x

(Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien).

Iklan

APRILDA CHAIRUN NISA 2020

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 November 2021

Minggu, 21 November 2021 08:00 WIB

Unsur Intrinsik dalam Kisah Drama Awal dan Mira

Karya sastra pada dasarnya merupakan hasil perwujudan dari kegiatan pengamatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengungkapan kembali dalam bentuk tulisan ataupun lisan. Salah satu karya sastra yang lazim ditampilkan yaitu drama karena memiliki banyak pelajaran hidup untuk memotivasi anak-anak, orang tua, maupun masyarakat luas. Dalam sebuah karya sastra tentu memiliki unsur pembangun di dalamnya diantaranya yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Karya sastra pada dasarnya merupakan hasil perwujudan dari kegiatan pengamatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengungkapan kembali dalam bentuk tulisan  ataupun lisan agar dapat menjadi suatu pelajaran hidup atau untuk sekadar memberikan hiburan bagi masyarakat luas. Karya sastra tidak terpaku pada tulisan belaka seperti puisi, pantun, novel, cerpen, naskah drama dan sebagainya yang lazim diketahui. Namun, karya sastra dapat diungkapkan dalam bentuk lain melalui lisan seperti musikalisasi puisi, pementasan drama, pementasan cerpen dan sebagainya yang dapat dinikmati oleh audience dengan model yang berbeda sehingga lebih menarik untuk didengar dan dinikmati.
Drama merupakan salah satu bagian dari karya sastra yang sangat dekat dengan individu sehari-hari dalam beraktivitas. Pada dasarnya, dalam drama tidak sedikit menceritakan tentang perjalanan pahit manisnya kehidupan seseorang melalui pengungkapan kembali dalam bentuk yang unik seperti novel, cerpen, naskah drama, puisi, musikalisasi puisi, pementasan drama dan lain-lain. Melalui pementasan drama pesan yang ingin diberikan oleh penulis lebih dapat tersampaikan oleh penonton. Hal ini dapat terjadi karena perasaan lebih dimainkan lewat peran para aktor dan aktris yang memerankan suatu adegannya. 
Drama Awal dan Mira yang disusun oleh Utuy Tatang Sontani, diterbitkan pertama kali oleh majalah Indonesia, Nomor 8 Tahun II, Agustus 1951, dan Nomor 9, Tahun 1951 yang menjadi salah satu drama favorit. Drama ini tidak sedikit dipentaskan di berbagai instansi pendidikan dan kebudayaan karena memiliki petuah yang dapat menginspirasi. Drama ini penuh makna tentang arti kehidupan, perjuangan, dan cinta kasih terhadap sesama sehingga menjadi salah satu drama yang tidak asing dikalangan pelajar untuk dipentaskan. Dengan demikian, penulis akan menguraikan unsur instrinsik pembangun drama dalam Awal dan Mira yang dapat menjadi pelajaran hidup bagi masyarakat luas tentang kisah tersebut.

