangkau untuk semua kalangan masyarakat.

    Setelah itu ada lounge yang merupakan cafe terbukanya Kampung Coklat. Pengunjung dapat menikmati pemandangan sambil duduk santai di bawah rindangnya pohon kakao yang ada. Pengunjung bisa menikmati produksi hasil olahan cokelat dari Kampung Coklat di Chocolate Gallery.

    Galeri Cokelat ini tidak hanya berisi hasil produksi coklat murni. Namun juga ada olahan cokelat lainnya seperti keripik pisang cokelat, brownies, dan yang lainnya. Selain produk olahan coklat, juga tersedia makanan-makanan siap saji yang pastinya berbahan dasar cokleat. Ada jajaran outlet yang berisi makanan olahan cokelat seperti coklat mix, es krim coklat, pop corn coklat, mie coklat, dan pisang coklat. Bahkan disediakan pula berbagai souvenir seperti mug, tas, dan baju khas Kampung Coklat.

    Selain dapat ikut serta dalam budiaya cokelat, pengunjung juga dapat ikut serta dalam pembuatan cokelat itu sendiri. Salah satu fasilitas favorit di Kampung Coklat adalah Cooking Class yaitu tempat dimana pengunjung dapat mendekorasi cokelat sesuai dengan keinginan masing-masing.

    Di Kampung Coklat tidak berisi melulu hal yang berhubungan dengan coklat, juga ada terapi ikan yang memberikan manfaat seperti menenangkan pikiran dan melancarkan sirkulasi darah.

    Ketika di dalam Kampung Coklat, kita tidak perlu khawatir akan kelaparan. Di sana juga tersedia warung prasmanan yang menyediakan hidangan-hidangan jawa. Beranjak dari warung prasmanan, di sebelah barat terdapat Bale Coklat yang biasanya pada hari Sabtu, Minggu, atau tanggal merah digunakan untuk acara Live Music yang mengizinkan para pengunjung untuk menyumbangkan suaranya bika ingin tampil di tempat ini.

    Tidak lengkap rasanya jika tempat wisata tidak memiliki spot foto. Ada banyak spot di Kampung Coklat untuk membuat foto menarik. Ada tempat duduk santai yang berada di bawa rerimbunan pohon kakao, sehingga sudah bisa menjadi spot foto yang epic. Selain ada spot khusus foto yang bernama Classic Garage. Di sana terdapat mobil dan motor antik yang sangat estetik untuk dijadikan background foto.

    Di sini juga terdapat berbagai macam wahana untuk anak-anak seperti mobil-mobilan, perahu gayung, istana balon, dan banyak lagi. Jadi untuk para orang tua tidak perlu khawatir anak-anaknya akan merasa bosan berada disini.

    Fasilitas terakhir yang ada di Kampung Coklat adalah Pulo Coklat. Seperti namanya, tempat ini adalah pulau yang sekelilingnya ada air yang mengitari daratan. Di sana pengunjung dapat menikmati menu-menu yang ada di foodcourt seperti bakso, rawon, soto, dan lain-lain.

    Perjuangan Kholid tidak sia-sia, saat ini Kampung Coklat menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Blitar. Setiap harinya pengunjung Kampung Coklat mencapai 1000 orang. Baik untuk berwisata edukasi ataupun menikmati olahan cokelat. Etos kerja yang kuat, pantang menyerah dan ulet menjadi kunci keberhasilan Kholid. Baginya kerja keras ini belumlah seberapa masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk mewujudkan mimpinya yaitu menjadikan Indonesia sebagai kiblat cokelat dunia.

    Kota Blitar memang merupakan kota kecil. Namun Blitar dapat menemukan potensi daerahnya sehingga dapat menjadi kota dengan sektor pariwisata yang menjanjikan. Selain dapat mengangkat nama Blitar, sektor pariwisata tersebut juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dan menyediakan lapangan pekerjaan. Itulah mengapa semangat revolusi mental yang dimiliki Kholid Mustofa menjadi sangat penting dalam mengembangkan potensi daerah. *** 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.