Menaklukan Keegoisan Sultan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ke egoisan Sultan yang mulai terkikis

eem ratnaningsih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:40 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menaklukan Keegoisan Sultan

    Akibat keegoisannya, Sultan terancam tidak lulus. Entah setan apa yang merasukinya, Sultan tetap teguh pada pendiriannya. Berbagai pendekatan aku lakukan termasuk dengan guru produktif beserta orangtua. Namun tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya kejutan itu hadir, tepat dua hari sebelum liburan idulfirti usai, Sultan menghubungiku dan mengatakan saya siap untuk merapihkan rambut dan mengikuti uji kompetensi. Rasa senang dalam hati karena berhasil meluluhkan hatinya yang sudah membatu. Tak berhenti sampai disitu, untuk mengikuti uji kompetensi pun Sultan masih di berikan bimbingan oleh guru produktifnya agar pada hari pelaksanaan Sultan benar-benar siap.

    Dibaca : 97 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Menaklukan Ke egoisan Sultan

    “Menaklukan ke Egoisan Sultan”

    Oleh : Eem Ratnaningsih

     

    Aku seorang guru sekolah swasta sebuah SMK di ujung kota Bekasi, tepatnya SMK Albahri Kota Bekasi. Kota diujung Jawa Barat yang lebih dekat dengan Ibukota Indonesia. Sesuai dengan latar belakang pendidikanku, aku mengabdi disana sudah tujuh belas tahun. Tentunya sebagai pendidik, aku banyak mengalami berbagai hal dikelas. Mulai dari anak yang tidur dikelas, datang terlambat, tidak membawa alat tulis atau bahkan melawan guru dan masih banyak hal lain. Diawal mengajar, aku merasa terbebani dengan tingkah polah anak-anak didikku. Berjalan waktu aku mulai terbiasa dengan keadaan itu, kuncinya adalah kesabaran. Aku merasa tertantang ketika berhadapan dengan anak-anak didikku yang seperti itu. Aku bertekad harus membuat anak-anak didikku lebih baik, terutama akhlaknya.

    Pandemi juga membuat kedisiplinan anak-anak berkurang, karena tidak bertatap muka langsung dengan guru. Rambut gondrong sudah pasti. Untuk kelas XII SMK yang akan melaksanakan uji kompetensi tentunya harus bertatap muka langsung. Kerapihan rambut adalah salahsatu peraturan sebuah sekolah dimanapun. Peraturan itu berlaku untuk seluruh siswa. Namun, ada satu anak perwalianku yang menolak untuk merapihkan rambutnya.

    Dialah Sultan, seorang murid kelas XII yang sangat menguji kesabaranku dan juga guru-guru lain tak kala mengajar di kelasnya. Pembelajaran online membuat anak-anak didikku di zona nyaman dengan rambut gondrongnya. Kegiatan praktek tidak mungkin dilaksanakan secara online. Sekolah membuat model pembelajaran luring untuk mapel produktif ini karna untuk UKK (ujian kompetensi kejuruan). Tentunya luring dilaksanakan dengan prokes yang ketat dan tata tertib sekolah walaupun anak-anak tidak berseragam, namun rambut harus rapi. Tidak menjadi masalah untuk anak-anak didikku yang lain, tapi tidak untuk Sultan. Sultan memilih keluar sekolah dan tidak mendapat ijazah daripada harus memotong rambut gondrongnya.

    Akibat keegoisannya, Sultan terancam tidak lulus. Entah setan apa yang merasukinya, Sultan tetap teguh pada pendiriannya. Berbagai pendekatan aku lakukan termasuk dengan guru produktif beserta orangtua. Namun tidak membuahkan hasil. Orangtua sudah pasrah, karena Sultan memilih tidak lulus daripada merapihkan rambutnya. Padahal kelulusan sudah didepan mata. Sekolahpun tetap mengikuti aturan yang ada. Alhasil ku datangi orangtua Sultan, untuk menanyakan tentang kelanjutan Sultan. Dengan berat hati, Sultan ku kembalikan pada orangtunya.

    Walaupun Sultan sudah menyatakan keluar dari sekolah, aku masih berharap Sultan melepaskan egonya agar bisa mengikuti rangkaian kegiatan uji kompetensi. Aku tetap melakukan pendekatan terhadap Sultan. Ketika walikelas lain pasti sudah meyerah, tidak dengan ku. Masih ku berikan harapan untuk Sultan, jika Sultan bersedia melepaskan egonya, Sultan masih diijinkan untuk mengikuti kegiatan uji kompetensi. Tentu saja keputusan ini sudah ku bicarakan dengan guru produktifnya dan pimpinan sekolah.

    Sangat sulit untuk membuat Sultan lebih baik, bekerja sama dengan guru produktifnya. Usaha itu terus aku lakukan  dengan rasa sabar dalam diri dan berharap Sultan menghubungi ku. Saat itu liburan selepas idul fitri hampir usai, kabarpun tak ku peroleh

    Hingga akhirnya kejutan itu hadir, tepat dua hari sebelum liburan idulfirti usai, Sultan menghubungiku dan mengatakan saya siap untuk merapihkan rambut dan mengikuti uji kompetensi. Rasa senang dalam hati karena berhasil meluluhkan hatinya yang sudah membatu. Tak berhenti sampai disitu, untuk mengikuti uji kompetensi pun Sultan masih di berikan bimbingan oleh guru produktifnya agar pada hari pelaksanaan Sultan benar-benar siap. Pelaksanaan uji kompetensi berjalan dengan baik, karena pada dasarnya Sultan anak yang cerdas. Akhirnya, Sultan bisa mengikuti kegiatan pelepasan siswa Bersama dengan siswa-siswa yang lain.

    Pesan yang bisa diambil dari pengalaman ini adalah jangan pernah menganggap anak didik kita itu orang lain. Anggaplah mereka juga anak-anak, adik-adik atau sodara kita. Mereka adalah asset bangsa, yang harus kita rubah akhlaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Guru tidak hanya harus mampu membuat anak pandai secara akademik, namun lebih kepada akhlaknya. Kelak mereka kedepannya akan memimpin negeri ini. Tentunya pemimpin yang berakhlak mulia yang bisa membawa negara ini lebih baik lagi.

    Menaklukan Ke egoisan Sultan



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.