Terdapat ulasan secara umum mengenai naskah drama dalam judul Awal dan Mira yang diterbitkan oleh Majalah Indonesia dengan pengarang Utuy Tatang Sontani. Gambaran yang ditampilkan dalam kisah ini menceritakan tentang liku-liku kehidupan dalam hal percintaan dan keadaan sosial ekonomi  pada pasca kemerdekaan. Terdapat dua insan yang menjadi pokok pembahasaan dalam drama ini. Insan tersebut merupakan korban dari peperangan. Dua insan tersebut bernama Awal dan Mira. Dikisahkan bahwa perempuan molek yaitu Mira dalam cerita memiliki rahasia yang masih tertutup rapat hingga pada ujung cerita sesuatu yang disembunyikannya terungkap. Dua insan dalam naskah ini  saling menaruh hati dengan perbedaan status sosial yang melatarbelakanginya. Awal sebagai sosok lelaki dari golongan menak terpikat oleh Mira  dari golongan bawah. Namun, tidak menjadikan penghalang bagi Awal untuk luput mencintai Mira. Kisah percintaannya terukir pada masa awal setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1951. Awal memiliki ketertarikan terhadap Mira karena parasnya yang elok hingga ia berusaha keras untuk memikat hati Mira. Awal berasumsi bahwa Mira merupakan sosok perempuan sempurna yang tepat untuk menjadi pendamping hidup dirinya, melengkapi segala kekurangan satu sama lain. Kemudian, Mira merupakan seorang gadis penjaga kedai kopi yang disenangi oleh para pelanggan laki-laki di kedainya. Dia disenangi karena wajahnya yang tak bosan untuk dipandang. Selain itu, Mira merupakan sosok perempuan unik karena memiliki prinsip hidup yang teguh dalam menghadapi laki-laki, terutama sebagian besar dari pelanggan kedai kopi yang menggodai. Mira tidak mudah untuk terpikat oleh rayuan pelanggan di kedainya.  Begitu pula Awal, yang memiliki kesetiaan dan keteguhan dalam mencintai dan mengagumi Mira. Awal berjuang melalui berbagai cara untuk mendapatkan empati dari Mira. Namun, begitu sulit rintangan yang dihadapi oleh Awal karena Mira tidak menghiraukan godaan atau pujian yang diungkapan oleh Awal. Mira selalu menolak permintaan Awal untuk berkencan dengannya melalui berbagai alasan yang diungkapkan. Mira merupakan sosok perempuan yang tidak mudah untuk menaruh hati karena ia menyadari dirinya tak lagi sempurna fisik sehingga ia masih setengah hati untuk jatuh cinta pada lelaki (Awal) yang belum tentu tulus sepenuh hati jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya.  Dahulu sebelum peperangan Mira merupakan seorang gadis molek yang tidak cacat fisik namun, dampak peperangan telah merubah keadaan Mira sehingga kedua kakinya hilang dan mengalami kecacatan fisik. Mira hidup dengan dibantu penopang dikedua lengannya untuk tegak berdiri. Sosok Mira bak bunga mawar yang indah namun menyakitkan bila disentuh karena duri yang terdapat padanya. Misteri tentang Mira sulit terungkap dalam kisah ini karena ia tidak pernah keluar dari kedai kopinya, hanya sebagian atas tubuh saja yang tampak oleh kasat mata dengan kesejukan untuk dipandang. Pada suatu waktu,  Awal melakukan hal diluar kendali emosinya dengan merusak kedai kopi milik Mira.  Oleh karena itu, mau tak mau Mira keluar dari tempat persembunyiannya. Setelah hal yang dilakukan Awal terhadap kedai milik Mira, ia pun menyaksikan kepahitan yang tampak mengejutkan dari diri Mira hingga pingsan di halaman kedai tersebut.  Sampai akhirnya kisah percintaan mereka andam karam dan lara. Mira menangisi keadaan dirinya yang tidak sempurna dan meratapi keadaan Awal yang terkejut sampai tak sadarkan diri.

Pertama, tema yang terdapat dalam naskah drama satu babak Awal dan Mira yang dapat saya petik yaitu tentang kisah perjalanan cinta yang penuh dengan liku-liku akibat dari dampak peperangan sehingga keberadaan cintanya berlandaskan atas kegundahan, kerumitan, dan ketegangan.
Kedua, alur yang digunakan dalam naskah drama satu babak dengan judul Awal dan Mira ini menggunakan alur maju. Dikisahkan perjalanan Awal dan Mira dari pertama sebelum peperangan tentang keutuhan kondisi fisik, sosial, ekonomi hingga keadaannya setelah peperangan tanpa adanya kilas balik hingga klimaks diketahui bahwa Mira mengalami kecacatan fisik akibat korban peperangan.
Ketiga, susunan dramatik:
a. Eksposisi : tahap perkenalan yang ditampilkan dalam naskah drama ini yaitu saat Mira diletakan sebagai seorang pemilik kedai kopi yang disenangi oleh pelanggannya karena paras yang elok rupawan sehingga memikat banyak pelanggan untuk berkunjung ke kedai kopinya.
b. Komplikasi: tahap ini merupakan tahap awal konflik menuju klimaks. Terlihat dalam teks naskah drama pada saat Awal ingin mengajak Mira berbincang keluar kedai sambil melihat cahaya bintang namun Mira menolaknya dengan alasan tak dapat meninggalkan kewajibannya sebagai tukang kopi.
c. Klimaks: tahap puncak permasalahan, terlihat dalam teks naskah ini yaitu ketika Awal ingin mengajak Mira kembali keluar dari kedai untuk kesekian kalinya. Namun, Mira tetap menolaknya dengan mengungkapkan berbagai alasan sehingga Awal kesal terhadap Mira. Dikisahkan bahwa Awal hilang kendali dengan berusaha menghancurkan kedai kopi milik Mira hingga akhirnya ia kelelahan dan pingsan saat melihat Mira yang sebenarnya.
d. Resolusi: bagian akhir cerita mengenai persoalan yang terjadi tentang kisah diselesaikan atau dibiarkan menggantung. Pada naskah ini menurut pendapat saya cerita masih menggantung karena Awal tidak sadarkan diri akibat kelelahan menghancurkan kedai kopi milik Mira dan terkejut saat melihat kondisi fisik Mira dengan kondisi yang tak sempurna sehingga cerita belum dapat dikatakan selesai. Kemungkinan masih dapat berlanjut karena kisah percintaannya belum diketahui apakah Awal dapat menerima Mira apa adanya atau justru menolak dan menghindari Mira setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Keempat, karakter tokoh dalam drama:
Mira: seorang perempuan cantik, cerdik, tegas, dan teguh atas pendirian. Meskipun ia tak sempurna lagi dalam hal fisik atau kondisi tubuhnya, namun ia tetap bersyukur dengan terus menjalani kehidupan secara ikhlas, sabar, dan tetap berusaha. Dibuktikan dengan ia bekerja menjadi penjual kopi di kedai sederhana miliknya, ia tidak menyerah untuk meminta belas kasihan dari orang lain.
Awal: seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berkecukupan pada masanya. Namun, setelah dampak peperangan kondisi berbalik pada dirinya, ia menjadi seorang lelaki sebatang kara yang tak berdaya. Kebahagiaan sekejap hilang dari hidup Awal karena ayah dan ibunya telah tiada termasuk harta benda yang dimiliki. Awal memiliki sifat yang keras kepala, setia, pintar, terdapat sifat kurang baik dari Awal yang tertuang dalam naskah yaitu angkuh dengan menganggap orang lain sepele bagai badut-badut. Namun, Awal memiliki sifat pantang menyerah yang tidak dimiliki semua insan terbukti dalam naskah ia selalu memiliki cara untuk mendapatkan hati Mira walaupun berbagai rintangan dihadapinya.
Ibu Mira: memiliki sifat yang lembut, perhatian, dan amanah, dalam kisah ini ibu Mira berperan sebagai tokoh sampingan saja.
Si Baju Biru dan Si Baju Putih: memiliki sifat nyinyir, senang bergurau, kasar, mudah tersinggung, dan gemar mencampuri urusan orang lain.
Laki-laki tua: memiliki sifat baik dan ramah, dalam kisah drama berperan sebagai tokoh sampingan saja.
Wartawan dan juru potret: memiliki sifat angkuh, dan picik.
Anak Laki-laki: memiliki sifat amanah, jujur, dan penurut.
Seorang Laki-laki muda: memiliki sifat pasrah dan tidak senang berargumen.
Si Perempuan: memiliki sifat pencemburu.
Kelima, yaitu latar yang menerangkan tentang tempat, waktu, suasana dalam kisah.
Latar tempat yang digunakan dalam kisah Awal dan Mira yaitu dikedai kopi milik Mira.
Latar waktu yang digunakan dalam kisah Awal dan Mira secara umum dilakukan dalam malam hari.
Latar suasana yang digunakan dalam kisah Awal dan Mira yaitu menegangkan, haru, dan pilu terjadi pada pasca kemerdekaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Amanat atau pesan dari kisah Awal dan Mira : 
• Berdamai dengan keadaan diri sangat penting karena jika telah mengetahui kekurangan dan kelebihan sendiri maka kita akan lebih mudah untuk mengatasinya dan akan lebih menghargai setiap usaha yang dilakukan.
• Alangkah lebih baik jika percaya pada diri sendiri dari pada mempercayai orang lain yang mungkin dapat mengecewakan.
• Mencintai seseorang dengan tulus sangat berarti karena jika ekspetasi tak sesuai dengan realita kita dapat menerimanya walaupun terdapat kecewa yang timbul.
• Jangan memaksa dan mengharapkan lebih atas sesuatu yang belum tentu dapat dilakukan oleh seseorang yang kita percayai karena jika tak sesuai harap hanya amarah, kecewa, dan sesal yang didapat.
• Keberhasilan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan karena tidak segalanya dapat diperoleh dengan mudah, cepat, dan sesuai harapan.
• Hargailah setiap usaha yang dilakukan oleh seseorang walaupun hal tersebut sederhana.

 

Tinjauan Pustaka:
Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Awal_dan_Mira, diakses pada 15 November 2021, pukul 14: 17 WIB
Awal dan Mira Drama Satu Babak, Antologi Drama Indonesia: Jilid 3:1946-1968 (Jakarta: Amanah Lontar. 2006), hlm 29-52. 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik APRILDA CHAIRUN NISA 2020 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB